Kamis, Desember 19, 2013

BIOGRAFI SINGKAT HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN...


BIOGRAFI SINGKAT HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN...

Alhamdulillah Beliaulah guru yg kita cintai beliau lah khalifah majelis rasulullah...



Habib Ahmad bin Novel, putra kedua Habib
Novel bin Salim Jindan,adik kandung dari Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan
Beliau lahir di Jakarta 12
Januari 1982. Sejak kecil ia dididik ketat di
lingkungan agama oleh keluarganya.
Pertama dididik oleh sang ayah, yakni Habib
Novel bin Salim Jindan yang saat itu tinggal
di Bungur, Senen Jakarta Pusat. Ia
mengawali pendidikan dasar di SD Islam
Meranti, Kalibaru Timur, Bungur, Jakarta
Pusat. Ia juga belajar diniyah pada sebuah
madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur
Baiti di Bungur.
Saat kelas enam SD atau tepatnya tahun
1992, Habib Novel pindah ke Larangan,
Ciledug Tangerang dan mulai mendirikan
Ponpes Al-Facriyyah, Ciledug. Habib Ahmad
saat itu masih tinggal beberapa bulan
bersama keluarganya di Bungur, Jakarta
Pusat, karena ujian akhir nasional tinggal
sebulan lagi. Lepas lulus sekolah dasar pada
tahun 1992, ia melanjutkan ke tingkat
Tsanawiyah di Madrasah Tsanawiyah
Darunnajah, Petukangan, Jakarta Selatan,
tapi hanya menginjak kelas dua.
Sebagaimana kakak atau adik-adiknya ia
juga sering diajak abahnya yakni Habib
Novel dalam berdakwah. Sang ayah saat itu
dikenal sebagai "Singa Podium", yang gaya
pidatonya sangat memikat. Suaranya saat
itu masih lantang, menggema dan membuat
betah jamaah untuk mendengar orasi-
orasinya."Abah saya, kalau berangkat
berdakwah, sering mengajak anak-
anaknya…," ujarnya mengenang.
Saat menginjak kelas dua, saat itu umurnya
baru 13 tahun, ia melanjutkan belajar ke
Hadramaut. Ketika itu Ustadz Abdullah
Abdun, Malang mendapat jatah untuk
mengirim santri-santri belajar ke Darul
Musthofa, Hadramaut Yaman. Kebetulan,
Ustadz Abdullah Abdun mempunyai kedekatan
khusus dengan Habib Novel bin Salim bin
Jindan, sehingga diikutsertakanlah Habib
Ahmad belajar ke Hadramaut. Ia berangkat
bersama Ustadz Haikal Al-Amiri (Palu),
Ustadz Saleh Abdun (Malang), Ustadz Salim
Nur (Malang) dan lain-lain.
Beruntung, ia bisa berangkat ke Hadramaut
dan berguru dengan seorang pendidik dan
orator ulung seperti Habib Umar bin
Muhammad Al-Hafidz. Habib Umar adalah
sosok pendakwah yang tak kenal lelah dan
juga pengasuh Pondok Pesantren Darul
Musthafa yang amat terkenal melahirkan
dai-dai tangguh hingga saat ini.
Tahun 1990-an Republik Yaman baru
merdeka dari penjajahan komunis dan
oerang saudara. Saat komunis masih
berkuasa, lembaga-lembaga pendidikan
agama Islam di tutup. Mulai dari pesantren,
ribath hingga majelis taklim. Termasuk
ribath Tarim, yang saat itu diasuh oleh Habib
Hasan bin Abdullah Asy-Syatiri. Bahkan,
banyak ulama yang dibunuh.
Baru tahun 1990-1n Habib Umar mulai
mendidik santri-santri yang berdatangan ke
ribath yang beliau asuh. Beliau juga gigih
berdakwah ke luar pesantren. Habib Umar
mempunyai program khusus untuk
menghidupkan lagi pesantren-pesantren
yang ditutup saat komunis menguasai negeri
itu.
Sesampainya Habib Ahmad di TArim sekitar
tahun 1994, saat itu Habib Umar bin Hafidz
sudah menggunakan masjid Maula Aidid
sebagai tempat belajar santri-santri.
Sedangkan para santri tinggal di samping
bangunan masjid. Pesantren Darul Musthafa
pada waktu belum dibangun. Di Tarim,
majelis-majelis ta’lim memang ada dan
santri-santri juga menghadirinya. "Kami
hadir dalam pengajian-pengajian umum dan
belajar di majelis-majelis yang ada di
Tarim," ujarnya.
Menurutnya, Habib Umar adalah guru yang
istimewa. "Kami semua berhubungan bukan
seperti murid dengan guru, tapi seperti bapak
dengan anak. Beliau tidak pernah marah
secara pribadi," katanya. Sekalipun santri-
santri ada yang nakal, karena masih anak-
anak.
Ketika mulai berdatangan ke Hadramaut,
oleh Habib Umar santri-santri dari Indonesia
sering diajak untuk berdakwah."Kami tidak
duduk di Tarim saja. Ada suatu Rubath di
kota Syihr yang menjadi perhatian Habib
Umar berdakwah….Tujuannya supaya hidup
