Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 18, 2016

Dua Pintu Satu Nama

“Dua Pintu Satu Nama”
Isma Az-Zaiinh
060616

Dua pintu satu nama,
Bukan karena apa-apa
Hanya saja kita memang sama (?)
Lalu,
Untuk apa sama kalau kau membeda?
Entahlah,
Sejauh mana kumemandang sama
Tetap saja kau  ingin berbeda
Cukup,
Biarlah kugali lebih dalam hati
Mungkin saja, ku akan menemukan ruang baru
Tempat untuk segala yang sama
Tak lagi beda
Tak lagi tak sama
Atau (?)
Mungkin saja, tidak
Anggap saja
Itu ikhtiar terakhir untukku membuat sama
Sekali, lagi,
Torehan akhir

Dalam persamaan yang berbeda.. .

Sayap yang Patah

“Sayap yang Patah”
Isma Az-Zaiinh
060616

Entah kapan masanya
Kau akan menemukanku terjatuh
Dengan sisa angan yang luruh
Satu,
Dua,
Entah berapa kali kumencoba untuk bangkit
Tertatih,
Kau takkan pernah menemukanku kembali
Entah kapan masanya
Kau akan menemukanku tersimpuh
Dengan sisa cita yang kian merapuh
Terseret kembali dalam dengung itu
Pilihan terberat,
Bara dikedua tanganku
Entah kapan masanya
Kau akan menemukanku berurai peluh
Dengan kelebat rayu, caci, dan keluh
Memeluk erat jiwa yang terkulai
Entah kemana ia akan bersemayam
Menebar angan tak sampai
Jangan,
Jangan lagi ada maki
Meski itu dalam bisu
Tak tau kah?
Bisa jadi hanya karena kau yang tak tahu
Entah kapan masanya
Kau akan menemukanku dengan sayap yang patah
Entah,

Petuah mana yang sudi membangunkanku untuk kembali melangkah (?)

Kamis, April 14, 2016

Diri ini, Rindu

13 April 2016
“Diri ini, Rindu”
Isma Az-Zaiinh

Di dalam sulbi-sulbi yang ringkih
Terpancang paku yang kukuh
Menyibak tirai kesunyian
Ku bersimpuh
Meredam  rindu,
 yang kian menderu
Di dalam sulbi-sulbi yang ringkih
Ku semayamkan cinta,
Memendam rindu untukku
Meski berabad jarak memisahkan kita
Cinta dan rindu ini,
Tak pernah lekang termakan zaman
Dan bilakah engkau mengizinkan,
Pada diri yang papa dan hina ini
Tuk mengecup ta’dzim tangan muliamu
Mengecap secercah nūr sucimu
Wahai engkau yang hidup di hatiku,
Jika hujan tak dapat kuraih
Derai gerimis pun cukup untuk mengobati rinduku padamu.. .
Ya Rasulallah,

Diri ini, rindu.. .

Mentari di Ufuk Timur

9 Desember 2015
“Mentari di Ufuk Timur”
Isma Az-Zaiinh

Entah,
Ini kali ke berapa kubercengkerama denganmu
Menanti,
Dari pekatnya temaram
Menuju terangnya fajar
Mentari di ufuk timur
Hadirmu menenangkan
Penuh senyum kehangatan
Menawarkan harapan baru
Pada jiwa yang bimbang,
Dengan hati yang lebih tenang
Mengajakku untuk menghapus segala perih masa lalu
Mengajakku untuk menepis luka bayangan semu
Mengajakku untuk mengubur dalam-dalam duka di kalbu
Menjanjikan lembar baru bagiku
Menyadarkanku,
Akan ada banyak ruang untukku menoreh jejak langkahku
Mengecap manis kalam indah-Mu
Dalam desah dan simpulku
Dengan sepenuh harapan
Menjadi lebih baik,
Lagi,
Dan lebih baik lagi
Hanya karena-Mu,
Oleh-Mu,
Dan untukku-Mu

Allah, Allah, Allah.. .

