Kamis, April 14, 2016

The Secret Book

“The Secret Book”
Isma Az-Zaiinh
27-02-2016




“Juna bosan Mah. Juna bosan hidup dengan Mamah. Mamah tak pernah punya waktu untuk Juna. Pantas saja ayah pergi, lari dari kehidupan Mamah yang gila. Seharusnya Juna ikut bersama Ayah. Juna benci Mamah.” Teriak Juna sambil berlari menuju kamarnya. Menguncinya dan berlari ke ruang perpustakaan pribadi di kamarnya. Juna duduk di bawah rak buku memeluk lutut dan menangis.
“Juna. Maafkan Mamah. Semua yang Mamah lakukan juga untuk kamu Juna.”
Tak ada jawaban.
“Juna, buka pintunya Juna.”
Tetap tak ada jawaban.
“Miauww.” Kucing kesayangannya mengeong dan mengusap-usapkan kepalanya di kaki Juna. Seolah menghiburnya. Juna meraihnya dan menaruh kucing itu dipangkuannya. Kucing itu kembali mengeong dan melompat turun dari pangkuan Juna.
 “Ceri? Mau kemana?” Sahut Juna.
Kucing itu menengok ke arahnya dan mengeong lagi. Kemudian berjalan berbelok ke kiri. Juna mengikutinya. Kucing berhenti di ujung lorong barat perpustakaan pribadinya. Kucing itu duduk termangu seolah menunggu. Ada sebuah pintu di sana.
 “Ceri? Kau membawaku ke sini?” Tanya Juna dengan raut muka heran.
Usianya 20 tahun. Dan selama itu ia belum pernah melihat pintu itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya melangkah mendekati pintu itu. Memutar gagang pintunya. Pintu itu berderit. Gelap. Hanya ada cahaya yang menerobos dari jendela yang sedikit tersingkap tirainya. Lantainya kotor dan berdebu. Begitu juga ranjang dan semua perabot yang ada di sana. Kucing itu menerobos masuk yang diikuti oleh Juna.
“Miaauuww” Ceri mengeong di atas peti yang tergeletak di tepi ranjang.
“Kau menyuruhku membukanya?” Tanya Juna.
Juna pun membuka peti itu. Ada sebuah buku berwarna hitam. Juna meraihnya.
“The Secret Book” Juna membaca tulisan emas yang ada sampul hitam itu.
Juna membuka lembar pertama. Kosong. Hanya kertas usang yang kekuning-kuningan. Juna hendak membuka lembar berikutnya ketika tiba-tiba saja muncul tulisan di halaman yang tadinya kosong. Juna terperanjat kaget. Hampir saja ia melempar buku itu.
Ia buka perlahan matanya yang refleks terpejam. Jantungnya berdegup kencang. Ada tulisan-tulisan di lembar itu. Ia tak bisa membaca tulisan itu. Simbol-simbol aneh. Ia sampai di tengah-tengah buku itu. Kosong. Tidak, ada titik hitam. Titik itu semakin membesar. Membesar hingga memenuhi halaman buku itu.
“Aaaaaaaa...” Teriak Juna kala muncul cahaya menyilaukan dari lubang hitam yang menyedotnya masuk kedalam buku itu. Ia buka perlahan matanya. Ia tetap sama dengan posisi sebelumnya. Hanya saja, ruangan itu berubah. Bersih. Tirai jendela berwarna hijau. Seprei, bantal, cat tembok pun berwarna hijau lembut. Warna kesukaannya. Lantai marmer berkilau. Langit-langit kamar di lukis seperti langit sesungguhnya. Ada banyak bunga dalam vas di meja samping ranjangnya, di bawah jendela, dan di setiap ujung ruangan. Berwarna-warni. Indah.
Ceri melompat kepangkuan Juna. Bulunya yang hitam berubah menjadi putih bersih. Juna meraih kucingnya hendak memeluk. Kala itu ia tersadar, baju yang ia kenakan pun berubah. Menjadi gaun berwarna hijau lembut menjuntai kebawah dengan lapisan kain tipis berwarna hijau terang yang berkerlip-kerlip. Indah. Seperti gaun putri dalam dongeng. Ia berdiri. Berjalan. Memutar. Tak percaya ia mengenakan gaun seindah itu.
“Aaaaa....” Ia menjerit, lagi. Kala ia melihat pada cermin besar yang terpajang di atas meja rias di samping ranjangnya. Ia melihat gadis yang sangat cantik. Benarkah itu dia? Juna berjalan mendekati cermin. Menyentuh pipinya. Kemana perginya jerawat yang selalu memenuhi wajahnya itu? Pipinya lembut, merona, bersih dan cerah. Rambutnya? Bukan lagi kribo mengembang tetapi panjang hitam legam bergelombang. Ada mahkota kecil yang berkilau di kepalanya.
“Hwaahhh... Mimpikah?” Ucapnya sambil menepuk pipinya.
“Miiauww.” Ceri mengeong seolah menjawab pertanyaan Juna.
“Aaaaaaaa.... Ini nyataaaaa....” Teriak Juna sekali lagi. Juna berjingkrak kegirangan.
“Juna sayang, ada apa? Kenapa menjerit begitu?” Terdengar suara lembut dari balik pintu yang terbuka sedikit.
“Ma, mah?” Ucap Juna.
“Kamu panggil apa sayang? Mamah? Bukankah kau biasanya memanggil bunda? Bunda Elena” Ucap perempuan cantik di hadapan Juna.
“Eh, nggak Ma, eh, bunda.” Ucap Juna tergagap. Ia bingung hendak memanggil sosok di depannya itu dengan sebutan apa. Ia miripsekali dengan Mamahnya di dunia nyata. Namun di sini ia terlihat lebih cantik. Tidak seperti biasanya. Berantakan. Hidupnya hanya di laboratorium. Gila dengan penemuan-penemuan bodohnya.
“Ayo turun. Bunda menunggumu dari tadi untuk saparan bersama. Hari ini bunda masak menu spesial. Kesukaan kamu.”
“I, iya, Bunda.” Jawab Juna masih tergagap. Tak percaya. Bagaimana bisa ibunya berubah menjadi ramah dan lembut seperti itu. Biasanya tak seramah itu. Selalu mengabaikan Juna dan sibuk dengan dunianya sendiri. Ia berubah menjadi sangat cantik. Dengan gaun perpaduan warna biru tua dan muda. Indah.
Juna meraih ceri. Berjalan mengikuti perempuan itu.
“Huwwaahhh.” Desah Juna tercengang. Di depan kamar juna ada sebuah tangga berkilau yang menghubungkan dengan lantai dua. Sebuah ruangan yang sangat besar. Seperti aula. Di lantainya terbentang permadani yang sangat indah dan lembut. Dindingnya pun dihiasi dengan lukisan-lukisan  dan ormamen yang indah. Sungguh. Rumahnya seperti istana di negeri dongeng.
“Ayo sayang” Ucap perempuan bergaun biru itu.