lagi kegiatan keagamaan di daerah
tersebut."
Habib Umar juga membangun rubath di kota
Hami’. Dengan langkah seperti itu, Habib
Umar memancing santri-santri local untuk
berpartisipasi, lalu mendidik mereka agar
mampu mengelola dakwah secara mandiri di
tengah masyarakat. Sekarang di Yaman
bermunculan pesantren-pesantren baru.
Lemah lembut
Komunis hengkang dari Yaman dengan
meninggalkan banyak luka. Dan mereka
masih meningalkan permasalahan lain,
misalnya paham Wahabi dan aliran-aliran lain
yang masih marak saat itu. "Saat itu Habib
Umar tidak gampang dalam berdakwah.
Orang-orang Wahabi banyak memegang
senjata api."
Pernah suatu ketika Habib Umar berdakwah
dalam suatu acara Maulid di sebuah masjid
yang dijaga ketat dengan senjata api oleh
orang-orang Wahabi. Akhirnya beliau memilih
masjid untuk berdakwah.
Setelah Habib Ahmad belajar kurang lebih
empat tahun, Habib Umar mengirimnya ke
sebuah tempat untuk berdakwah. Program
dakwah itu memang lumayan lama sekitar
dua bulan. Setiap kelompk terdiri dari
delapan orang. "Semua berkesan. Karena
selama empat tahun di peantren kesannya
tertutup dari dunia luar. Saat itu saya di
kirim ke daerah Dauan, sebuah tempat
bersejarah. Di tempat itu terlahir banyak
‘auliya Allah, seperti Habib Muhammad Al-
Muhdor, Syaikh Ali Baros, Habib Muhammad
bin Thohir Al-Hadad dan lain-lain.
Habib Umar mengirimnya untuk berdakwah ke
tempat itu selama dua bulan. Itu salah satu
pengalaman yang sangat berkesan. Di Dau’an
ia belajar mandiri. "Keadaan sangat susah.
Di tempat itu, rombongan saya berhadapan
dengan orang-orang Wahabi. Yang jelas,
caranya tidak main keras. Kami sampaikan
kepada masyarakat. Kalau mau ikut
silahkan. Kalau tidak, terserah mereka."
Orang-orang Wahabi dan orang-orang yang
mempunyai pemahaman lain dari Ahlussunah
wal-Jama’ah lainnya, menurutnya terbagi
menjadi dua kelompk."Ada kelompok yang
mengikuti paham tersebut karena tidak
mengerti, dan itu mereka mayoritas," kata
Habib Ahmad.
Solusi yang ditawarkan untuk menghadapi
mereka adalah dengan pendekatan yang
lemah lembut."Sampaikan kepada mereka
nasehat dengan lemah lembut dan dalil yang
bisa diterima dengan akal mereka. Mereka
kebanyakan tidak tahu dalilnya, karena
mereka hanya mengikuti pendapat orang
lain, dan itu mayoritas. Jadi, berikan
dalilnya, insya Allah mereka terima pendapat
kita," katanya.
Sedangkan kelompok kedua adalah yang lebih
sulit. " Sebagian di antara mereka adalah
gembong dari paham ini. Mereka sebenarnya
tahu benar dan salah. Tapi permasalahannya,
mereka seperti itu didasari bukan karena
kebodohan, karena benci dan dengki,"
ujarnya.
Stelah belajar sekitar 6 tahun, pada tahun
2000 ia pulang ke Jakarta, kemudian
menikah. Begitu pulang, ia langsung
mengajar di Ponpes Al-Facriyyah,
Tangerang, apalagi saat itu Habib Novel
sedang sakit-sakitan. Namun, walau kondisi
sang ayah dalam keadaan sakit, Habib Novel
tetap mengajak putra-putranya untuk
berdakwah ke tempat-tempat yang ada di
Jakarta." Seakan-akan beliau mengatakan
pada jama’ah, ‘Inilah penerus dakwah
saya’."
Sang ayahanda, Habib Novel bin Salim bin
Jindan wafat pada hari Jum’at (3 Juni 2005/
24 Rabiul Akhir 1926 H, pukul 17.00 WIB dan
dimakamkan keesokan harinya di kompleks
Ponpes Al-Fachriyyah, Ciledug-Tangerang.
Setelah wafatnya sang Ayah, ia banyak
mendampingi sang kakak yakni Habib Jindan
mengasuh pondok pensantren Al-Fachriyyah
Ciledug. Selain mengajar dan berdakwah, ia
juga rajin menulis dan karyanya banyak
disebarkan ke umat. Beberapa tulisan yang
beredar diantaranya adalah Mutiara yang
Indah tentang Zakat Fitrah, Amalan bulan
Rajab,. Namun juga ada beberapa kita yang
tidak beredar dengan luas (terbatas) masih
dalam bahasa Arab, seperti Manakin Habib
Salim bin Ahmad bin Jindan, Sifatul ‘Ulama
Akhirah dan lain-lain.
dan mulai hari ini beliau resmi di pilih oleh Habib Umar Alhafidz,sebagai penerus da'wahnya Habibana Munzir di Majelis yg kita cintai ini
اَللَّهُمَّ صَلِِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَىآلِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Pujian untuk Rasulullah SAW