Ombak dan Karang

28 Desember 2015
“Ombak dan Karang”
Isma Az-Zaiinh

Kuharap aku adalah ombak itu
Begitu ikhlas
Membubung tinggi terbawa angin,
Dan kemudian terhempas
Deburnya tak selalu menjejak luka
Menebar buih-buih tak kentara
Dan kau adalah karang itu
Kalam-kalam suci-Nya
Yang perlahan kukikis
Merapal dalam pejaman
Melebur dalam hati dan ingatan
Mengeja,
Ayat demi ayat indah-Mu
Dalam hening
Dalam himmah yang tak mampu kujelaskan
Kuharap aku adalah ombak itu
Teguh,
Istiqomah,
Menaklukan kokohnya karang
Tunggu aku di batas waktu
Kan kuterus mengejarmu
Dalam perih,
Dalam rintih,
Demi menjaga bait-bait mulia-Mu
Allah.. .
Izinkanlah kumenggenggammu,
Hingga terpatri dalam relung hati
Pikiran,
Dan ingatan,
Izinkanlah kumencintaimu,
Lebih lama,
Dari selama-lamanya.. .


Bayangan

28 Desember 2015
“Bayangan”
Isma Az-Zaiinh

Sadarkan aku,
Bahwa kau hanyalah bayangan
Melukiskan warna yang indah 
Memesona,
Birunya langit berpadu dengan  hijaunya bumi,
Sadarkan aku,
Bahwa kau hanyalah bayangan itu
Yang tercipta hanya dalam ketenangan
Keheningan,
Entah apa jadinya jika cermin tu beriak,
Bahkan bergelombang
Sadarkankan aku,
Akan dunia kita yang berbeda
Tak ada pintu untuk kita membuka bersama
Lepaskan aku dari perangkap semu
Jika kita tahu hal itu akan berakhir buruk,
Sanggupkah kita menghentikannya saat masih terasa indah?
Kau,

Bayangan.. .

Rabu, Oktober 28, 2015

Masih Tentang Rindu

Kendal, 28 September 2015
“Masih Tentang Rindu”
Isma Az-Zaiinh

Masih tentang rindu
Kumenyukai rindu ini
Rindu yang kusampaikan dalam sunyi temaram
Dalam tengadah kedua telapak tanganku
Dalam bulir bening yang menggantung dipelupuk
Dalam buncah rasa yang tak pernah usai
Kumenyukai rindu ini
Rindu yang tertawan
Dalam jeruji penantian
Rindu yang hanya terucap
Hanya kepada Sang Pemilik Rindu
Rindu yang membuatku lebih memilih merinduMu
Menahan rindu, melawan temu
Entah,
Berapa kata yang kurangkai
Berapa tinta yang kugores
Berapa tetes air mata yang terurai
Tetap saja
Rinduku tak terkikis
Rinduku takkan habis


RINDU

Kendal, 22 Oktober 2015
“RINDU”
Isma Az-Zaiinh

Rindu mengajarkanku tentang sulitnya sebuah pilihan
Rindu mengajarkanku akan arti sebuah penyesalan
Rindu pun mengajarkanku dalamnya makna sebuah perpisahan
Perpisahan yang menghantarkanku pada gerbang kehampaan
Hilang,

Ku lebih memilih kehilanganmu karena Allah
Karena aku tak mau kehilangan Allah karenamu
Dan tidakkah kau tahu?
Kuhanya ingin menenangkan hati
Yang justru kumembuatkan kian tak tenang
Ku ingin menjaga hati,
Hanya untuk hati yang terjaga

Dan dari balik gerimis
Rindu dan benci saling bersandingan
Mencari celah kedamaian