Juna mempercepat langkah menuruni tangga. Menuju ruang makan. Juna lahap memakan makanan kesukaannya itu.
Usai makan perempuan itu berdiri. Mengayunkan tongkat yang ada di genggamannya. Semua peralatan makan itu terbang sendiri menuju wastafel. Bergerak-gerak seolah ada yang sedang mencuci. Setelah bersih semua perabotan itu terbang dan tertata rapi di rak.
“Mana tongkatmu sayang? Kamu tinggal di kamar?”
“A, eh, i, iya bunda.” Jawab Juna asal. Padahal ia tak tahu. Tongkat? Tongkat apa? Tongkat sihir? Benarkah ia mempunyai tongkat sihir? Seperti yang dipegang oleh perempuan itu?
“Tak apa. Bunda ambilkan.” Ucapnya sambil mengayunkan kembali tongkatnya. Dan benar. Tongkat lain muncul dari kamarnya. Terbang menuruni tangga, melewati ruangan tengah, dan sampai di depan Juna. Juna meraihnya. Bingung.
“Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan Juna.”
Juna berjalan dan diiringi oleh Ceri. Menuju taman di belakang istana. Sungguh. Indahnya tak tertandingi. Ada sebuah gazebo yang terbuat dari kaca dan kristal. Berkilau di tengah danau yang jernih airnya. Di sekeliling danau itu tumbuh bunga-bunga yang tertata dengan rapi. Berwarna-warni seperti pelangi. Kupu-kupu berterbangan dengan sayap-sayap yang indah di dedaunan pohon perdu yanga asri. Hari demi hari ia lalui di istana yang megah  itu.
Suatu saat ia sedang berada di halaman atas istana megah itu, dimana ia biasa menanti hadirnya sunrise dan sunset yang mengagumkan. Istana itu memang benar-benar megah. Berada di puncak bukit yang di sisinya adalah lautan yang indah memesona. Gerbang istana itu tampak kecil jika dilihat dari tempat ia berdiri saat ini. setiap hari ia melihat perempuan yang berpakaian sederhana berjalan menuju istana dengan di kawal oleh penjaga istana. Namun ia tak pernah melihat perempuan-perempuan itu berjalan keluar ke istana. Entah. Mungkin mereka tenaga baru yang direkrut menjadi pelayan di istana ini.
Hingga suatu hari. Kala ia sedang menunggang unicorn putihnya di taman istana. Perempuan itu memanggilnya.
“Ayo ikuti bunda. Sudah waktunya kita melakukan ritual itu sayang.” Ucap Elena sambil berjalan meninggalkan ruang makan.
“Ritual apa bunda?” Tanya Juna sambil beranjak mengikuti langkah perempuan itu.
“Kau lupa? Hari ini genap usiamu 20 tahun. Kau harus melakukan ritual ini jika ingin kecantikan dan kekuatanmu tetap abadi dan tidak pudar. Dan ritual  ini akan berlanjut setiap sebulan sekali.”
Ritual? Kecantikan? Kekuatan? Keabadian? Pertanyaan itu berkelebat di pikirannya. Hingga mereka sampai di depan pintu yang menjulang tinggi.
Perempuan itu mengayunkan kembali tongkatnya. Pintu itu berdebam. Terbuka perlahan. Di dalamnya ada sebuah kolam dengan air berwarna merah. Air? tak tampak seperti air. Entah. Darahkah?
“Masuklah ke dalamnya.” Ucap Elena.
“Ta, tapi ini apa bunda? Aku tidak mau.” Jawab Juna.
“Masuk. Kau tidak bisa menolaknya.” Jawab Elena tegas. Sorot matanya menakutkan.
“Tidak. Aku tidak mau.” Jawab Juna hendak berlari keluar ruangan itu.
Perempuan itu mengayunkan tongkatnya. Pintu megah itu berdebam dan kembali tertutup. Juna mendorong pintu itu. Percuma. Tenaganya tak kuat untuk membuka pintu kokoh itu.
“Kau harus tetap hidup Juna. Untuk meneruskan kerajaan ini.”
“Ta, tapi apa yang ada di kolam itu?”
“Itu adalah harga yang harus dibayar untuk apa yang ingin kita inginkan Juna.”
“Tidak. Bukan ini yang aku inginkan.”
“Bukankah ini impianmu? Menjadi putri cantik yang hidup di kerajaan mewah? Bukan hidup di rumah tua dengan Mamahmu yang gila itu. Gila dengan penemuan-penemuan tak bergunanya?”
Saat itu Juna teringat pada ibunya. Ia merindukan ibunya. Ia menyesal kala itu membentak ibunya dan berkata bahwa ia membencinya. Sekarang ia tak butuh kemegahan, kecantikan, dan kekuatan ini. Ia hanya butuh ibunya.
“Mamah.” Ucapnya lirih dengan derai air mata yang mulai mengalir. Ia mengayunkan tongkatnya ke arah perempuan itu. Tongkat itu mengeluarkan petir yang membuatnya terpental. Namun itu tak seberapa. Kekuatan Juna tak mampu menandingi Elena.
Elena balas mengayunkan tongkatnya. Bukan untuk melukai Juna. Melainkan mengambil tongkat yang digenggam oleh Juna. Tongkatnya terlempar jauh darinya. Juna tak bisa melawan.
“Ayo cepat.” Perempuan itu menarik paksa tangan Juna dan menyeretnya menuju kolam berisi darah itu.
Juna meronta. Ah, sayang sekali tongkatnya tak bisa ia raih. Mereka sampai di tepi kolam itu.
“Setelah ini kau takkan pernah bisa kembali ke duniamu yang dulu. Hahahhhaa...” Ucap Elena dengan tawa yang mengerikan.
Hingga tiba-tiba saja Ceri, kucing Juna, berlari menerjang wajah Elena yang membuatnya terjatuh ke dalam kolam itu. Juna langsung berlari meraih tongkatnya dan mengayunkan ke arah pintu itu. Sepertinya Elena kehilangan tongkatnya dikubangan darah itu.
“Jangan buka pintu itu Juna. Jangan!!!”
Terlambat. Pintu itu terbuka. Juna meraih Ceri dan melangkah keluar pintu itu. Ia kembali ke ruang perpustakaannya. Segera ia menutup pintu itu. Tepat saat Elena hendak sampai ke pintu. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tersengal. Ia menghela napas dan memeluk Ceri.
“Juna, buka pintunya. Maafkan Mamah sayang.” Terdengar suara dari balik pintu kamarnya. Ibunya masih di sana? Jadi berbulan-bulan ia di dunia aneh itu tak merubah sedikit pun waktu di sini? Juna segera berlari. Membuka pintu kamarnya. Dan memeluk ibunya.
“Mamah, maafkan Juna. Maafkan Juna. Juna sayang Mamah.” Ucapnya dengan derai air mata.
“Mamah juga sayang kamu Juna. Maafkan Mamah.”

