Tampilkan postingan dengan label BANI ALAWIYYIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANI ALAWIYYIN. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 09, 2014

Al-Habib Qasim bin Husain al-Atthas (khadim Guru Mulia ketika di Darul Musthafa), menceritakan kejadian yang beliau dengar langsung dari lisan al-Habib Muhammad bin Umar bin Hafidz (putera Guru Mulia).



Al-Habib Qasim bin Husain al-Atthas (khadim Guru Mulia ketika di Darul Musthafa), menceritakan kejadian yang beliau dengar langsung dari lisan al-Habib Muhammad bin Umar bin Hafidz (putera Guru Mulia).

Satu waktu, kurang lebih sebulanan yang lalu, murid al-Habib Umar bin Hafidz di Bruthonia Inggris membuat acara semacam seminar dalam satu gedung berkapasitas 3.000 peserta yang kesemuanya dari kalangan profesor, doctor dan kalangan terpelajar namun kesemuanya beragama non muslim.

Seperti biasa sebelum berceramah Guru Mulia terlebih dahulu membaca Ratib al-Atthas, Maulid adh-Dhiyaul Lami’ yang telah ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Di saat mahallul qiyam (berdiri di tengah pembacaan maulid Nabi Saw.), semua ikut berdiri dan hampir semua peserta menangis.

Selesai pembecaan maulid Nabi Saw., Guru Mulia al-Habib Umr bin Hafidz pun memberikan ceramah. Akhirnya ceramah usai dan Guru Mulia keluar dari gedung hendak menuju ke mobil.

Sesampainya di mobil, ternyata murid al-Habib Umar dari pihak crew event tersebut meminta beliau untuk masuk kembali karena katanya jamaah di dalam gedung masih belum puas mendengar ceramah Guru Mulia. Akhirnya Guru Mulia balik lagi ke gedung tersebut.

Setelah beliau naik panggung, beliau bertanya ke seluruh peserta seminar: “Kenapa kalian memanggilku kembali?”

Jawab peserta: “Kami ingin masuk Islam, mengucapkan syahadat melaluimu.”

Subhanallah, tidak kurang dari 2.900 peserta masuk Islam.

Senin, Februari 24, 2014

SEPUTAR BELAJAR KEPADA JIN DAN MEMILIKI KHADAM JIN



SEPUTAR BELAJAR KEPADA JIN DAN MEMILIKI KHADAM JIN 

Soal : Habibana, bolehkah kita belajar ilmu kepada jin?

Jawab Habibana Munzir Al Musawa alaihi rahmatullah :

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz pernah didatangi seseorang, orang itu minta izin untuk belajar pada jin yang sangat alim dan luas ilmunya. Jin itu murid Imam Abdullah Al Haddad (shohiburratib). Jin itu sangat shalih dan luas ilmunya.
 

Maka Guru Mulia tertawa seraya berkata:
 

"setinggi tinggi derajat keshalihan jin, tak akan menyaingi derajat para shalihin dari manusia ummat Muhammad saw."

Pernah pula ditanyakan pada beliau tentang dzikir dan doa yang bisa mendatangkan kekuatan pasukan malaikat. Di antara kalimat dalam doa itu adalah memanggil pasukan para malaikat langit agar turun membantu, memerintah mereka membawa pasukan langit berserta guntur dan halilintarnya, agar turun ke bumi membantu segala hajat sang pendoa.
 

Maka Guru Mulia tertawa seraya berkata:
 

"kekuatan adalah milik Allah, malaikat dan jin hanya hamba Allah dan tak lebih dari itu."

Kemudian saya pun selalu mengandalkan keagungan Allah swt, dan saya rasakan seluruh jin dan penguasa alam ghaib pun tunduk.

Soal: Bagaimana hukum mengenai orang yang memiliki jin khadam?

Jawab Habibana Munzir Al Musawa:

Mengenai khadam/jin, syariah tidak membenarkan memperbudaknya dan tidak pula membenarkan memuliakannya. Namun syariah membolehkan persahabatan dengan jin bahkan pernikahan dengan jin pun diperbolehkan dalam 4 madzhab.
 

Namun pernikahan dengan jin ini terdapat syarat yg rumit dan sangat pelik dan panjang lebar. Tentunya tak perlulah kita melakukannya karena pasangan hidup dari keturunan Nabi Adam as afdhal.

Mengenai persahabatan dengan jin boleh saja selama tidak ada padanya persyaratan yg bertentangan dengan syariat.

Jin ada yang muslim dan ada yang kafir, silahkan rujuk tafsir surat Al-Jin.

Jin mempunyai sifat sombong yang besar jika ia dimuliakan maka akan semakin sombong. Jika kita bersahabat atau ia menjadi murid kita saja tanpa meminta bantuan apa apa itu lebih baik.

Ada sebagian ulama kita yg bersahabat dengan jin yg shalih dan mau berbakti pada manusia. Jin yg mampu mengobati misalnya, maka ia membantu gurunya atau temannya dari kalangan manusia untuk mengobati orang sakit.

Atau mengusir jin lain yg jahat dan menyurupi manusia, atau sihir dari jin lainnya. Namun hal ini berbahaya karena jika ia berbuat dhalim dalam membantu kita maka kita terkena dosanya karena diperintah. Misalnya ia bertarung dengan jin lain dan ia membunuh jin lain dengan dhalim, maka sidang akbar di hari kiamat kelak kita terlibat dalam pembunuhan itu. Sidang akbar akan memutuskan apakah jin yg dibunuh itu memang pantas dibunuh atau justru sebaliknya. Maka sebagian ulama menghindari hal seperti ini.

Guru Mulia kita menyarankan kita menjauhi hal ini, cukup pertolongan Allah dan kekuatan Allah swt dalam perjuangan dakwah kita. Maka Allah akan menundukkan para jin dan malaikat untuk turut membantu kita.

Sayapun sering dibantu oleh para jin tanpa saya jumpa dengan mereka dan mengenal mereka. Sering barang saya hilang atau tertinggal, namun tiba tiba barang itu ada di tas saya, dompet atau lainnya. Entah perbuatan jin atau malaikat yang melakukannya.

Pernah saya kelelahan di wilayah Pelabuhan Ratu, dan menginap di sebuah penginapan yg sepi. Maka saya terfikir: aduh ... kalau ada yg bisa memijat tubuhku ini ..., sungguh saya lelah sekali ... Ketika saya tidur saya mimpi ada dua orang nenek nenek tua yg sangat sopan dengan kebaya sangat sopan, mereka memijati kaki saya dan minta doa, saat saya bangun tubuh saya sudah segar.