Ah, cinta memang butuh kesedihan

Bilakah Rindu

Kendal, 8 Oktober 2015
“Bilakah Rindu”
Isma Az-Zaiinh

Bukankah spasi yang membuat bermakna pada antar kata?
Seperti jarak dan waktu yang menumbuhkan rindu
Bilakah rindu adalah kata yang paling sulit untuk kuurai?
Bilakah rindu adalah batas ruang tuk kita bertemu
Serupa malam yang mungkin terlalu mencintaiku,
Hingga ia enggan melepasku terlelap
Bilakah rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara
Maka penuhilah ia hanya padaMu
Bila rindu serupa pelangi
Membiarkanku meramu warna
Bertanya dalam hati,
Dalam gemuruh yang tak mampu kunamai
Entah warna apa yang akan kulukiskan hari ini?
Ah, sayang
Warna kita tak pernah sama

Warna kita tak bisa sama

Hidupku adalah hidupku

23 Oktober 2015
“Hidupku adalah hidupku”
Isma Az-Zaiinh

Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa
Aku tak seperti kau
Aku pun tak seperti dia
Biarkan
Biarkan aku begini
Tak usah kau peduli
Tak usah kau cercai
Aku pun ingin bahagia       
Dengan tak memikirkan apa katamu
Apa katanya
Apa kata mereka
Biarkan
Biarkan aku begini
Hidupku adalah hidupku


Jumat, Januari 23, 2015

Karang

3 November 2014
“Karang”
Isma Az-Zaiinh

Sajakku telah hilang
Bersama tempias buih yang memecah sunyi
Bergeming,
Dalam buncah pasang
Menghantam,
Perih dan membuatku kian ringkih

                   Sajakku telah pudar
                   Jatuh meluruh terseret batas tak bermuara
                   Butir tetes keteguhan sia-sia
                   Lebur dalam jelaga samudera

Kataku kian mengambang
Menemukannya terputus ruang hampa
Pendar tak bergelombang
Tertahan,
Dan hilang

Kataku tersekat aral
Seriring mega yang tak lagi merona
Horison semu tak bisa menipu
Hanya pekat malam,
Membuatnya terlihat bersatu

Sajakku menemui batas asa
Biarlah bergeming
Meski debur itu menghantam bertalu-talu
Mengikis luka,
Menambah lara,
                   Kau akan menemukannya bergeming,
                   Dan akan tetap bergeming
                   Sungguh
                   Hanya kepada yang teguhlah,

                   Ia akan luruh...

Rabu, Mei 28, 2014

Bilakah Hari Ini Adalah Hari Terakhir Untukku


27 Mei 2014

“Bilakah hari ini menjadi hari terakhir untukku”
Isma Az-Zaiinh

Bilakah hari ini menjadi hari terakhir untukku
Kutersesat dalam hamparan padang pasir
Kerontang
Jiwa ini menemui batas muara
Hanya berbekal setetes iman
Yang entah mampukah kupertahankan
Dalam bulir peluh yang kian meluruh
          Ya Rabb...
          Bilakah muara ini adalah pijakan terakhirku
          Jangan tinggalkan aku
          Jangan berpaling memandangku
          Meski mata ini sangatlah lalai memandangmu
Bilakah nafas ini adalah hembusan terakhir untukku
Maka izinkanlah dalam hembusan itu aku menyebut namamu
Bilakah kedipan mata ini adalah yang terakhir untukku
Maka jangan biarkan kuterpejam dengan tanpa menatap keindahan-Mu
          Ya Rabb...
          Jiwa ini terlalu sekarat
          Tak mampu lagi hidup dalam kekacauan fana
          Mungkinkah kau merindukanku?
          Sebagaimana aku sangat merinduka-Mu
          Bawalah aku...

          Bawalah aku...