Ikhlaslah untuk Mengikhlaskan

“Ikhlaslah untuk Mengikhlaskan”
Isma Az-Zaiinh
25-02-2016


...وَلَا يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا۝   (الكهف: 110)
 Shodaqallahul ‘adzim
Kututup Al Qur’an bersampul emasku. Segera kulepas mukenah dan beranjak dari atas sajadah untuk mengambil wudhu. Sebentar lagi adzan maghrib. Di pondok mewajibkan semua santri untuk ikut sholat ber jama’ah . Darul Qur’an, itu nama tempat dimana aku dan puluhan temanku yang lain berteduh. Sekadar untuk menimba ilmu dan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an.
PING!!!
 “Ara, hp kamu bunyi terus tuh dari tadi.” Sahut Ima, sahabat sekamarku. Al Hafidz, itulah nama kamarku  di lantai tiga.
‘pasti dari dia.’ Ujarku dalam hati.
“Iya, biarkan aja Ma.”
“wuiihh, tumben Ra? Habis makan apa kamu? Biasanya langsung kalang kabut lari mengejar hp kalo hp kamu bunyi.” Timpal Ima.
“Makan hati” Jawab sekenaku sambil terus berjalan menuju tempat wudhu yang terletak di lantai satu.
Kulangkahkan kaki menuruni tangga. Perlahan.
“Allah...” Desahku dalam hati dan tiba-tiba saja air mataku mengalir. Langkahku terhenti. Dan kuterduduk di salah satu anak tangga lantai dua. Menyandarkan bahu pada dinding tangga. tak terasa bulir hangat mengalir dari mata, melewati pipi dan terjatuh. Disusul dengan tetes-tetes bening yang kian menderas.
Terdengar adzan berkumandang. Segera kuseka air mata dan bergegas untuk mengambil wudhu. Tidak ingin terlambat lagi untuk jama’ah. Meski dalam hati tangisku belum reda.
Usai sholat berjama’ah kumelangkah gontai menuju aula lantai dua. Tempatku dan teman-teman menyetorkan hafalanku. Rupanya air mata ini tak rela kuseka paksa. Menggenang dipelupuk mata dan siap membuncah meski kutahan sedari tadi. Setidaknya, tahanlah. Sampai ku selesai menyetorkan hafalanku.
Benar. Air mata ini pun jatuh seiring deret kalam yang kulantunkan di hadapan ustadzahku. Aku tergugu.
“Shodaqallahul ‘adzim.” Akhirnya aku pun akhiri setoranku yang hanya dua halaman tak penuh.
“Ada apa mbak? Ada masalah?” Tanya ustadzahku.
“Nggeh ustadzah.” Jawabku singkat.
Ikhwan yang kemarin kamu ceritakan mbak?”
Nggeh ustadzah.” Jawabku dengan derai air mata yang kian deras.
“Kemarinkan sudah saya katakan. Itu hanya cobaan untuk kamu. Cobaan orang yang sedang menghafal Al Qur’an memang banyak mbak. Salah satunya ya ikhwan. Cobaan untuk mengukur seberapa kuat kamu menggenggam Al Qur’an. Memang awalnya berat mbak. Perih. Tapi jangan sampai kecintaan kita kepada Al Qur’an pudar. Apalagi hanya karena ikhwan. Sabar. Tabah. Kalau sudah waktunya ia akan didatangkan tanpa terduga oleh Allah. Pilihan terbaik-Nya untuk kamu. Lepaskanlah. Ia hanya cobaan untuk mengukur seberapa besar cintamu  pada Al Qur’an.”
Panjang lebar ustadzah menasehati diri yang sering lalai ini. Sedikit lega. Serupa oase yang menyejukan gersangnya hati. Meski derai air mata ini tetap saja tak mau berhenti.
“Nggeh, matur nuwun ustadzah.” Aku mencium tangan ustadzahku dan beringsut mundur. Kembali ke kamar.
Kuraih hp ku yang sedari pagi kuabaikan. Benar. Tak ada pesan lain selain darinya. Banyak. Seperti biasa.
Semua ini berawal dari tujuh bulan yang lalu. Aku mengenalnya saat KKN (Kuliah Kerja Nyata), salah satu program di universitasku, UIN Sunan Kalijaga. Tak pernah terucap satu kata pun dari kami kata yang melambangkan perasaan. Tapi entah kenapa perasaan ini tumbuh subur di antara kami. Dia sama sepertiku. Mempunyai prinsip untuk menjaga diri hingga halal. Tidak ingin terjebak dalam kubangan dosa, yang lebih biasa kita kenal dengan pacaran.
Mungkin karena hal ini. Kami mulai mendiskusikan banyak hal. Mulai dari ritual paganisme, tragedi Palestina dan Suriah, aliran-aliran di Indonesia, dan banyak hal lain hingga urusan hati. Ah, hal ini memang paling krusial untuk kami bahas. Tapi setidaknya kami saling menguatkan. Untuk tetap teguh menjaga prinsip. Kami pun mempunyai banyak istilah untuk mengganti istilah jomblo. Terlalu frontal katanya. Mufrad mabni, jomblo fisabilillah, jomblo lillahi ta’ala, JOSS (Jomblo Sampai Sah), jomblo barokah, tuna asmara, mbolovers, dll. Dari semua istilah itu kami lebih suka mufrad mabni, tidak banyak yang mengetahui istilah itu.