Pernah pula di wilayah Cipanas di rumah almarhum ayah saya. Rumah itu sepi dan besar dan kini sudah dijual. Ibunda mengadukan banyaknya jin yg mengganggu, maka saya datang dan tidur di sebuah kamar di rumah almarhum ayah. Maka saya melihat sekelompok jin membuntal pakaian dan berduyun duyun pergi sambil berkata: "kita harus pergi.. kita harus pindah ..." Sejak itu tak ada lagi gangguan jin di sana.

Dan para jin banyak hadir pula di majelis taklim dan majelis kita. Terbukti ketika di wilayah Depok ada seorang yg mempunyai jin berupa harimau jejadian. Tiba tiba kedua harimaunya hilang dari rumahnya. Ketika dukun itu mencarinya maka ia menemukan kedua harimau jejadiannya sedang duduk mendengarkan maulid acara kita di masjid.

Juga kejadian di wilayah Depok, ketika seorang dukun mempunyai 4 jin peliharaannya. Tiba tiba keesokan harinya ia melihat jin jin nya sudah pakai sorban, dan memegang tasbih sambil berdzikir. Maka ia berkata kaget: "kenapa kalian jadi begini..??
 

Maka mereka berkata: "apakah tuan tidak tahu semalam ada cahaya Rasulullah saw di masjid dekat kita? Kami masuk Islam dan bertobat."

Tuannya mencari tahu, ternyata semalamnya adalah majelis kita di masjid dekat rumahnya.

Jin ada yg muslim dan ada yg kafir, ada yg fasiq ada yg shalih, ada yg baik dan ada yg jahat. Namun mereka makhluk ghaib yg sulit ditebak, maka sulit bagi kita menjaga hal hal yg bertentangan dg syariah jika banyak berhubungan dengan mereka.

Kejadian seperti ini sering terjadi. Maka saya semakin yakin bahwa kekuatan dakwah agama Allah swt sangat dominan berkuasa di alam ghaib, sebagaimana firman Allah swt :
 

"Dan sungguh ketika hamba Allah (Muhammad saw) berdiri dalam doa, menghampirilah para jin berdesakan ingin mendengarnya."
 

(QS Al Jin: 19)

Saran saya anda tetaplah memperbanyak bacaan Al Qur'an, dzikir, doa, ibadah, mendekat pada Allah swt. Bantulah dakwah mulia Sang Nabi saw, maka makhluk-makhluk ghaib akan tunduk pada anda karena mereka lebih peka dalam melihat cahaya ibadah dari manusia.

Demikian saudaraku yg kumuliakan. Semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dengan segala cita cita.

Jumat, Januari 17, 2014

Bagaimanakah anda dengan keadaan iman anda...??



@Muhajir Afriqiy
"Bagaimanakah anda dengan keadaan iman anda...??
di dalam hubungan anda dengan Nabi ﷺ..
di dalam kecintaan anda kepada Nabi ﷺ..
di dalam tindakan (amal) anda untuk mengikut Nabi ﷺ..

Jangan anda cinta dan suka kecuali apa yang disukai oleh Nabi ﷺ..
Jangan anda benci kecuali apa yang dibenci oleh Nabi ﷺ..

Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ tidak suka perkataan sekiranya atau kalau (bagi perkara yang sudah berlaku)..
Nabi ﷺ tidak suka banyak bertanya..
Nabi ﷺ tidak suka membazir harta..
Nabi ﷺ tidak suka menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat,

Nabi ﷺ tidak suka berburuk sangka, maka janganlah anda berburuk sangka kepada seorang pun..
Nabi ﷺ tidak suka permusuhan dan benci membenci..

Nabi ﷺ suka menanam rasa kecintaan..
Nabi ﷺ suka mendamaikan di antara manusia..

Perbaikilah hubungan anda dengan Sayyidina Nabi Muhammad ﷺ .."

- Sayyidil Habib Umar bin Hafidz hafizahullah.

Kamis, Desember 19, 2013

BIOGRAFI SINGKAT HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN...


BIOGRAFI SINGKAT HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN...

Alhamdulillah Beliaulah guru yg kita cintai beliau lah khalifah majelis rasulullah...



