Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 28, 2016

Aku, Kau, dan Al-Qur'an

“Aku, Kau, dan Al-Qur’an”
Isma Az-Zaiinh
10-06-16


... وَلَآ تَسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُواْ يَعْمَلُوْنَ ۝  (البقرة: 141)    
Shodaqallāhul ‘adzīm"
Baru satu juz. Aku menghentikan muraja’ahku. Jarum jam menunjukkan angka dua. Masih ada waktu panjang untuk menantikan adzan subuh. Aku masih duduk di atas sajadah berbalut mukenah berwarna hijau dengan Al-Qur’an yang setia menemani. Al-Qur’an bersampul emas yang menjadi saksi bisu kisah perjuanganku yang kumulai enam tahun silam.
Kuusap pelan halaman Al-Qur’an yang baru selesai kubaca. Akhir juz satu. Ada bercak gelap di sana. Bekas tetes air mata yang telah lama mengering. Namun jejak memori yang tersimpan di dalamnya takkan pernah kering. Sesekali membasuh hati dan membuat basah oleh tetes air mata yang kembali mengalir. Seperti kali ini. Setetes bulir bening kembali terjatuh. Menyeret memoriku ke masa enam tahun lalu. Kala itu, keluargaku sowan ke ndalem Abah Kyai, memasrahkanku untuk mondok di Ponpes Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah.
“Ngapalke Al-Qur’an yo nduk, ngaji karo kuliahe sing sregep, lanjut S2 yo, ben koyo Mbak Muz.” Dawuh Abah Kyai. Sekejap tertegun. Seolah beliau tahu kegundahanku selama ini. Menelisik hingga ke relung hati. Ada keinginan terpendam di sana. Lama tak mampu kuungkapkan.
“Ng, Nggih Bah.” Ucapku tergagap dihadapan Abah Kyai dan kedua orang tuaku.
Itulah awal dari lika-liku perjalanku. Sebuah perjalanan yang tak mudah. Perjalanan untuk sebuah cita yang kubalut dalam keniatan dan iringan restu kedua orang tua. Berazam untuk menjaga kalam-kalam suci-Nya. Mematri dalam hati dan ingatan hingga menjadikannya nafas dalam setiap helaan kehidupan.
###
Kutersenyum mengingat kejadian itu. Al-Qur’an bersampul emasku masih dalam genggaman. Kubuka lembar-lembar berikutnya. Juz dua, juz tiga, hingga sampai pada juz enam. Ingatanku kembali terperosok ke masa silam. Seringkali kutergugu kala itu. Mencipta bercak yang tak lagi sedikit. Menoreh sejarah dalam tiap genangannya.
“Lho, niat awalmu opo nduk? Kuliah sambil mondok? Atau mondok sambil kuliah? Wis iku dipikir sek sing tenanan.” Dawuh beliau kala kusowan untuk meminta saran dari beliau. Entah, ini kali keberapa kumenangis dan menumpahkan semua keluh kesahku di hadapan beliau. Duh, Abah, maafkan diri tak tak tahu diri ini, yang seringkali menyita waktumu hanya untuk membagi air mata.
 “Yo prioritaske sing dadi kewajibanmu mbak. Ora usah melu organisasi nek ngabotke sampean. Madrasah Diniyah kan yo ora wajib kanggo santri tahfidz tho? Nek kewalahan yo ora usah melu Madin. Sing penting Al-Qur’ane mbak. Nderes neng ndi wae iso tho? Ora usah isin ngelakoni penggawean apik. Sing penting Allah ridho, ora usah nggolek ridhone menungso, ora bakal ono enteke.” Dawuh Ustadzahku.
Benar. Aku memang harus bisa memilih mana yang diutamakan. Akhirnya aku melepas semua organisasi kampus yang kuikuti. Seperti dawuh Abah, kita harus bisa mengukur kadar kemampuan diri. Jika merasa tidak mampu maka jangan mengambil tanggung jawab yang nantinya tidak bisa kita pertanggungjawabkan.