Hari demi hari hingga sampai pada hitungan bulan. Komunikasi kami semakin intensif, bahkan selepas kami undur diri dari desa tempat KKN. Saat itulah mungkin kami mulai menyadari ada hal lain yang terjadi. Perlahan. Tumbuh dengan suburnya seiring meningkatnya intensitas komunikasi. Tak dapat kujelaskan. Ini pertama kalinya aku kontak dengan makhluk asing, jenis lain dariku, ikhwan.
Hingga lambat laun hal itu mengganggu aktifitas hafalanku. Menyadarkanku bahwa langkahku keliru. Apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini aku do’akan agar diberi hidayah oleh Allah. Memperbaiki diri. Menjaga ikhtilat dengan lawan jenis. Menjaga muru’ah. Aku malu pada diriku sendiri. Salahkah? Bukan duniaku-kah? Derai air mata ini semakin menjadi. Deras tak terkendali.
“Kenapa Ra?” tanya Ima yang kujawab hanya dengan gelengan kepala sambil tetap terisak dan tergugu. Ima lebih memilih diam. Dia tahu. Dia sangat tahu keadaanku. Tiga setengah tahun kita bersama. Dalam keadaan seperti ini aku hanya ingin didiamkan. Membiarkanku sendiri. Hingga reda dengan sendirinya.
Kubuka pesan darinya. Banyak. Seperti biasa. Dia menawarkan topik pembahasan yang berat. Pertanyaan yang membuat dahiku berkerut. Tapi aku tak berselera untuk menjawabnya. Apalagi membahas topik itu, yang biasanya membuat diskusi kami semakin panjang dan susah untuk dihentikan. Seperti biasa.
‘Aku rindu diriku yang dulu.’ Balasku di bbm.
‘Diri yang bagaimana?’
‘Diriku yang tak mengenal ikhwan.’
Lama tak ada balasan. Mungkin dia pun menyadari kekeliruan kami selama ini. berpikir keras.
‘Boleh minta tolong?’ Akhirnya aku membalas.
‘Minta tolong apa?’ Balasnya.
‘Unfollow instagramku atau antum tak blokir. Silahkan pilih.’
:’(   Hanya emot itu yang ia balas.
‘Ya sudah. Demi izzah-mu aku rela. Tak unfollow. :’( ‘
‘syukron.’ Balasku.
‘afwan. :’( ‘ Balasnya.
Tak ada bahasan lain. Tak ada balasan lagi. Dan air mataku masih saja setia mengalir. Kuletakkan hp ku. Aku kembali tergugu. Banyak sekali yang kupikirkan. Apakah di sana pun merasakan hal yang sama? Mengalirkan air mata dengan alasan yang sama?
Malam kian matang. Namun mata masih enggan untuk terpejam. Tangisku tak lagi tergugu. Hanya isak yang sesekali menyesakkan kala kelebat memori tentangnya muncul.
Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk mengambil keputusan itu. Dalam iringan derai air mata dan lantunanan nada itu, ku berjuang. Berusaha menata hati kembali. Mengikhlaskan. Dan benarkah aku bisa melepasnya dengan sebenar-benarnya ikhlas? Allah Maha Tahu apa yang ada di hati ini. Bismillah. Kontak bbm-nya aku DC. Itu artinya tak ada lagi alasan untuk kami berkomunikasi. Tak ada akses untuk kami kembali berkomunikasi. Mungkin ini yang terbaik. Aku hanya ingin menjaga hati. Aku hanya ingin hati kita lebih terjaga.
Malam kian pekat. Aku masih tergugu dengan sejuta perasaan berkelebat hingga kuterjatuh ke alam mimpi. Pukul tiga dini hari aku terbangun oleh isak tangisku sendiri. Ada apa denganmu wahai diri? Tak cukupkah air mata semalam membasuh lukamu? Hingga kau pun melanjutkan desah tangis itu dalam tidurmu. Dan kini, kau terbangun dengan air mata yang kau bawa dari mimpi.
Yakinlah. Itu adalah keputusan yang terbaik. Hanya ingin mengharap ridho Allah. Untuk menjaga hati. Untuk lebih menata diri. Biarlah, cukuplah Allah yang menyertaimu dalam kisah ini. Sudahi air mata ini. belum tentu yang di sana pun mengalirkan air mata yang sama denganmu.
Aku menghela napas.
“Allah, Allah, Allah.. .” Desahku lirih.
Kuseka air mataku. Melangkah gontai ke lantai satu. Berwudhu. Kutumpahkan semua tangisku dalam sujudku. Hingga tak bersisa. Ingin kuhabiskan air mata ini. berdamai dengan diri. Benar. Aku pun mulai merasa tenang. Menghela napas panjang. Kubuka Al Qur’an bersampul emasku yang kuabaikan semalam. Dengan hati yang mulai berdamai. Kurapal kembali deret kalam-Nya. Mengeja dalam pejaman mata. Hingga adzan subuh berkumandang. Kubergegas untuk sholat berjama’ah. Menyetorkan hafalanku. Dengan hati yang lebih tenang. Sekali lagi, dengan hati yang lebih tenang.
Seminggu berlalu. Sisa-sisa memori tentangnya memang masih berkelebat. Sesekali membuat bulir bening dari pelupuk mataku  mengalir. Tak apa. Hijrah  itu tidak instan bukan. Bertahap dan perlahan. Berproses untuk berdamai dengan  hati. Menjaga hati hanya untuk yang terjaga. Karena yang menjaga pasti akan dijaga. Ikhlaslah untuk mengikhlaskan.