Habib Ahmad bin Novel, putra kedua Habib
Novel bin Salim Jindan,adik kandung dari Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan
Beliau lahir di Jakarta 12
Januari 1982. Sejak kecil ia dididik ketat di
lingkungan agama oleh keluarganya.
Pertama dididik oleh sang ayah, yakni Habib
Novel bin Salim Jindan yang saat itu tinggal
di Bungur, Senen Jakarta Pusat. Ia
mengawali pendidikan dasar di SD Islam
Meranti, Kalibaru Timur, Bungur, Jakarta
Pusat. Ia juga belajar diniyah pada sebuah
madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur
Baiti di Bungur.
Saat kelas enam SD atau tepatnya tahun
1992, Habib Novel pindah ke Larangan,
Ciledug Tangerang dan mulai mendirikan
Ponpes Al-Facriyyah, Ciledug. Habib Ahmad
saat itu masih tinggal beberapa bulan
bersama keluarganya di Bungur, Jakarta
Pusat, karena ujian akhir nasional tinggal
sebulan lagi. Lepas lulus sekolah dasar pada
tahun 1992, ia melanjutkan ke tingkat
Tsanawiyah di Madrasah Tsanawiyah
Darunnajah, Petukangan, Jakarta Selatan,
tapi hanya menginjak kelas dua.
Sebagaimana kakak atau adik-adiknya ia
juga sering diajak abahnya yakni Habib
Novel dalam berdakwah. Sang ayah saat itu
dikenal sebagai "Singa Podium", yang gaya
pidatonya sangat memikat. Suaranya saat
itu masih lantang, menggema dan membuat
betah jamaah untuk mendengar orasi-
orasinya."Abah saya, kalau berangkat
berdakwah, sering mengajak anak-
anaknya…," ujarnya mengenang.
Saat menginjak kelas dua, saat itu umurnya
baru 13 tahun, ia melanjutkan belajar ke
Hadramaut. Ketika itu Ustadz Abdullah
Abdun, Malang mendapat jatah untuk
mengirim santri-santri belajar ke Darul
Musthofa, Hadramaut Yaman. Kebetulan,
Ustadz Abdullah Abdun mempunyai kedekatan
khusus dengan Habib Novel bin Salim bin
Jindan, sehingga diikutsertakanlah Habib
Ahmad belajar ke Hadramaut. Ia berangkat
bersama Ustadz Haikal Al-Amiri (Palu),
Ustadz Saleh Abdun (Malang), Ustadz Salim
Nur (Malang) dan lain-lain.
Beruntung, ia bisa berangkat ke Hadramaut
dan berguru dengan seorang pendidik dan
orator ulung seperti Habib Umar bin
Muhammad Al-Hafidz. Habib Umar adalah
sosok pendakwah yang tak kenal lelah dan
juga pengasuh Pondok Pesantren Darul
Musthafa yang amat terkenal melahirkan
dai-dai tangguh hingga saat ini.
Tahun 1990-an Republik Yaman baru
merdeka dari penjajahan komunis dan
oerang saudara. Saat komunis masih
berkuasa, lembaga-lembaga pendidikan
agama Islam di tutup. Mulai dari pesantren,
ribath hingga majelis taklim. Termasuk
ribath Tarim, yang saat itu diasuh oleh Habib
Hasan bin Abdullah Asy-Syatiri. Bahkan,
banyak ulama yang dibunuh.
Baru tahun 1990-1n Habib Umar mulai
mendidik santri-santri yang berdatangan ke
ribath yang beliau asuh. Beliau juga gigih
berdakwah ke luar pesantren. Habib Umar
mempunyai program khusus untuk
menghidupkan lagi pesantren-pesantren
yang ditutup saat komunis menguasai negeri
itu.
Sesampainya Habib Ahmad di TArim sekitar
tahun 1994, saat itu Habib Umar bin Hafidz
sudah menggunakan masjid Maula Aidid
sebagai tempat belajar santri-santri.
Sedangkan para santri tinggal di samping
bangunan masjid. Pesantren Darul Musthafa
pada waktu belum dibangun. Di Tarim,
majelis-majelis ta’lim memang ada dan
santri-santri juga menghadirinya. "Kami
hadir dalam pengajian-pengajian umum dan
belajar di majelis-majelis yang ada di
Tarim," ujarnya.
Menurutnya, Habib Umar adalah guru yang
istimewa. "Kami semua berhubungan bukan
seperti murid dengan guru, tapi seperti bapak
dengan anak. Beliau tidak pernah marah
secara pribadi," katanya. Sekalipun santri-
santri ada yang nakal, karena masih anak-
anak.
Ketika mulai berdatangan ke Hadramaut,
oleh Habib Umar santri-santri dari Indonesia
sering diajak untuk berdakwah."Kami tidak
duduk di Tarim saja. Ada suatu Rubath di
kota Syihr yang menjadi perhatian Habib
Umar berdakwah….Tujuannya supaya hidup
lagi kegiatan keagamaan di daerah
tersebut."
Habib Umar juga membangun rubath di kota
Hami’. Dengan langkah seperti itu, Habib
Umar memancing santri-santri local untuk
berpartisipasi, lalu mendidik mereka agar
mampu mengelola dakwah secara mandiri di
tengah masyarakat. Sekarang di Yaman
bermunculan pesantren-pesantren baru.
Lemah lembut
Komunis hengkang dari Yaman dengan
meninggalkan banyak luka. Dan mereka
masih meningalkan permasalahan lain,
misalnya paham Wahabi dan aliran-aliran lain
yang masih marak saat itu. "Saat itu Habib
Umar tidak gampang dalam berdakwah.
Orang-orang Wahabi banyak memegang
senjata api."
Pernah suatu ketika Habib Umar berdakwah
dalam suatu acara Maulid di sebuah masjid
yang dijaga ketat dengan senjata api oleh
orang-orang Wahabi. Akhirnya beliau memilih
masjid untuk berdakwah.
Setelah Habib Ahmad belajar kurang lebih
empat tahun, Habib Umar mengirimnya ke
sebuah tempat untuk berdakwah. Program
dakwah itu memang lumayan lama sekitar
dua bulan. Setiap kelompk terdiri dari
delapan orang. "Semua berkesan. Karena
selama empat tahun di peantren kesannya
tertutup dari dunia luar. Saat itu saya di
kirim ke daerah Dauan, sebuah tempat
bersejarah. Di tempat itu terlahir banyak
‘auliya Allah, seperti Habib Muhammad Al-
Muhdor, Syaikh Ali Baros, Habib Muhammad
bin Thohir Al-Hadad dan lain-lain.
Habib Umar mengirimnya untuk berdakwah ke
tempat itu selama dua bulan. Itu salah satu
pengalaman yang sangat berkesan. Di Dau’an
ia belajar mandiri. "Keadaan sangat susah.
Di tempat itu, rombongan saya berhadapan
dengan orang-orang Wahabi. Yang jelas,
caranya tidak main keras. Kami sampaikan
kepada masyarakat. Kalau mau ikut
silahkan. Kalau tidak, terserah mereka."
Orang-orang Wahabi dan orang-orang yang
mempunyai pemahaman lain dari Ahlussunah
wal-Jama’ah lainnya, menurutnya terbagi
menjadi dua kelompk."Ada kelompok yang
mengikuti paham tersebut karena tidak
mengerti, dan itu mereka mayoritas," kata
Habib Ahmad.
Solusi yang ditawarkan untuk menghadapi
mereka adalah dengan pendekatan yang
lemah lembut."Sampaikan kepada mereka
nasehat dengan lemah lembut dan dalil yang
bisa diterima dengan akal mereka. Mereka
kebanyakan tidak tahu dalilnya, karena
mereka hanya mengikuti pendapat orang
lain, dan itu mayoritas. Jadi, berikan
dalilnya, insya Allah mereka terima pendapat
kita," katanya.
Sedangkan kelompok kedua adalah yang lebih
sulit. " Sebagian di antara mereka adalah
gembong dari paham ini. Mereka sebenarnya
tahu benar dan salah. Tapi permasalahannya,
mereka seperti itu didasari bukan karena
kebodohan, karena benci dan dengki,"
ujarnya.
Stelah belajar sekitar 6 tahun, pada tahun
2000 ia pulang ke Jakarta, kemudian
menikah. Begitu pulang, ia langsung
mengajar di Ponpes Al-Facriyyah,
Tangerang, apalagi saat itu Habib Novel
sedang sakit-sakitan. Namun, walau kondisi
sang ayah dalam keadaan sakit, Habib Novel
tetap mengajak putra-putranya untuk
berdakwah ke tempat-tempat yang ada di
Jakarta." Seakan-akan beliau mengatakan
pada jama’ah, ‘Inilah penerus dakwah
saya’."
Sang ayahanda, Habib Novel bin Salim bin
Jindan wafat pada hari Jum’at (3 Juni 2005/
24 Rabiul Akhir 1926 H, pukul 17.00 WIB dan
dimakamkan keesokan harinya di kompleks
Ponpes Al-Fachriyyah, Ciledug-Tangerang.
Setelah wafatnya sang Ayah, ia banyak
mendampingi sang kakak yakni Habib Jindan
mengasuh pondok pensantren Al-Fachriyyah
Ciledug. Selain mengajar dan berdakwah, ia
juga rajin menulis dan karyanya banyak
disebarkan ke umat. Beberapa tulisan yang
beredar diantaranya adalah Mutiara yang
Indah tentang Zakat Fitrah, Amalan bulan
Rajab,. Namun juga ada beberapa kita yang
tidak beredar dengan luas (terbatas) masih
dalam bahasa Arab, seperti Manakin Habib
Salim bin Ahmad bin Jindan, Sifatul ‘Ulama
Akhirah dan lain-lain.
dan mulai hari ini beliau resmi di pilih oleh Habib Umar Alhafidz,sebagai penerus da'wahnya Habibana Munzir di Majelis yg kita cintai ini
اَللَّهُمَّ صَلِِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَىآلِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Pujian untuk Rasulullah SAW