Pujian untuk Rasulullah SAW

Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau Berkata : “ dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika sayyidina Hassan bin Tsabit membaca qasidah/nasyidah didepan kubah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid An Nabawi, maka ketika itu datanglah sayyidina Umar bin Khattab RA dan berkata : “wahai Hassan bin Tsabit, tidak adakah tempat lain untuk engkau membaca qasidah selain di tempat ini?”, maka sayyidina Hassan berkata: “Dahulu aku telah membaca qasidah di tempat ini dan ketika itu ada orang yang lebih mulia daripada engkau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakanku dengan berkata : “semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga bibirmu”, yang disaat itu ada Abu Hurairah ada bersama mereka ditanya oleh sayyidina Umar bin Khattab Ra : “Benarkah demikian wahai Abu Hurairah?” , maka Abu Hurairah menjawab dan membenarkan hal itu.

Dan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pun masih banyak orang yang membaca qasidah di makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga abad ke-18 ini, jangankan membaca qasidah di makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke makam beliau pun dilarang.

Dahulu di masa seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya. Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membaca qasidah di makam beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya, setelah selesai membaca qasidah orang itu menemui syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya, beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah Al Munawwarah hingga sampai di rumah orang tersebut, sesampainya di dalam rumah orang tersebut memegangi syaikh Farazdaq dan berkata: “sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan kubawa engkau kesini untuk kugunting lidahmu”, maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata : “ambillah potongan lidahmu ini, dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad”,

maka Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdoa : “Ya Allah jika shahib makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji nabi-Mu, namun jika Engkau dan nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula”, beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata : “aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu”,

lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula, dan ketika syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya, beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu, dan sesampainya di rumah anak muda itu beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu beliau datangi lalu lidah beliau dipotong, anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata : “engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera”.

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala : “Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada : “mereka jadilah kalian kera yang hina”. ( QS. Al A’raf : 166 )

Kemudian anak muda itu berkata: “jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja”, maka syaikh Farazdaq berkata : “Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya”, dan seketika itu pun Allah subhanahu wata’ala mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang suka memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pujian kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan oleh cinta dan banyak memuji kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berarti pula banyak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan semakin banyak orang yang berdzikir, bershalawat dan memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalla, maka Allah akan semakin menjauhkan kita, wilayah kita dan wilayah-wilayah sekitar dari musibah dan digantikan dengan curahan rahmat dan anugerah dari Allah subhanahu wata’ala. “

CINTA RASULULLAH SAW KEPADA UMMATNYA


CINTA RASULULLAH SAW KEPADA UMMATNYA 

(Bacaan yang dapat menggetarkan Sanubarimu untuk semakin cinta kepada Rasulullah SAW)

Rasulullah SAW adalah idolaku dan idola kalian, kekasihku dan kekasih kita semua sungguh beruntunglah orang yang mencintai Beliau SAW, sebagaiamana Sabda Beliau SAW : “Seseorang bersama orang yang dicintai. “

Demikian Riwayat Shahih Bukhari. Dan Saudara/i ku , hadits ini memanggil semua jiwa baik ia seorang shalih ataupun pendosa besar untuk mau tidaknya mereka bersama Sayyidina Muhammad SAW, maukah kita bersama Rasulullah SAW? Hadits ini telah membuka gerbang luas agar kita bersama Muhamamad Rasulullah SAW.Cintailah Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW.

Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH Azza Wa Jalla. Sungguh manusa yang paling sempurna, manusia yang paling indah untuk dipanut dan Beliau SAW sangat ramah bahkan kepada para orang-orang yang tidak beriman kepada ALLAH , dan sangat menyayangi ummatnya yang pendosa agar mau kembali kepada Pintu kasih Sayang ALLAH , dan amat lembut kepada ummatnya yang beriman dan semakin lembut karena tidak ada Manusia yang lebih lembut dari Sayyidina Muhammad SAW.