CINTA MEREKA BERLABUH KARENA ALLAH

“CINTA MEREKA BERLABUH KARENA ALLAH”
Isma Az-Zaiinh
25-02-2016

             Fajar belum sempurna matang. Ia duduk di teras depan kosnya. Berselimutkan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun itu tak seberapa dibandingkan dingin di hatinya yang membeku. Bersama memori yang bersusah payah ia kubur dalam-dalam.
Di tangannya  tergenggam buku sketsa miliknya yang telah menemaninya selama enam tahun terakhir. Di sana menyimpan jutaan memori dalam setiap goresan sketsanya. Memori enam tahun silam. Ia berusaha menggali kembali serpihan-serpihan memori yang tak sepenuhnya bisa ia kubur itu. Mencoba mencairkan kebekuan hatinya. Berdamai dengan pilihan terberat yang harus ia pilih.
Ia membuka lembar pertama. Ingatannya langsung terseret ke dalam memori enam tahun silam. Torehan sketsa berlatarkan pagar kayu. Sesosok gadis berbalut jilbab hitam lebar dengan pandangan mata sendu. Ada sejuta guratan kesedihan di sana. Tangan kirinya menenteng tas punggung yang terlihat berat dan tangan kanannya menggenggam erat tangan ayah Azam. Ia baru saja kehilangan kedua penopang hidupnya. Anak dari sahabat kecil  ayah Azam. Itulah kali pertama ia berjumpa dengannya. Hingga sejak itu, ia resmi menjadi adik angkat bagi Azam. Zahra namanya.
###
Dingin udara fajar masih terasa. Di ufuk timur mulai terlihat saputan mega yang tak kentara. Fajar mulai menyapa. Ia membuka lembar berikutnya. Matanya beradu pandang dengan sketsa sepasang tatapan mata yang lembut, berbinar, dan tulus. Hatinya berdegup. Ingatannya kembali terperosok pada memori itu.
            “Abang, tunggu Ara.” Sahutya berlari-lari di halaman mengejarku. Terhitung enam bulan setelah perjumpaan pertama Azam dengannya. Butuh waktu selama itu untuk mengubah mata sendunya menjadi binar lembut yang tulus. Seperti pagi ini. Dan hari-hari berikutnya.
            “Ayo Ra, kita sudah terlambat.” Sejak saat itu, setiap hari mereka berangkat ke sekolah bersama. Dia di kelas 1 SMA, sedangkan Azam setingkat di atasnya. Setahun, dua tahun, dan tiga tahun berlalu. Tiga tahun itu merangkum sejarah baru bagi mereka. Tak ada kebersamaan di antara mereka sebelumnya. Hingga takdir mempertemukan. Mengukir kisah baru dalam sudut memori, dalam bilik ruang hati yang tersembunyi. Di sana tumbuh benih yang kian mengembang. Subur. Meski belum atau mungkin takkan pernah terjelaskan di antara mereka.
Selamat malam. Mimpi indah, Ara.’ Ia menutup percakapan via sms nya.
Hening
Tak ada balasan.
‘Mungkin sudah tidur.’ Ucapnya dalam hati. Ia meletakkan hp-nya. Meraih kuas dan menggoreskan cat dalam kanvas yang sedari tadi di hadapannya. Sedari kecil ia memang sangat suka melukis. Hingga ia pun kuliah mengambil jurusan seni rupa. Jurusan yang disarankan oleh Zahra. Sosok yang diam-diam menjadi begitu penting baginya.
Ini tahun pertama ia menimba ilmu di perantauan. Namun sudah banyak karya yang dihasilkan. Entah, ini yang keberapa. Yang jelas objek lukisannya berubah. Sejak tiga tahun yang lalu, ia lebih suka melukis sepasang mata dengan berbagai ekspresi. Sendu, berbinar, tulus, berkaca-kaca, dan banyak ekspresi lain yang menggambarkan perasaan dari pemilik sepasang mata itu. Pemilik sepasang mata yang diam-diam menjelma menjadi muse, inspirasi baginya. Ia sering mengikut sertakan karyanya di pameran. Karyanya dengan objek tak lazim itu lebih banyak menarik minat pengunjung. Tak sedikit lukisannya yang terjual dengan harga yang cukup mahal.
###
Ia mendesah pelan. Lembar demi lembar ia buka kembali. Perih memang. Seperti membuka luka lama. Namun ia bertekad, berusaha berdamai. Ia sampai pada lembar kesepuluh. Goresan sketsanya. Sepasang tangan lentik yang menggenggam sebuah kado. Ingatannya kembali tenggelam pada memori silam.
Kala itu senja mulai menyapa. Ara sedang duduk di taman rumah. Membaca buku yang sejak satu jam  lalu berada dalam genggamannya. Sesekali ia menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menatap gemercik air yang mengalir di kolam ikan.
“A, Ara.” Sahut Azam tergagap dengan kedua telapak tangan yang tersembunyi di balik punggungnya.
“Eh, Bang Azam. Ada apa bang?” Jawabnya seraya menoleh. Mengalihkan pandangannya dari buku yang sedari tadi mengalihkan dunianya. Demi menjawab sapaan itu. Sapaan dari orang yang lambat laun menjadi begitu penting baginya.
Azam bergeming. Bimbang. Mana yang akan ia berikan. Kedua-duanya kah?
“Abang? Ada apa?” Sergah Ara yang bingung dengan sikap kakaknya.
“Eh, Selamat ulang tahun Ara.” Ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam kado bersampul hijau, warna kesukaan Zahra. Sementara yang ada di genggaman tangan kirinya ia selipkan kembali ke dalam sakunya. Tertahan, lagi. Entah, ini kali keberapa ia gagal memberikan apa yang ada digenggamannya itu. Selalu saja. Ia tak mampu.
“Abang..., berapa kali Ara bilang? Ara tidak suka merayakan hari ulang. Nggak penting. Bukan dunia Ara.” Ceracau Zahra.