Pujian untuk Rasulullah SAW

Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau Berkata : “ dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika sayyidina Hassan bin Tsabit membaca qasidah/nasyidah didepan kubah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid An Nabawi, maka ketika itu datanglah sayyidina Umar bin Khattab RA dan berkata : “wahai Hassan bin Tsabit, tidak adakah tempat lain untuk engkau membaca qasidah selain di tempat ini?”, maka sayyidina Hassan berkata: “Dahulu aku telah membaca qasidah di tempat ini dan ketika itu ada orang yang lebih mulia daripada engkau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakanku dengan berkata : “semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga bibirmu”, yang disaat itu ada Abu Hurairah ada bersama mereka ditanya oleh sayyidina Umar bin Khattab Ra : “Benarkah demikian wahai Abu Hurairah?” , maka Abu Hurairah menjawab dan membenarkan hal itu.

Dan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pun masih banyak orang yang membaca qasidah di makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga abad ke-18 ini, jangankan membaca qasidah di makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke makam beliau pun dilarang.

Dahulu di masa seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya. Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membaca qasidah di makam beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya, setelah selesai membaca qasidah orang itu menemui syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya, beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah Al Munawwarah hingga sampai di rumah orang tersebut, sesampainya di dalam rumah orang tersebut memegangi syaikh Farazdaq dan berkata: “sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan kubawa engkau kesini untuk kugunting lidahmu”, maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata : “ambillah potongan lidahmu ini, dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad”,

maka Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdoa : “Ya Allah jika shahib makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji nabi-Mu, namun jika Engkau dan nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula”, beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata : “aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu”,

lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula, dan ketika syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya, beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu, dan sesampainya di rumah anak muda itu beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu beliau datangi lalu lidah beliau dipotong, anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata : “engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera”.

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala : “Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada : “mereka jadilah kalian kera yang hina”. ( QS. Al A’raf : 166 )

Kemudian anak muda itu berkata: “jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja”, maka syaikh Farazdaq berkata : “Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya”, dan seketika itu pun Allah subhanahu wata’ala mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang suka memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pujian kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan oleh cinta dan banyak memuji kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berarti pula banyak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.Dan semakin banyak orang yang berdzikir, bershalawat dan memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalla, maka Allah akan semakin menjauhkan kita, wilayah kita dan wilayah-wilayah sekitar dari musibah dan digantikan dengan curahan rahmat dan anugerah dari Allah subhanahu wata’ala. “

CINTA RASULULLAH SAW KEPADA UMMATNYA


CINTA RASULULLAH SAW KEPADA UMMATNYA 

(Bacaan yang dapat menggetarkan Sanubarimu untuk semakin cinta kepada Rasulullah SAW)

Rasulullah SAW adalah idolaku dan idola kalian, kekasihku dan kekasih kita semua sungguh beruntunglah orang yang mencintai Beliau SAW, sebagaiamana Sabda Beliau SAW : “Seseorang bersama orang yang dicintai. “

Demikian Riwayat Shahih Bukhari. Dan Saudara/i ku , hadits ini memanggil semua jiwa baik ia seorang shalih ataupun pendosa besar untuk mau tidaknya mereka bersama Sayyidina Muhammad SAW, maukah kita bersama Rasulullah SAW? Hadits ini telah membuka gerbang luas agar kita bersama Muhamamad Rasulullah SAW.Cintailah Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW.

Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH Azza Wa Jalla. Sungguh manusa yang paling sempurna, manusia yang paling indah untuk dipanut dan Beliau SAW sangat ramah bahkan kepada para orang-orang yang tidak beriman kepada ALLAH , dan sangat menyayangi ummatnya yang pendosa agar mau kembali kepada Pintu kasih Sayang ALLAH , dan amat lembut kepada ummatnya yang beriman dan semakin lembut karena tidak ada Manusia yang lebih lembut dari Sayyidina Muhammad SAW.

Berkata Abu Hurairah R.a ketika sedang duduk memandang Wajah Sang Nabi SAW seraya berkata : “Ya Rasulullah… jika kami memandang wajahmu terangkat jiwa kami Kekhusyuan. “

Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH, Rasulullah Saw bersabda , diriwayatkan oleh Imam Buhkari dalam kitabnya Adabul Mufrad : “Maukah kalian ku beritau orang-orang yang mulia diantara kalian? Orang yang jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian ingat kepada ALLAH dan berdzikir kepada ALLAH. “

Merekalah para Shalihin, jika para Shalihin saja ketika kita lihat wajahnya membuat kita ingat kepada ALLAH , lebih-lebih jika kita melihat Wajah pemimpin para Shalihin yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

Berkata Anas bin Malik R.a didalam Sahih Bukhari : “Belum pernah kami melihat Wajah yang lebih menakjubkan dari wajah Sayyidina Muhammad SAW. “

Demikianlah Perkataan Anas bin Malik, maka kita memahami bahwa tidak ada wajah yang lebih patut dicintai dari wajah Sayyidina Muhammad SAW, yaitu wajah yang ketika para Sahabat R.a melihat Wajah beliau SAW semakin bertambah khusyulah mereka karena memandang Sayyidina Muhammad SAW.