Berkata Abu Hurairah R.a ketika sedang duduk memandang Wajah Sang Nabi SAW seraya berkata : “Ya Rasulullah… jika kami memandang wajahmu terangkat jiwa kami Kekhusyuan. “

Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH, Rasulullah Saw bersabda , diriwayatkan oleh Imam Buhkari dalam kitabnya Adabul Mufrad : “Maukah kalian ku beritau orang-orang yang mulia diantara kalian? Orang yang jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian ingat kepada ALLAH dan berdzikir kepada ALLAH. “

Merekalah para Shalihin, jika para Shalihin saja ketika kita lihat wajahnya membuat kita ingat kepada ALLAH , lebih-lebih jika kita melihat Wajah pemimpin para Shalihin yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

Berkata Anas bin Malik R.a didalam Sahih Bukhari : “Belum pernah kami melihat Wajah yang lebih menakjubkan dari wajah Sayyidina Muhammad SAW. “

Demikianlah Perkataan Anas bin Malik, maka kita memahami bahwa tidak ada wajah yang lebih patut dicintai dari wajah Sayyidina Muhammad SAW, yaitu wajah yang ketika para Sahabat R.a melihat Wajah beliau SAW semakin bertambah khusyulah mereka karena memandang Sayyidina Muhammad SAW.

Beliau SAW adalah Makhluk ciptaan ALLAH yang memang ALLAH ciptakan sebagai Makhluk yang paling berkasih Sayang dari semua ciptaan-Nya , sebagai mana firman-Nya : “Sungguh engkau (Nabi SAW) berada pada akhlak yang Agung“ (Q.S Al Qalam : 4)

Juga ALLAH Azza Wa Jalla berfirman bahwa Rasulullah SAW ada “SIRAJAN MUNIRA / Pelita yang terang benderang. “.

Demikian bukti cinta ALLAH kepada para hamba-hamba Nya , memang di dunia ini kita tidak dapat melihat ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana kasih sayang-Nya ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana lembut-Nya SWT. Namun ALLAH tidak mau mengecewakan para hamba-hamba Nya maka Dia SWT menciptakan Sayyidina Muhammad SAW untuk membuktikan bahwa ALLAH Maha berkasih Sayang , dan bahwa ALLAH Maha berlemah lembut.

Dengan menciptakan Sayyidina Muhammad SAW , seakan-akan ALLAH melihatkan kasih sayang-Nya, melihatkan kelembutan-Nya kepada seluruh hamba-hamba Nya, namun kalian patut memahami bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang berlemah lembut dan berkasih sayang , dan jangan kalian mengira bahwa Nabi Muhammad SAW sama dengan ALLAH AZZA WA JALLA , namun kalian harus memahami bahwa ketika kalian melihat Sirah atau sejarah kehidupan Nabi SAW yang sangat berlemah kembut kepada siapa saja, (MAKA DISITU ADA PEMBBUKTIAAN LANGSUNG DARI ALLAH) dan kalian dapat mengambil kesimpulan bahwa “Ciptaan-Nya ALLAH Azza Wa Jalla saja sudah seperti itu (maksudnya Rasulullah SAW) lebih-lebih cinta dan Kasih saying ALLAH kepada seluruh hamba-hamba Nya“

Rasulullah SAW diciptakana ALLAH sebagai manusia pilihan dan kelemah lembutan Rasulullah SAW itu belum seberapa dibanding dengan Kelembutan Sang Maha Lembut yaitu ALLAH, namun ALLAH perlihatkan kelembutan-Nya dengan memperlihatkan kepada Aku dan Kalian dari kelemah lembutan sosok terpilih yang dicptakan ALLAH yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

Saudara/i ku yang di Muliakan ALLAH , ketahuilah bahwa Rasulullah SAW sejak dahulu sudah merindukan mu , sebagaimana Sabda beliau SAW : “aku merindukan saudara-saudaraku“ siapa mereka yang dimaksud Rasulullah SAW? Sebagaimana Riwayat Shahih Muslim “HUMUL LADIIN YA'ISYUUNA BA'DI , YAWWADDU AHADUHUM LAW RA'ANI BI AHLIHI WAMAALIHI“ yaitu mereka yang hidup setelah aku wafat sangat ingin melihat wajahku dari segal-galanya. Yang dimaksud Rasulullah SAW yaitu kalian wahai yang dirindukan semulia-mulia Makhluk yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