Minggu, Maret 09, 2014

Kau-Aku


2 Maret 2014

“Kau-Aku”
Isma Az-Zaiinh

Pernah kuterperangkap benderang
Mentari pun luput dari ingatan
Lama kuterpenjara pekat malam
Hingga kudamba terang pencahayaan
Tenggelam
Selaksa kerlip tak kuhiraukan
Karena kutahu,
Semakin pekat malam kumendekati siang
Tak serupa elegi lalu
Hadir lebih awal dari kata fajar

          Katakan kau adalah cahaya
          Hingga tiba-tiba saja telah bersemayan di dada
          Katakan kau adalah ombak samudera
          Yang kulari dan datang padamu jua
          Katakan kau adalah apa pun saja
          Lisan ini tak habis memuja

Aku adalah sinar silau pancaranmu
Bayang-bayang lembut mentarimu
Pekat pasrah terangmu
Aku adalah lekuk garis hurufmu
Rangkaian kata maknamu
Titik-titik kalimatmu
K-A-U
Aku,
Mencintaimu...

Hadirmu


21 Februari 2014
“Hadirmu”
Isma Az-Zaiinh


Bilakah hadirmu serupa mentari
Semakin mendekat ku akan terbakar

Bilakah hadirmu serupa pelangi
Harus bersua gerimis sebelum kumemandang

Bilakah hadirmu serupa malam
Yang dalam pekatnya kunanti siang

Bilakah hadirmu serupa embun
Hanya dalam dingin kumampu berjumpa

Bilakah hadirmu serupa bintang
Berharap meski tak pernah tergapai

Bilakah hadirmu serupa cahaya
Menuntun dalam gelapku

Bilakah hadirmu serupa angin
Berkelebat tanpa mampu kulihat

Bilakah hadirmu serupa udara
Kau ada disetiap helaan nafas. . .

Bilakah itu hadirmu?

Jumat, Januari 24, 2014

”Sajakmu”

12 November 2013
”Sajakmu”

Rintik-rintik hujan turun membasahi bumi..
Termenung kumemikirkan titik-titik kekecewaanku terhadapmu..
Rembulan yang kutunggu tak kunjung datang
Kerana terhalang oleh awan hujan
Begitu pula dengan kau
Yang tak kunjung datang,
Kerana terhalang oleh rasa cintamu terhadapnya..
Sakit hati ini saat mengetahui kau mencintainya
Lalu apa arti perhatian yang kau berikan padaku selama ini??
Jika akhirnya kau memilih DIA dibandingkanku?
Apakah aku harus bersikap seperti lilin
Yang rela dirinya hancur asalkan orang yang ia cintai merasa bahagia kerana cahayanya?
Namun,
Sayangnya aku hanya lelaki biasa,

Yang sensitif terhadap CINTA.

Sajak yang Hilang


22 Januari 2014
“Sajak yang Hilang”
Isma Az-Zaiinh

Jika airmata memang bisa tepiskan duka
Maka menangislah..
Jika kata memang bisa menghapuskan luka
Maka bicaralah..

Jika malam hening memang bisa mengusir gundah
maka tahajjudlah..
Jika ternyata memang tak ada yg bisa mendiamkan gelisah jiwa
maka berdoalah..

Pernahkah engkau mendapatkan pujian dari seorang yang buta,
yang sama sekali tak pernah melihatmu..

Pernahkah engkau mendengar kata dari seorang bisu,
yang tak mampu untuk menyampaikannya lewat lisan..

Pernahkah engkau merasakan
belaian kasih sayang dari seorang cacat, yang bahkan tak mampu menyentuhmu dengan jemarinya..

Pernahkah engkau mendapat
pesan gembira
dari orang yang engkau abaikan,
yang bahkan selalu memikirkanmu..

tak semua bisa dilihat dari kesempurnaan pandangan,
penglihatan,
dan sentuhan

Aku mendengarmu tidak dengan telinga,
yang tak terdengar bila jauh dengan jarak,
aku mendengarmu dengan rasa dalam pejaman mata..

Aku tak melihatmu dengan kedua mata ini,
yang takkan bisa melihat jika terhalang sejauh mata memandang,
aku melihatmu dalam ingatan,
dalam kenangan,
dan dalam doa yang ku lantunkan pada_Nya..

Y
a Rabb..
Jagalah dia selalu untukku bila penjagaanku tidak sampai kepadanya..


 

Blogger news

Blogroll

About