Beliau SAW adalah Makhluk ciptaan ALLAH yang memang ALLAH ciptakan sebagai Makhluk yang paling berkasih Sayang dari semua ciptaan-Nya , sebagai mana firman-Nya : “Sungguh engkau (Nabi SAW) berada pada akhlak yang Agung“ (Q.S Al Qalam : 4)

Juga ALLAH Azza Wa Jalla berfirman bahwa Rasulullah SAW ada “SIRAJAN MUNIRA / Pelita yang terang benderang. “.

Demikian bukti cinta ALLAH kepada para hamba-hamba Nya , memang di dunia ini kita tidak dapat melihat ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana kasih sayang-Nya ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana lembut-Nya SWT. Namun ALLAH tidak mau mengecewakan para hamba-hamba Nya maka Dia SWT menciptakan Sayyidina Muhammad SAW untuk membuktikan bahwa ALLAH Maha berkasih Sayang , dan bahwa ALLAH Maha berlemah lembut.

Dengan menciptakan Sayyidina Muhammad SAW , seakan-akan ALLAH melihatkan kasih sayang-Nya, melihatkan kelembutan-Nya kepada seluruh hamba-hamba Nya, namun kalian patut memahami bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang berlemah lembut dan berkasih sayang , dan jangan kalian mengira bahwa Nabi Muhammad SAW sama dengan ALLAH AZZA WA JALLA , namun kalian harus memahami bahwa ketika kalian melihat Sirah atau sejarah kehidupan Nabi SAW yang sangat berlemah kembut kepada siapa saja, (MAKA DISITU ADA PEMBBUKTIAAN LANGSUNG DARI ALLAH) dan kalian dapat mengambil kesimpulan bahwa “Ciptaan-Nya ALLAH Azza Wa Jalla saja sudah seperti itu (maksudnya Rasulullah SAW) lebih-lebih cinta dan Kasih saying ALLAH kepada seluruh hamba-hamba Nya“

Rasulullah SAW diciptakana ALLAH sebagai manusia pilihan dan kelemah lembutan Rasulullah SAW itu belum seberapa dibanding dengan Kelembutan Sang Maha Lembut yaitu ALLAH, namun ALLAH perlihatkan kelembutan-Nya dengan memperlihatkan kepada Aku dan Kalian dari kelemah lembutan sosok terpilih yang dicptakan ALLAH yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

Saudara/i ku yang di Muliakan ALLAH , ketahuilah bahwa Rasulullah SAW sejak dahulu sudah merindukan mu , sebagaimana Sabda beliau SAW : “aku merindukan saudara-saudaraku“ siapa mereka yang dimaksud Rasulullah SAW? Sebagaimana Riwayat Shahih Muslim “HUMUL LADIIN YA'ISYUUNA BA'DI , YAWWADDU AHADUHUM LAW RA'ANI BI AHLIHI WAMAALIHI“ yaitu mereka yang hidup setelah aku wafat sangat ingin melihat wajahku dari segal-galanya. Yang dimaksud Rasulullah SAW yaitu kalian wahai yang dirindukan semulia-mulia Makhluk yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

PROFIL HABIB ALI ZAINAL ABIDIN BIN HASAN AL ATTHAS (Wakil Walikota Tegal periode 2009-2014)

PROFIL HABIB ALI ZAINAL ABIDIN BIN HASAN AL ATTHAS (Wakil Walikota Tegal periode 2009-2014)

Nama Lengkap : Habib Ali Zaenal Abidin SE, MH.
Tempat, Tanggal Lahir : Tegal, 15 Agustus 1958
Alamat Rumah Dinas: Jln. Kartini no.25 Tegal 
Rumah Asli : Jln. Sultan Agung no.73 Tegal Gedung Al Haromain (Kelompok Bimbingan Manasik Haji milik beliau) : Jln. Sumbodro, Tegal 

Status : Wakil Walikota Tegal sampai tanggal 23 Maret 2014
Pendidikan :
SD/MI : SD Al Khaeriyah Tegal
SMP : SMP Negeri I Tegal
SMA : SMEA Negeri Tegal 
Perguruan Tinggi :
* SE Universitas Suropati Jakarta
* MH UIJ (Universitas Islam Jakarta)

Motto : “Kepercayaan adalah modal untuk meraih kesuksesan”.
Pengalaman Organisasi :
Pengurus NU (1998-2002)
Wakil ketua MUI (2001-2006)
Pengurus harian DPK (2001-2005) 
Wakil ketua IPHI dan anggota PMI (2000-2004)
Wakil Walikota Tegal (2009-2014)

BEBERAPA KEBIJAKAN STRATEGIS SELAMA BELIAU MENJABAT SEBAGAI WAKIL WALIKOTA TEGAL

1. Siswa SMP dan SMA Negeri yg beragama Islam DIWAJIBKAN memakai jilbab
2. WAJIB BELAJAR 12 TAHUN untuk siswa yg kurang mampu
3. Bantuan untuk MADRASAH dan TPQ setiap tahun
4. Penganggaran rehab Masjid Agung Kota Tegal Rp 10 Milyar
5. Penambahan kuota Jamkesmas dan Jamkesda untuk masyarakat miskin
6. Revitalisasi Pasar Tradisional di Kota Tegal 
7. Car Free Day setiap hari Minggu
8. TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN MOBIL DAN FASILITAS DINAS LAINNYA untuk keperluan pribadi
9. TIDAK PERNAH IKUT CAMPUR PERIHAL PROYEK-PROYEK BESERTA SEGALA MACAM PERIJINANNYA
10. ALUN-ALUN KOTA TEGAL tidak diperbolehkan dipakai untuk acara konser musik baik pop maupun dangdut, dan diselenggarakannya TABLIGH AKBAR setiap malam tanggal 18 Agustus serta setiap malam 1 Muharram setiap tahunnya

Dan beberapa KEBIJAKAN LAIN yg beliau mempunyai peran besar di dalamnya, beliau TIDAK PERNAH IKUT CAMPUR PERIHAL PROYEK-PROYEK BESERTA SEGALA MACAM PERIJINANNYA, beliau LEBIH MEMENTINGKAN program-program dalam kaitannya dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan berbagai program lain yg LANGSUNG BERHUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT.