Teori-Teori Ilmu Jiwa dan Ilmu Bahasa

Teori-Teori Ilmu Jiwa dan Ilmu Bahasa

            Jika dilihat dari segi teori ilmu jiwa, Mazhab Behavoirisme banyak diterapkan pada pendidikan jenjang SD dab SMP. Dalam hal ini guru sangat dominan karena dialah yang memilih bentuk stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman, memberikan penguatan dan menentukan jenisnya, dan dia pula yang memilih buku, materi, dan cara mengajarkannya, bahkan menentukan bentuk jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada pembelajar. Mazhab ini juga tidak mempedulikan psikologi siswa dan hanya terpaku pada hasil pembelajaran. Teori ini meyakini bahwa lingkungan berpengaruh, yaitu dengan terus menerus memberikan materi-materi, kegiatan latihan, dan drill akan menghasilkan kemampuan yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya. Memang cukup tepat menerapkan mazhab ini pada jenjang SD dan SMP karena mental mereka lebih cocok untuk menerima mazhab ini. Namun, hal ini akan membuat siswa menjadi pasif karena siswa hanya akan merespon jika ada stimulus. Akhirnya siswa pun tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri.
            Sedangkan Mazhab Kognitive seringkali diterapkan di pendidikan jenjang SMA dan Universitas. Pada jenjang SMA mulai memperhatikan kondisi psikologi siswa, tidak lagi berpusat pada eksternal namun internalnya. Berbeda dengan mazhab Behavoirisme, mazhab ini lebih mengutamakan pada proses pembelajaran bukan hasil pembelajaran. Pada mazhab ini pembelajar dituntut untuk aktif sehingga tercipta interaksi lingkungan. Walaupun keaktifan pembelajar cenderung lebih terlihat pada jejang Universitas daripada SMA, tetapi setidaknya pada jenjang SMA sudah mulai membiasakan siswanya aktif sehingga siswa pun dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Bisa dikatakan pada mazhab ini tidak lagi berpusat pada guru namun berpusat pada siswa. Mazhab ini memang sesuai digunakan pada jenjang SMA dan Universitas karena mental mereka sudah cukup untuk mengeksplorasikan diri dan berperan aktif dalam pembelajaran.
            Adapun Mazhab Nativisme atau Humanisme jarang digunakan. Hal ini mungkin karena mazhab ini berpandangan bahwa karakter atau watak siswa sudah terbentuk atau ditentukan sejak lahir sejak lahir. Sehingga lingkungan kurang berpengaruh dalam pembelajaran.
            Jika dilihat dari segi teori-teori ilmu bahasa, aliran Struktural yang dipelopori Swiss Ferdinand de Saussure cenderung lebih banyak digunakan di jenjang SD dan SMP. Dalam aliran ini gurulah yang menjadi peran utama. Guru memberikan latihan yang kemudian dihafal dan diulang secara intensif. Aliran ini juga lebih memberikan perhatian besar kepada wujud luar dari bahasa, yaitu: pengucapan yang fasih, ejaan dan pelafalan yang akurat, struktur yang benar, dan sebagainya. Aliran ini sejalan dengan mazhab Behaviorisme dan menjadikan Audiolingual sebagai landasan dalam pengajaran bahasa.

            Sedangkan aliran Generatif-Transformasi lebih sering digunakan dalam proses pembelajaran pada jenjang SMA dan Universitas. Dalam aliran ini kemampuan berbahasa tidak hanya diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan, melainkan beranggapan bahwa kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif. Sehingga pembelajar tidak hanya berpaku pada apa yang diberikan guru namun pembelajar bisa berkreatif dalam mengasah kemampuan berbahasanya. Pembelajar juga bisa mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan hanya sekedar menirukan dan menghafal. Aliran ini sangat tepat diterapkan pada jenjang SMA dan Universitas, karena itulah aliran ini lebih banyak diterapkan pada jenjang tersebut. Pembelajar tingkat SMA dan Universitas lebih memungkinkan untuk mengkreatifkan diri. Dapat dikatakan aliran ini sejalur atau sejalan dengan mazhab Kognitif yang lebih memusatkan pada internal bukan eksternalnya. Aliran ini lebih memandang kondisi psikologi pembelajar sehingga pembelajar dapat mengembangkan potensinya dengan baik.

MAKALAH METODE PENGAJARAN BAHASA LANGSUNG













MAKALAH
METODE PENGAJARAN BAHASA LANGSUNG
Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu:Zukhaira, S.S., M.Pd
Nailur Rahmawati, S. Pd, M.Pd


Disusun oleh :
Rifqi Hakim Aisyul Fakih (2303412002)
Hilda Gressilia (2303412005)
Sumitro (2303412007)
Rozaenah (2303412012)
Barokah (2303412016)
Eko Cahyo Susilo(2303412052)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013

MOTTO

١. من جدّ و جد 
٢. من صبر ظفر
٣. وما اللّذّة إلاّ بعد التّعب
٤. جرّب و لا حظ تكن عارفا
٥. أطلب العلم من المهد إلى اللّحد
٦. العقل السّليم في الجسم السّليم
٧. من يزرع يحصد
٨. قل الحقّ ولو كان مرّا
٩. خير النّاس أحسنهم خلقا وأنفعهم للنّاس





















KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله الّذي علّم بالقلم. علّم الإنسان ما لم يعلم. أشهد أن لا إله إلاّ الله الّذي فضّل بني آدم بالعلم والعمل على جميع العالم.  و أشهد أنّ سيّدنا ومولانا محمّدا عبده رسوله سيّد العرب والعجم اللّهمّ صلّ على سيّدنا محمّد و على آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم. وسلّم تسليما كثيرا. أمّا بعد.
            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan inayahnya, sehingga tersusunlah makalah yang kami beri judul: “METODE PENGAJARAN BAHASA ARAB LANGSUNG”.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini banyak sekali rintangan yang kami hadapi. Untuk itu dalam kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam mengatasi berbagai rintangan tersebut, antara lain :
1.      Kedua orang tua yang memberikan bantuan baik moril maupun material.
2.      Ibu Zukhaira, S.S., M.Pd, dan Ibu Nailur Rahmawati, S. Pd, selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Pengajaran Bahasa Arab yang telah memberikan saran serta dorongan kepada penulis.
3.      Teman-teman semua yang senantiasa memberikan motivasi kepada penulis.
4.      Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itulah dengan tangan terbuka kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata, kami selaku penulis mengucapkan terima kasih.


Semarang, 19November 2013










DAFTAR ISI

MOTTO......................................................................................................................                        1
KATA PENGANTAR...............................................................................................                        2
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3
BAB I  PENDAHULUAN.........................................................................................                       4
A.  Latar Belakang Masalah................................................................................................... 4
B.   Rumusan Masalah............................................................................................................ 5
C.   Tujuan Penulisan Makalah .................................................................................              6
D.Manfaat Penulisan Makalah............................................................................................... 6
BAB II  PEMBAHASAN..................................................................................................... 7
A.   Pengertian Metode Langsung......................................................................................... 7
B. Karakteristik Metode Langsung...................................................................................... 12
C.  Langkah-langkah Penyajian Metode langsung............................................................... 18
D.   Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung............................................................. 18
BAB III  PENUTUP........................................................................................................... 24
A.Simpulan........................................................................................................................... 24
D.Saran................................................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 25










BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Metode ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dengan metode gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di masyarakat. Menjelang pertengahan abad ke-19, hubungan antar Negara di Eropa mulai terbuka sehingga menyebabkan adanya kebutuhan untuk bias saling berkomunikasi aktif diantara mereka. Untuk itu mereka membutuhkan cara baru belajar bahasa kedua,  karena metode yang ada dirasa tidak praktis dan tidak efektif. Maka pendekatan-pendekatan baru mulai dicetuskan oleh para ahli bahasa di Jerman, Inggris, Prancis, dan lain-lain yang membuka jalan bagi lahirnya metode baru yang disebut Metode Langsung. Diantara para ahli itu adalah Francois Gouin (1880-1992) seorang guru bahasa Latin di Prancis yang mengembangkan metode berdasarkan pegnamatannya pada penggunaan bahasa ibu oleh anak-anak. Metode ini memperoleh popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika. Pada waktu yang sama, metode ini juga digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam di Asia termasuk Indonesia.
Metode ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian. Oleh karena itu pelajar harus dibiasakan berpikir dengan BT (Bahasa Target) dan penggunaan bahasa ibu pelajar dihindari sama sekali.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian metode langsung?
2.      Apa saja karakteristik metode langsung?
3.      Apa saja langkah-langkah penyajian dalam metode langsung?
4.      Apa saja kekurangan dan kelebihan metode langsung?

C.      Tujuan Pembahasan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
1.         Mengetahui dan mendeskripsikanapa pengertian metode langsung.
2.         Mengetahui dan mendeskripsikanapa saja karakteristik metode langsung.
3.         Mengetahui dan mendeskripsikanapa saja langkah-langkah penyajian dalam metode langsung.
4.         Mengetahui dan mendeskripsikanapa saja kekurangan dan kelebihan metode langsung.