“Aih, siapa juga yang ngerayain? Abang kan  cuma mau ngasih kado ke kamu. Kalo nggak mau ya udah.” Sambung Azam dengan berpura-pura memasang wajah jutek sambil menarik kembali uluran tangannya yang segera disambar oleh Ara.
“Eh, kan udah dikasihkan ke Ara. Mana boleh diambil lagi?” Sanggahnya sambil tertawa memamerkan gigi singsul dan lesung pipitnya.
Ah, demi melihat senyumnya itu. Siapa yang tak luruh?
###
Perih. Semakin ia membuka lembar demi lembar itu. Semakin ia merasakan perihnya. Tapi ia tak mau berhenti. Ia harus bisa berdamai. Sekali lagi. Ia buka lembar berikutnya. Siluet wajah yang mengenakan toga dengan senyuman indah itu. Senyuman yang mengisi bilik ruang separuh hatinya. Tepat, bersamaan dengan kabar yang meluluh lantakkan impiannya dan  hampir menenggelamkan kehidupannya. Memori terberat yang sangat ingin ia lupakan. Namun kali ini, ia memaksa diri untuk kembali menyelami memori itu. Mencoba berdamai.
Seminggu setelah acara wisuda Zahra di Malang. Ia telah menyelesaikan pendidikan D3nya. Matahari telah lama tergelincir. Namun ia tetap tak beranjak. Setia menggores kuasnya di atas kanvas. Ia sedang menyelesaikan lukisannya yang akan dia hadiahkan kepada Zahra. Jika selama ini ia hanya melukis bagian tak utuh, entah mata, tangan, atau sebuah senyuman. Kali ini ia melukis wajah penuh. Wajah dengan mata yang berbinar tulus dan senyum lesung pipit miliknya. Ia berencana untuk memberitahu Zahra bahwa ia adalah muse yang selama ini ia ceritakan kepadanya. Inspirator bagi karya-karyanya yang selama ini ia rahasiakan. Ia pun berencana memberikan amplop bersampul hijau itu yang berulang kali ia gagal memberikan kepadanya. Amplop berisi surat yang mengungkap semua isi hatinya, yang ia pendam enam tahun lamanya.  Hingga hp yang sedari tadi tergeletak di sampingnya berdering.
‘Abang. Apa Ayah sudah cerita ke Abang?’
‘Cerita apa Ra?’ Balasnya sambil mengernyitkan dahi.
‘Ayah menjodohkan Ara dengan anak sahabat Ayah. Bulan depan. Ara harus bagaimana?’
Bagai tersambar petir. Palet cat lukis yang ada digenggamannya terjatuh. Jika itu keputusan Ayahnya ia tak bisa apa-apa. Terlebih ia adalah kakak bagi Ara. Setidaknya itulah yang orang-orang tahu. Bagaimana bisa ia menentang keputusan ayahnya dan menjelaskan yang antara Azam dan Zahra pun tak mampu saling menjelaskan. Ia tak tahu harus membalas apa.
‘Abang?’
Hening.
‘Ara harus bagaimana bang?’ Balasnya lagi.
Azam tak tahu atau mungkin takkan pernah tahu. Bahwa di sana pun ada gelisah yang mendebarkan. Menanti penjelasan atas perasaan yang ia pendam sejak enam tahun silam. Sama sepertinya. Ia pun tak mampu menjelaskannya. Hanya diam. Membiarkannya bersemayam dan tumbuh subur di sudut hati. Tersembunyi. Tak pernah terungkapkan.
Azam tak pernah tahu. Saat ini. di sana pun ada kegundahan. Berkecamuk di hati yang meronta menuntut penjelasan. Namun sekali lagi. Hanya hati yang berbicara. Seolah kata-kata itu kabur. Hanya air mata yang berbicara. Mengalir deras seiring gejolak hati yang tak terungkap.
“Halo, Yah.” Ucap Azam tercekat di ujung telepon.
“Zam, kamu kenal Hanan kan? Teman SMA-mu dulu. Dia melamar Zahra. Bagaimana menurutmu? Kau kan kenal dekat dengan Hanan?”
Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan Ayahnya. Sekarang ia benar-benar kehilangan daya. Ia terjatuh tersungkur dengan air mata tertahan.
“Di, Dia baik Yah. Ayah lebih tahu tentang dia. Dia baik untuk Zahra.” Entah kenapa. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu? Tapi itu memang benar. Hanan adalah sosok yang baik untuk Zahra. Berpendidikan dan beragama. Selain itu ia juga hafidz. Dia jauh lebih pantas untuk Zahra. Kini, air matanya benar-benar mengalir. Tak sanggup lagi ia membendungnya.
“Baiklah kalau begitu. Pulanglah bulan depan. Hanan dan keluarganya akan datang ke rumah untuk melamar.”
Azam tak menjawab. Ia menutup teleponnya. Takut ayahnya mendengar isak tangis tertahannya. Semenjak itu ia mematikan ponselnya hingga sebulan ke depan. Sempurna. Ia menyerahkan Zahra kepada sahabatnya. Ia tergugu. Baru kali ini ia menangis untuk seorang perempuan. Baru kali ini ia merasakan sakit yang begitu dalam.
###
Saputan merah di ufuk semakin nampak. Fajar menyingsing. Azam telah sampai pada lembar terakhir buku sketsa miliknya. Tak sadar, air matanya mengalir. Luka itu benar-benar ternganga, kembali. Ia tak mampu berdamai. Ia belum bisa menerima kenyataan itu. Hingga tiba-tiba saja sahutan itu terdengar. Sahutan yang sangat ia kenal.
“Abang.”
Azam menoleh. Tak percaya. Zahra sedang berdiri di depannya. Menatap sayu kepadanya. Bagaimana bisa? Seharusnya ia ada di rumah menanti kedatangan keluarga Hanan untuk melamarnya.
“Abang kenapa tidak pulang?” Ucap Zahra yang kali ini diiringi dengan derai air mata. Bulir bening itu jatuh mengalir melewati lesung pipitnya.
“Ka, kamu kenapa ada di sini?” Balas Azam tergagap.
Sebelum Zahra menjawabnya kedua orang tua Azam muncul dari balik pagar kosnya.
“Pulanglah nak. Ayah sudah tahu semuanya.” Ayah Azam berkata sambil memberikan buku sketsa milik Azam yang tertinggal di rumah.
“Pulanglah, bukan untuk perjodohan antara Zahra dan Hanan. Tapi kamu dan Zahra.”