Sayang sekali beliau TIDAK JADI MENDAFTARKAN DIRI menjadi Calon Walikota Tegal periode 2014-2019 karena ADA PIHAK YG MENJEGAL DARI AWAL, terhitung mulai Tanggal 23 Maret 2014 jabatan Wakil Walikota Tegal AKAN BERAKHIR, beliau kembali menjalani rutinitasnya sebagai Pengelola BIMBINGAN MANASIK HAJI AL-HAROMAIN serta sebagai Muballigh di daerah Tegal dan sekitarnya. 

Dalam PESAN BELIAU kepada masyarakat Kota Tegal sebelum masa jabatannya berakhir beliau berpesan 

"APABILA ADA WARGA KOTA TEGAL YG MERASA DIRUGIKAN ATAU DIRAMPAS HAKNYA SATU RUPIAH PUN OLEH SAYA ALI ZAINAL ABIDIN SELAKU WAKIL WALIKOTA TEGAL, SILAHKAN DATANG KE RUMAH SAYA"— di Kota Tegal.

Perjumpaan dengan Guru Mulia

Perjumpaan dengan Guru Mulia

Sabtu sore, 23 November 2013 adalah detik-detik penantian perjalanan menuju Jakarta untuk bertemu guru mulia Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz pimpinan Ma’had Darul Musthafa dan Daru Zahro Tarim, Hadramaut, Yaman. Sungguh saat-saat yang mendebarkan. Mungkin seperti itulah rasanya menanti perjumpaan dengan seorang kekasih. Bergemuruh rasanya hati ini. Lantunan sholawat tak henti berkejaran dengan nafas yang kian memburu. Sholallah ‘ala Muhammad... Sholallah ‘ala Muhammad...
Semilir angin malam mengantarkan perjalanan kami ke Banyumanik, rumah Ustadzah Nina, tempat kami berkumpul. Kami menaiki taksi dalam keheningan, hanya suara hati kami yang berucap, mengungkapkan perasaan masing-masing dan masih tetap dalam hati yang bergemuruh. Aku, Eva, Mbak Ana, dan Mbak Ratih melayangkan pikiran masing-masing, entah mungkin angan kami telah sampai di Jakarta sana, memandang penuh cinta pada guru mulia Al Habib Umar.
Alhamdulillah, sampai di rumah Ustadzah Nina. Ya Rabb, hati ini tetap bergemuruh, tapi perjalanan belum dimulai. Kami sholat Isya berjama’ah kemudian berkumpul dengan wajah-wajah perindu Dzurriyat Rasul. Wajah-wajah tanpa prasangka. Subhanallah, selalu kuperoleh ketenangan yang tak kudapat dalam majelis lain selain berkumpul dengan mereka. Wajah-wajah yang mengajarkanku untuk senantiasa husnudzon kepada Allah dan makhluk-makhluk Allah.
‘Ayush’, bidadari kecil yang berbahasa ‘amiyah. Cantik jelita berceloteh dengan bahasa yang sebagian besar tak mampu kupahami. Kumau berbetah-betah bercengkrama dengannya. Menyenangkan dan bisa sekalian praktek berbahasa Arab.
Waktu pun mengingatkan rombongan kami untuk segera bergegas menuju bis dan mulai meluncur menuju Jakarta, bismillah... Setengah tak percaya kuberkata dalam hati, ‘aku akan ke Jakarta, bertemu kekasih Allah, kekasih hati’...
Perjalanan kami awali dengan pembacaan Ratibul Haddad bersama. Subhanallah, syahdunya malam ini, lantunan shalawat Habib Syeh mengiringi perjalanan kami bersama kerlap-kerlip lampu malam. Gemuruh hati pun tak mau pergi.
Pukul 04:00, Ahad, 24 November 2013, kami transit di sebuah pom bensin. Subhanallah, sudah sampai Jakarta. Kami pun bergegas untuk sholat subuh berjama’ah. Pukul 05:00 tepat kami melajutkan perjalanan. Lantunan Wirdul Lathif menemani perjalanan kami dalam curahan cahaya fajar yang lembut. Damai sekali rasanya. Usai kami melantunkan Wirdul Lathif, untaian siraman rohani Aa Gym pun mengiringi perjalanan kami. Menyejukkan.
Alhamdulillah, sampai di penginapan Al Habsyi. Kami disambut hangat oleh tuan rumah. Segera kami menuju kamar dan bersih-bersih diri. Aku dan teman-teman dapat kamar di lantai dua, alhamdulillah, kusempatkan tuk menikmati suasana pagi. Menghirup sejuk udara pagi dan sedikit mendung. Bertafakur, subhanallah wal hamdulillah telah sampai di Jakarta, semakin dekat dengan Habibana... sekali lagi kuberucap dalam hati tak percaya. Alhamdulillah.
Pukul 08:30 kami menuju Cidodol untuk menghadiri Haul Fakhrul Wujud Syaikh Abu Bakar bin Salim yang dihadiri oleh Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Panasnya mentari ibu kota tak menyurutkan kami untuk melangkahkan kaki bergabung dengan jama’ah lain yang telah lebih dulu sampai. Dan subhanallah, ketika Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz melantunkan kalam-kalam penuh hikmah seketika itu angin berhembus menghalau panas yang sedari tadi cukup menggelisahkan. Bahkan bukan hanya itu, rintik-rintik gerimis kecil pun mulai turun seolah bertasbih menyambut kalam lembut dari beliau. Ya Rabb, cucuran air mata tak henti mengalirkan derai-derai penuh mahabbah kepada Habibana. Sejuknya hati ini, terucap dalam hati bersama luruhnya air mata yang seakan tak ingin terhenti ‘uhibbu ilaik....uhibbu ilaik... ya Habibana...’ T.T
Masih dalam selimut mendung dan rintik yang mulai tak kentara, kami beranjak menuju ke penginapan sholat dhuhur dan asar yang dijamak taksir karena sekitar jam dua nanti kami akan menuju Ma’had Al Fachriyah Guru Mulia Al Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Ahmad bin Jindan bin Syech Abi Bakar di Ciledug, Tangerang Selatan. Serombongan abaya hitam berpadu jilbab hitam dan sebagian ada yang bercadar melangkah gesit seusai turun dari bus, melalui perumahan yang cukup ramai dan sampailah kami di Ma’had Al Fachriyah. Setengah tak percaya kubisa berada di sini. Ya Rabb, penghuni-penghuni yang kucintai, kumencintai mereka keluarga Rasulullah SAW, kumencintai mereka yang mencintai Rasulullah SAW. Subhanallah, semua kulihat wajah-wajah teduh itu dibalut dengan jilbab dan cadar hitam. Ya Rabb, aku tak ingin pulang.