D.      Manfaat Penulisan
Secara teoretis makalah ini berguna untuk mendeskripsikan Metode Pengajaran Bahasa Langsung. Secara praktis makalah ini bermanfaat bagi:
1.         Penulis, sebagai sarana menambah pengetahuan mengenai Metode Pengajaran Bahasa Langsungdan hal lain yang berkaitan;
2.         Pembaca, sebagai media informasi berkaitan dengan Metode Pengajaran Bahasa Langsungdan hal lain yang berkaitan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Metode Langsung
Metode Langsung (Mubasyaroh) merupakan metode yang memprioritaskan pada ketrampilan berbicara. Metode ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya (gramatika tarjamah), yang dipandang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Seruan-seruan yang menuntut adanya perubahan-perubahan mendasar dalam cara pembelajaran bahasa itu mendapatkan momentumnya pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika, serta digunakan baik di Negara Arab maupun di negara-negara Islam Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
Sebagai suatu reaksiproaktif terhadap  metode gramatika tarjamah, maka karakteristik dari metode ini adalah: a) memberi prioritas yang tinggi pada ketrampilan berbicara sebagai ganti ketrampilan membaca, menulis dan menerjemah, b) basis pembelajarannya terfokus pada teknik demontrastif; menirukan dan menghafal langsung ddimana murid-murid merngulang kata, kalimat, dan percakapan melalui asosiasi, konteks dan definisi yang diajarkan se ara induktif yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan, c) menghindari penggunaan bahasa ibu pelajar, d) kemampuan komunikasi lisan dilatih secara cepat melalui Tanya jawab yang terencana dalam pola interaktif yang bervariasi, e) interaksi antara guru dan murid terjalin secara aktif,
Jadi, pada dasarnya metode ini berangkat dari satu asumsi dasar, bahwa pembelajaran bahasa asing tidaklah jauh berbeda dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi keseharian, diman tahapannya bermula dari mendengarkan kata-kata, menirukan secara lisan, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian. Metode ini berorientasi pada pembentukan ketrampilan pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tatabahasa yang fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya hingga mirip penutur aslinya.
Pembagian Metode Langsung (Mubasyaroh)
Ada tiga metode yang sangat lekat dengan metode langsung (Mubasyaroh), bahkan merupakan bagian yang berkesinambungan dalam metode tersebut. Meski pada prinsipnya ketiga metode tersebut tidak ada perbedaan. Namun ketiganya memiliki titik tekan yang dalam penggunaan bahasa asing yang dipelajari secara langsung dalam proses belajar mengajar, maka penggunaan bahasa ibu atau kedua sedapat mungkin dihindari. Menurut Al-Naqhoh ketiga metode itu adalah:
1.         Metode Psikologi (al-thoriqoh al-sikulujiyyah)
Disebut metode psikologi, karena proses pembelajarannya didasarkan atas pengamatan perkembangan mental dan asosiasi pikiran.  Beberapa cirri yang melekat pada metode ini antara lain:
a)        Menggunaan benda, diagram, gambar & chart untuk menciptakan gambaran mental dan menghubungkannya dengan kata-kata yang diucapkannya.
b)        Kosa kata dikelompokkan kedalam ungkapan-ungkapoan pendek yang berhubungan dengan satu masalah yang masih satu pelajaran. Beberapa pelajaran dikumpulkan dalam satu bab sedangkan kumpulan beberapa bab membentuk satu seri.
c)        penalaran mula-mula diberikan secara lisan, kemudian diberikan bagian demi bagian berdasarkan materi dalam buku.
d)       Jika sangat diperlukan, bahasa pelajar dapat digunakan.
e)        Pelajaran mengarang baru diperkenalkan setelah diberikan beberapa pelajaran terlebih dahulu.
2.         Metode fonetik (al-thoriqoh al-shautiyyah)
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan (al-thoriqoh al-nuthqiyyah). Disebut metode fonetik karena materi pelajaran ditulis berdasarkan fonetik, bukan ejaan seperti yang lazim digunakan. Dalam prakteknya metode ini mengawali proses pembelajaran dengan latihan pendengaran terhadap bunyi. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan pengucapan kata, kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang. Selanjutnya kalimat-kalimat itu dirangkaikan menjadi sebuah percakapan atau cerita. Gramatika diajarkan secara induktif, sedangkan mengarang terdiri atas penampilan kembali tentang apa yang didengar dan dibaca.
3.         Metode Alamiah (al-thoriqoh al-thobi’iyyah)
Metode ini merupakan kelanjutan dari metode fonetik. Disebut metode alamiah karena belajar bahasa asing disamakan seperti bahasa ibu. Belajar bahasa ibu biasanya didasarkan pada prilaku atau kebiasaan sehari-hari yang berlangsung secara alamiah. Karena itu terkadang metode alamiah disebut sebagai metode kebiasaan (al-thoriqoh al-‘adiyyah). Di dalam belajar bahasa ibu seorang anak mulai menyerap bahasa dengan menyimak dan meniru bahasa yang digunakan oleh orang dewasa, lalu ia mengucapkan apa yang telah disemak secara berulang-ulang. Di dalam prakteknya ada beberapa hal yang membedakannya dengan metode lain, diantaranya:
a)        Mendasarkan teori pada kebiasaan anak-anak dalam mempelajari bahasa ibunya.
b)        Langkah pertama pengajaran adalah bunyi (tanpa buku) dilanjutkan kemudian oleh pengenalan kata dan kalimat secara lisan yang dulengkapi oleh pengenalan benda dan gambar.
c)        Kata dan istilah baru, diajarkan melalui kata-kata yang telah dikenal sebelumnya.
d)       Gramatika digunakan untuk membetulkan kesalahan-kesalahan.
e)        Penggunaan kamus untuk membantu mengingat kata-kata yang sudah dilupakan.