Azam benar-benar tak menduga. Ia memeluk Ayahnya dan tergugu. Zahra pun semakin tergugu. Menangis dalam pelukan Ibu Azam yang juga turut menangis. Bukan tangis derita yang selama ini Zahra dan Azam pendam. Tapi tangis bahagia. Akhirnya cinta dalam diam itu pun dipersatukan dalam kisah yang tak terduga. Cinta mereka berlabuh karena Allah. 

Rabu, Oktober 28, 2015

Masih Tentang Rindu

Kendal, 28 September 2015
“Masih Tentang Rindu”
Isma Az-Zaiinh

Masih tentang rindu
Kumenyukai rindu ini
Rindu yang kusampaikan dalam sunyi temaram
Dalam tengadah kedua telapak tanganku
Dalam bulir bening yang menggantung dipelupuk
Dalam buncah rasa yang tak pernah usai
Kumenyukai rindu ini
Rindu yang tertawan
Dalam jeruji penantian
Rindu yang hanya terucap
Hanya kepada Sang Pemilik Rindu
Rindu yang membuatku lebih memilih merinduMu
Menahan rindu, melawan temu
Entah,
Berapa kata yang kurangkai
Berapa tinta yang kugores
Berapa tetes air mata yang terurai
Tetap saja
Rinduku tak terkikis
Rinduku takkan habis


RINDU

Kendal, 22 Oktober 2015
“RINDU”
Isma Az-Zaiinh

Rindu mengajarkanku tentang sulitnya sebuah pilihan
Rindu mengajarkanku akan arti sebuah penyesalan
Rindu pun mengajarkanku dalamnya makna sebuah perpisahan
Perpisahan yang menghantarkanku pada gerbang kehampaan
Hilang,

Ku lebih memilih kehilanganmu karena Allah
Karena aku tak mau kehilangan Allah karenamu
Dan tidakkah kau tahu?
Kuhanya ingin menenangkan hati
Yang justru kumembuatkan kian tak tenang
Ku ingin menjaga hati,
Hanya untuk hati yang terjaga

Dan dari balik gerimis
Rindu dan benci saling bersandingan
Mencari celah kedamaian

Ah, cinta memang butuh kesedihan

Bilakah Rindu

Kendal, 8 Oktober 2015
“Bilakah Rindu”
Isma Az-Zaiinh

Bukankah spasi yang membuat bermakna pada antar kata?
Seperti jarak dan waktu yang menumbuhkan rindu
Bilakah rindu adalah kata yang paling sulit untuk kuurai?
Bilakah rindu adalah batas ruang tuk kita bertemu
Serupa malam yang mungkin terlalu mencintaiku,
Hingga ia enggan melepasku terlelap
Bilakah rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara
Maka penuhilah ia hanya padaMu
Bila rindu serupa pelangi
Membiarkanku meramu warna
Bertanya dalam hati,
Dalam gemuruh yang tak mampu kunamai
Entah warna apa yang akan kulukiskan hari ini?
Ah, sayang
Warna kita tak pernah sama

Warna kita tak bisa sama

Hidupku adalah hidupku

23 Oktober 2015
“Hidupku adalah hidupku”
Isma Az-Zaiinh

Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa
Aku tak seperti kau
Aku pun tak seperti dia
Biarkan
Biarkan aku begini
Tak usah kau peduli
Tak usah kau cercai
Aku pun ingin bahagia       
Dengan tak memikirkan apa katamu
Apa katanya
Apa kata mereka
Biarkan
Biarkan aku begini
Hidupku adalah hidupku


Jumat, Januari 23, 2015

"كن مع النّاس كأن لا النفس كن مع الله كأن لا النّاس"

"كن مع النّاس كأن لا النفس كن مع الله كأن لا النّاس"
“Jika kau sedang berhadapan dengan manusia jadilah seolah-olah tak ada nafsu dan jika kau sedang berhadapan dengan Allah jadilah seolah-olah tak ada manusia”