Kami masuk duduk bersama jama’ah lain, alhamdulillah rombongan kami mendapat tempat di dalam ruangan berkumpul bersama syarifah-syarifah, bersama ustadzah-ustadzah. Subhanallah, di sana pun aku bertemu ustadzah-ustazadhku yang dari Tegal, ustadzah Fathimah bin Jindan, ustadzah Karimah istri Habib Mahdi, ustadzah Zakiyah istri Habib Thoha, ustadzah Sakinah, dan ustadzah Khodijah, adik dari ustadzah Karimah yang akan melangsungkan akad nikah disaksikan oleh Guru Mulia Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz . Ya Rabb, kebahagiaan yang berlipat-lipat, mengobati rindu yang menyesakkan hati kepada beliau-beliau bidadari-bidadari bumi yang berwajah teduh. ‘uhibbu ilaik..., uhibbu ilaik,,,’ rintih hatiku dan masih dalam cucuran air mata yang tak terbendung. Ya Rabb, memandangnya saja mampu menyejukkan hati ini, bagaimana tidak,  jiwa dan hati ini senantiasa merindukan perjumpaan dengan beliau-beliau, hati-hati yang lembut, hati-hati yang bersinar. Tausiyah dari beliau para habaib bagai percikan air di tengah sahara, menyejukkan, terlebih kalam beliau Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, tak kuasa air mata ini tak mengalir, memandang penuh cinta pada beliau, qith’ah (potongan) dari wajah Nabi Muhammad SAW. Subahanallah, jiwa dan hati kami sungguh diliputi cinta, mahabbah, kepada beliau-beliau kekasih Allah, kepada beliau yang memancarkan cahaya-cahaya Allah dan Rasulullah. Ya Rabb, kurasakan kenikmatan yang sangat berada dalam tempat ini, berkumpul, duduk bersama, memandang wajah-wajah teduh itu, wajah yang mengingatkanku kepada kekasih hati, Habinana Nabi Muhammad SAW.
Ceramah beliau diakhiri kemudian dilanjut shalat maghrib yang dijamak dengan sholat isya. Khusus bagi akhwat tak langsung bubar melainkan duduk bersimpuh melingkari menghadap wajah teduh, wajah mulia Hababah Nur istri Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Merugi sekali mereka yang pulang terlebih dahulu, bersyukur kami yang mengikuti rombongan ustadzah Alina Al Munawwar, selain kami mendapat tempat di ruangan bersama para syarifah, kami pun dapat duduk bersimpuh begitu dekatnya dengan beliau Guru Mulia Hababah Nur, bahkan kami pun bisa mencium ta’dzim tangan mulia beliau dan tentunya dengan linangan air mata cinta yang tak terbendung. Bukan hanya itu, kami pun mendapat air do’a dari beliau yang kami bawa pulang dengan begitu hati-hatinya seolah harta berharga yang tak ingin kami kehilangannya. Lantunan-lantunan kalam lembut beliau limpahkan kepada kami, deret demi deret kami tulis amalan-amalan yang beliau berikan kepada kami, diantaranya adalah cara memperkuat iman, yaitu dengan menjaga wudhu, sholat jama’ah, sholat dhuha, sholat taqwiyatul iman, meninggalkan hawa nafsu, dan tafakur. Selain itu beliau Guru Mulia juga mengamanatkan kami untuk menjaga empat waktu yang penuh barokah, yaitu sebelum maghrib, setelah maghrib, sebelum subuh, dan sesudah subuh. Akhirnya ceramah beliau pun diakhiri dengan pemberian ijazah kepada kami untuk meneruskan dakwah. Ya Rabb, bergemuruh rasanya hati ini kala kami bersama-sama mengucap ‘qobilna ijazah...’
Kami pun bertolak menuju penginapan Al-Habsyi dengan perasaan campur aduk, senang karena bisa berjumpa dengan beliau Guru Mulia, sedih karena harus berpisah dan melepas wajah teduh itu dari pandangan. Ya Rabb, aku tak ingin pulang...
Sesampainya di penginapan kami langsung rebah, melepas lelah karena hampir tak ada waktu untuk kami bersantai-santai, namun lelah ini adalah lelah yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bismillah, kuatkanlah hamba yang lemah ini ya Rabb...
Esok hari, Senin, 25 November 2013, bersama terbitnya mentari yang bergegas kami pun tak kalah bersemangat, seolah berkejaran dengan detik jarum jam yang bergulir. Sungguh, gemuruh hati pun semakin dahsyat. Sebentar lagi kami akan berziarah ke maqbarah Guru Mulia Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Ya Rabb, tak percaya kubisa berada di sini, benar-benar berkah sebuah wasilah, kuberada dalam rombongan orang-orang mulia, beliau Ustadzah Alina Al Munawwar dan Ustadzah Muna Al Munawwar. Ziarah ini diakhiri dengan nasihat-nasihat dari Ustadzah Alina Al Munawwar ang membuat air mata ini enggan untuk kami bendung. Sebelum kami meninggalkan maqbarah beliau kami sempatkan satu per satu dari kami mencium ta’dzim kubah beliau yang diawali oleh ustadzah Alina Al Munawwar. Subhanallah, suasana haru menyelimuti hati-hati yang merindukan beliau, kekasih Allah, Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa.
Perjalanan kami lanjutkan menuju kediaman beliau Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Setengah tak percaya kumelangkahkan kaki masuk menuju rumah beliau, penuh keteduhan. Di tempat ini Allah pun mempertemukan kami kembali dengan guru kami, ustadzah Fatimah bin Jindan. Ya Rabb, kembali kuberucap tak percaya bisa berada di sini, dikediaman orang mulia, dikediaman orang yang kucinta, dikediaman kekasih Allah, sekali lagi, tak mungkin kubisa berada di sini jika bukan karena wasilah. Ya Rabb, dekatkanlah hamba dengan orang-orang yang engkau cintai. Amiiiin....