B.       Karakteristik
Karakteristik Metode Langsung ini antara lain adalah sebagai berikut:
1)   Tujuan utamanya ialah penguasaan BT secara lisan agar pelajar bias berkomunikasi dalam BT.
2)   Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat.
3)   Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan.
4)   Kata-kata kongkret diajarkan melalui demonstrasi, peragaan benda langsung dan gambar.
5)   Kemampuan komunikasi lisan dilatihkan secara cepat melalui Tanya jawab yang terencana dalam pola interaksi yang bervariasi.
6)   Kemampuan berbicara dan menyimak kedua-duanya dilatihkan.
7)   Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan stimulus berupa contoh ucapan, peragaan, dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan, memeragakan, dan sebagainya.
8)   Ketepatan pelafalan dan tata bahasa ditekankan.
9)   BT digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar sama sekali dielakkan.

C.      Langkah-Langkah Penyajian
Langkah-langkah penyajian dalam metode ini bisa bervariasi, namun secara umum adalah sebagai berikut:
1)   Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atua gambar benda itu, memeragakan sebuah gerakan atau mimic wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
2)   Latihan berikutnya berupa Tanya jawab dengan kata Tanya “ma, hal, ayna” dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan.
3)   Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
4)   Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.

D.      Segi Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan
1)      Pelajar terampil menyimak dan berbicara
2)      Pelajar menguasai pelafalan dengan baik seperti atau mendekati penutur asli.
3)      Pelajar mengetahui banyak kosa kata dan pemakaiannya dalam kalimat.
4)      Pelajar memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi karena dilatih berfikir dalam BT sehingga tidak terhambat oleh proses penerjemahan.
5)      Pelajar menguasai tatabahasa secara fungsional tidak sekedar teoritis, artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.

Kelemahan
2)   Memerlukan guru yang ideal dari segi keterampilan berbahasa dan kelincahan dalam penyajian pelajaran
3)   Tidak bisa dilaksanakan dalam kelas besar.
4)   Tidak diperbolehkannya pemakaian bahasa ibu pelajar bisa berakibat terbuangnya waktu untuk menjelaskan makna satu kata abstrak, dan terjadinya kesalahan persepsi atau penafsiran pada siswa.
5)   Model latihan menirukan dan menghafalkan kalimat-kalimat yang kadang kala tidak bermakna atau tidak realistis karena tidak kontekstual, bisa membosankan bagi orang dewasa.
6)   Metode ini juga dikritik oleh para ahli dari segi kelemahan dasar teoritisnya, yang menyamakan pemerolehan bahasa pertama dengan bahasa kedua/asing.



BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa,Metode langsung adalah metode yang memprioritaskan pada keterampilan berbicara. Metode ini muncul karena ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya, metode gramatika tarjamah, yang dipandang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Seruan-seruan yang menuntut adanya perubahan-perubahan mendasar dalam cara pembelajaran bahasa itu mendapatkan momentumnya pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika, serta digunakan baik di negara arab maupun di negara-negara Islam di Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
Metode ini berangkat dari asumsi dasar, bahwa pembelajaran bahasa asing tidaklah jauh berbeda dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi keseharian, di mana tahapnnya bermula dari mendengarkan kata-kata, menirukan secara lisan, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian,. Metode ini berorientasi pada pembentukan ketrampilan pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa yang fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya, bak penutur asli.



DAFTAR PUSTAKA


Hermawan,Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Effendy, Ahmad Fuad. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang:Misykat
Zaenuddin, Radliyah.  2005. Metodologi & Strategi Alternatif PEMBELAJARAN BAHASA ARAB. Yogyakarta: PUSTAKA RIHLAH GROUP
http://yanti-nurmaulidah.blogspot.com/2010/10/metode-langsung-dalam-pengajaran-bahasa.html



[1] Effendy, Ahmad Fuad, 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Misykat. Malang., hal. 45
[2] Ibid, hal. 46
[3] Zaenuddin, Radliyah. 2005. Metodologi & Strategi Alternatif PEMBELAJARAN BAHASA ARAB.
Yogyakarta: PUSTAKA RIHLAH GROUP. Cet. 1 hlm. 39-40
[4]Hermawan,Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Hlm. 179-180
[5] Effendy, Ahmad Fuad. Op. Cit. hal. 46-47
[6] Ibid, hal. 47-48
[7] Ibid, 48-49


 

Blogger news

Blogroll

About