Kita sering dibingungkan dengan tiga pertanyaan, siapakah orang yang paling penting? Kapan waktu paling penting? Dan apa hal yang paling penting?
Orang yang paling penting adalah orang yang ada dihadapan kita. Saat kita sedang berhadapan dengan seseorang singkirkanlah apa yang menjadi nafsu kita, prioritaskan dan anggaplah penting siapa yang sedang ada dihadapan kita. Begitu juga dalam mendidik, prioritaskan apa yang menjadi orientasi siswa didik kita, pahami apa yang mereka butuhkan, layani mereka dengan setulus hati dengan mengesampingkan kepentingan kita. Jadikanlah mereka objek terpenting yang menjadi pusat perhatian kita. Masuki dunia mereka, sehingga tidak ada lagi bidang studi yang sulit, semuanya menyenangkan dan tak terlupakan seumur hidup. Matematika sulit? Itu mitos! Bahasa Inggris sulit? Juga mitos, dan lain-lain. Bukankan bidang studi itu semuanya sama, yaitu butiran-butiran informasi yang disampaikan oleh guru kepada para siswanya. Posisikan siswa didik sebagai raja, ciptakan kondisi bahwa mereka membutuhkan sebuah informasi dan guru adalah pemberi informasi. Karena pada hakikatnya profesi menjadi guru bukanlah profesi untuk mencari uang tetapi mengajar, memberi kepada yang membutuhkan.
            Waktu sebenarnya terbagi menjadi tiga, kemarin, sekarang, dan esok. Seringkali kita terjebak antara dua waktu, kita sibuk menyesali hari kemarin dan sibuk berangan-angan akan hari esok hingga kita terlupa bahwa waktu paling penting adalah sekarang. Jika kamu ingin melakukan kebaikan lakukankah sekarang jangan menunggu esok atau terpaku dengan hari kemarin karena waktu yang telah lalu takkan kembali dan hari esok masih rahasia bagi kita.
Hal terpenting adalah ada pada waktu sekarang bersama orang yang ada dihadapanmu. Dalam mengajar fokus apa yang menjadi pembahasanmu saat itu juga. Jangan sibuk memikirkan diluar apa yang mnejadi kepentingan orang yang didepanmu. Berikanlah apa yang siswa butuhkan karena mereka cenderung lebih tertarik dengan hal yang ingin ia tahu dari pada apa yang kita sampaikan namun mereka tidak ingin tahu. Apa artinya, artinya kita itu dianjurkan untuk profesional, profesional dalam mengajar bahkan dalam hal apa pun. Totalitas dalam mendidik seseorang, berikan yang terbaik, berikan apa yang paling mereka butuhkan, berikan apa yang mereka ingin tahu. Dengan ini mereka lebih mudah menangkap ilmu yang kita sampaikan dan lebih membekas. Imu tersebut tidak hanya sampai ke telinga dan mata namun sampai ke hati sehingga mereka bisa langsung mengaplikasikannya.
Pengajar yang baik memiliki rasa cinta yang dalam dan kaya. Dia tidak hanya cinta pada siswa, pada anak-anak, pada mata pelajaran yang diajarnya, tapi secara mendasar dia cinta pada apa yang dia sedang dan senantiasa lakukan sebagai guru/pengajar. Dari cintanya pada peran yang dijalaninya dan keyakinan akan dampak dari kiprahnya terhadap segmen kehidupan siswa di masa sekolah, guru yang baik menjadi lebih konsisten dalam mencontohkan perilaku yang baik kepada siswanya.
Allah Swt dalam al-Quran menegaskan bahwa apa saja yang kita katakan harus kita amalkan. Demi mendidik fitrah manusia, Allah Swt memperkenalkan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan terbaik. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Allah Swt menyebut pribadi Rasulullah Saw sebagai teladan terbaik agar manusia terdorong untuk mengikuti perilaku beliau. Nabi Saw sendiri menyebut tujuan pengutusannya untuk mendidik akhlak manusia. Beliau bersabda, "Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Karang

3 November 2014
“Karang”
Isma Az-Zaiinh

Sajakku telah hilang
Bersama tempias buih yang memecah sunyi
Bergeming,
Dalam buncah pasang
Menghantam,
Perih dan membuatku kian ringkih

                   Sajakku telah pudar
                   Jatuh meluruh terseret batas tak bermuara
                   Butir tetes keteguhan sia-sia
                   Lebur dalam jelaga samudera

Kataku kian mengambang
Menemukannya terputus ruang hampa
Pendar tak bergelombang
Tertahan,
Dan hilang

Kataku tersekat aral
Seriring mega yang tak lagi merona
Horison semu tak bisa menipu
Hanya pekat malam,
Membuatnya terlihat bersatu

Sajakku menemui batas asa
Biarlah bergeming
Meski debur itu menghantam bertalu-talu
Mengikis luka,
Menambah lara,
                   Kau akan menemukannya bergeming,
                   Dan akan tetap bergeming
                   Sungguh
                   Hanya kepada yang teguhlah,

                   Ia akan luruh...

Rabu, Mei 28, 2014

Bilakah Hari Ini Adalah Hari Terakhir Untukku


27 Mei 2014

“Bilakah hari ini menjadi hari terakhir untukku”
Isma Az-Zaiinh

Bilakah hari ini menjadi hari terakhir untukku
Kutersesat dalam hamparan padang pasir
Kerontang
Jiwa ini menemui batas muara
Hanya berbekal setetes iman
Yang entah mampukah kupertahankan
Dalam bulir peluh yang kian meluruh
          Ya Rabb...
          Bilakah muara ini adalah pijakan terakhirku
          Jangan tinggalkan aku
          Jangan berpaling memandangku
          Meski mata ini sangatlah lalai memandangmu
Bilakah nafas ini adalah hembusan terakhir untukku
Maka izinkanlah dalam hembusan itu aku menyebut namamu
Bilakah kedipan mata ini adalah yang terakhir untukku
Maka jangan biarkan kuterpejam dengan tanpa menatap keindahan-Mu
          Ya Rabb...
          Jiwa ini terlalu sekarat
          Tak mampu lagi hidup dalam kekacauan fana
          Mungkinkah kau merindukanku?
          Sebagaimana aku sangat merinduka-Mu
          Bawalah aku...

          Bawalah aku...
 

Blogger news

Blogroll

About