Kami mengikuti majelis dzikir beliau Hababah Khodijah, sitri Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa yang dilanjut dengan nasehat-nasehat dan cerita mengenai Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa dari beliau Hababah Khodijah. Sungguh, air mata mengalir mengiringi kisah-kisah beliau, mewakili bulir-bulir kerinduan yang kian deras kepada beliau kekasih hati, Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Diantara kalam-kalam mulia beliau, beliau mengatakan bahwa menzirahi rumah auliya lebih afdhol daripada menziarahi maqbarohnya karena rumah auliya adalah tempat naiknya amal ibadah. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada kami untuk menziarahi maqbaroh beliau dan kediaman beliau Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Sungguh, kebahagiaan yang tak mampu kami ungkapkan dengan kata-kata, hanya air mata cinta yang mampu menggambarkan betapa hati kami memendam buncah rindu yang teramat sangat kepada beliau, kekasih Allah. Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Lagi-lagi, perjumpaan kami dengan beliau Hababah Khodijah diakhiri dengan ijazah sholawat yang paling sering Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa lantunkan, yakni shalawat yang diajarkan Rasul saw kepada beliau lewat mimpi, yaitu: "ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM ". Shalawat ini beliau baca 5.000x setiap harinya. Dengan gemuruh hati yang tak mau lepas dan cucuran air mata yang tak mau berhenti, kami serempak mengucapkan ‘qobilna ijazah...’
            Dalam lalu lintas yang padat bus yang membawa kami pun terus merangkak berkejaran dengan waktu yang mulai mengisyaratkan mentari akan segera lingsir. Kami berniat untuk menjamak ta’khir sholat dhuhur. Perjalanan kami lanjutkan menuju majelis yang akan dihadiri oleh Guru Mulia Hababah Nur. Alhamdulillah, sampai. Kami disambut dengan ramahnya oleh wajah-wajah teduh berbalut abaya dan cadar hitam. Kami duduk, mendengarkan kalam demi kalam penuh nasihat dan sarat ilmu, meski sebentar, namun menyejukkan dan berbekas di hati, ‘Jika kau tak mampu mencium tangan para auliya, cukuplah kau pandangi dengan pandangan cinta, bi nadzor, dan jika kau tak mampu memandang para auliya padanglah wajah orang yang memandang para auliya’.
            Kami kembali bertolak menuju penginapan Al Habsyi, persiapan untuk ke Monas, Majelis Rasulullah SAW. Ya Rabb, detik-detik inilah yang paling mendebarkan, sungguh, tubuh ini bergetar menanti detik-detik berkumpul bersama para hati-hati perindu Rasulullah SAW, menghadiri pembacaan maulid terbesar di dunia. Segalanya kami persiapan untuk acara puncak ini, ingin bertemu dengan kekasih hati, ingin datang dengan keadaan yang sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya, tak ingin segala sesuatunya terlewatkan. Semuanya dari kami mengenakan abaya hitam dan cadar hitam, sebagian besar bercadar sebelum berangkat, tak terkecuali aku. Ya Rabb, syukur wal hamdulillah Engkau memperkenankan kami untuk hadir dalam majelis mulia ini, Majelis Rasulullah SAW. Lagi-lagi kubersyukur dengan barokah wasilah, rombongan kami datang terlambat, sekitar pukul 20.00 kami baru berangkat dari penginapan menuju Monas, namun setiba di sana rombongan kami dipersilahkan duduk di depan. Ya Rabb, barokah wasilah, beliau guruku, kekasihku, Ustadzah Alina Al Munawwar dan Ustadzah Muna Al Munawwar. Jika tanpa wasilah hamba tak ada apa-apanya, meski berangkat dari pagi hamba tetap akan berada di kerumunan belakang, tak dapat memandang wajah Guru Mulia. Mungkin kiranya inilah gambaran padang mahsyar, kata guruku, Ustadzah Muna Al Munawwar suatu kala di majelis Al Batul yang aku dan teman-teman hadiri setiap hari ahad kedua dan ahad keempat di Madrasah Al Munawwar Kauman, Johar, Semarang. Jika tanpa wasilah, kita tak ada apa-apanya diantara seluruh umat manusia. Namun dengan wasilah kita akan mudah mencari beliau Rasulullah SAW untuk memohon syafa’at, meski kita dibangkitkan dari kubur paling akhir. Ya Rabb, jadikanlah hamba insan yang mencintai keluarga Rasulullah SAW, sehingga dengan cintanya akan membawa kami kepada cintaMu Ya Rabb......
            Subhanallah, sungguh skenario Allah begitu indah, di tengah-tengah lautan manusia itu Allah mempertemukan kami kembali dengan guru kami, Ustadzah Fatimah bin Jindan dan Ustadzah Karimah. Ya Rabb, kucium ta’dzim tangan mulia guru yang amat kucintai itu. Sungguh, air mata ini tak mau berhenti sejak pertama kami duduk bersimpuh menikmati alunan sholawat dan maulid. Subhanallah, sungguh terjadi lagi, kala Guru Mulia Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memulia kalam mulianya, angin datang berhembus membawa kesejukan menelisik hingga ke relung hati yang memendam rindu ini. Langit pun menjadi benderang seolah datang sebuah cahaya yang turut memuliakan majelis mulia ini, Majelis Rasulullah SAW. Ya Rabb, sungguh syahdu malam ini, penuh kenikmatan cinta kepada beliau kekasih Rasulullah, kekasih Allah...


            Tak terasa acara ini berakhir, ‘kenapa begitu cepat? Benarkah telah berakhir?’ ucapku membatin. ‘aku belum ingin pulang, aku tak ingin pulang, masih ingin di sini, di tempat penuh cinta, masih ingin memandang wajah beliau Guru Mulia...’ Hati ini terasa sakit kala bus itu membawa Guru Mulia menjauh, perih terasa seiring pandangan yang tak mau aku lepaskan dari memandang wajah teduh itu, wajah kelembutan itu, wajah penuh cinta itu, wajah qith’ah Rasulullah SAW... hati ini merintih ‘uhibbu ilaik, uhibbu ilaik, uhibbu ilaik ya Habibana...’ :’(
 

Blogger news

Blogroll

About