###
Kini ujung mataku mulai berembun. Ada tetes yang menggenang di sana. Tak menunggu hitungan waktu. Bulir bening pun mengalir melewati pipi. Kembali kubuka lembar-lembar Al-Qur’anku. Perlahan. Hingga pada juz 12 kuterhenti. Membuka kembali memori yang terselip rapi dalam tiap jengkal kalam indah-Nya. Kala hatiku menuai uji.
 ‘Assalamu’alaikum. ‘Afwan, apakah benar ini mbak Husna?’  Ada sebuah sms.
‘Wa’alaikumussalam. Iya benar. ‘Afwan, ini siapa ya?’ Balasku.
‘Saya Ashdaq delegasi MTQ dari UIN Sunan Kalijaga Jogja. ‘Afwan mbak, sepertinya piala kita tertukar. Kok saya menerima piala juara dua cabang lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an  atas nama Zakiyatul Husna ya?’ Balasnya panjang lebar.
Aku segera mengecek pialaku. Benar. Piala di hadapanku bukan milikku. Melainkan atas nama Muhammad Ashdaq Fillah juara dua cabang lomba Musabaqah Tafsiril Qur’an.
‘Iya mas. Piala kita tertukar. Terus bagaimana ini? Saya sudah diperjalanan menuju Semarang.’ Balasku yang kala itu memang sedang di bus perjalanan pulang bersama rombonganku.
‘Ya sudah mbak, nggak papa. Semoga saja nanti kita ditakdirkan bertemu, jadi bisa sekalian nuker piala. He.’ Balasnya yang seketika membuatku tertawa tertahan.
Hari berganti hari, minggu, hingga sampai pada bilangan bulan. Komunikasi semakin intensif. Tidak hanya melalui sms. Kami pun sudah bertukar semua sosmed, mulai dari facebook, twitter, wa, wattpad, tumblr, bbm, instagram, line, hingga blog.
Entah bagaimana aku membahasakannya. Perbincangan kami mulai merambah pada topik yang tak lagi ringan. Seringkali ia menanyakan kepadaku hal yang langsung membuat dahiku berkerut. Sekali itu langsung menjadi diskusi panjang diantara kami. Tak hanya sekali. Bahkan seolah telah menjadi rutinitas.
Hingga lambat laun hal itu mengganggu aktifitas hafalanku. Menyadarkanku bahwa langkahku keliru. Apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini aku do’akan agar diberi hidayah oleh Allah. Memperbaiki diri. Menjaga ikhtilat dengan lawan jenis. Menjaga muru’ah. Aku malu pada diriku sendiri. Salahkah? Bukan duniaku-kah? Derai air mata ini semakin menjadi. Deras tak terkendali.
‘PING!!!’
‘Keif?’ Balasnya.
‘Ada yang hilang.’
‘Apanya yang hilang?’
‘Diriku yang dulu, yang tak mengenal ikhwan.’
Lama tak ada balasan. Mungkin ia pun mulai menyadari kekeliruan kami selama ini.
Boleh minta tolong?’ Akhirnya kumembalas.
‘Insya Allah, minta tolong apa?’
‘Unfollow semua sosmedku’
Lama lagi tak ada balasan.
‘Aiwa, bismillah, demi menjaga izzah dan iffahmu, aku rela.’ Balasnya kemudian.
‘Tapi Anti beneran nggak mau pacaran kan?’ Balasnya lagi.
‘Insya Allah, do’akan ya.’
‘Du’a bidu’a. Jomblo sampai halal. Hamasah.’
‘Aamiin.’  Hanya itu balasku. Semenjak itu tak ada lagi komunikasi antara kami. Entah di sana, air mataku telah menganak sungai. Kekuatan apa yang mendorongku untuk mengambil keputusan ini? Hanya azimat dari Ustadzahku yang membuatku tenang kala kumenceritakan kepada beliau akan ujian hatiku ini. Ikhlaskanlah untuk mengikhlaskan, karena yang menjaga pasti akan dijaga. Bismillah, demi Al-Qur’an, aku mengikhlaskanmu.
###
Kumenghela napas. Sekadar mengurangi derai yang tak mereda. Mukenah hijauku benar-benar telah basah oleh air mata. Kubuka lembar berikutnya. Sesekali kutercekat kala ingatanku terseret ke memori silam. Hingga sampai pada juz 18. Kala kuhampir saja melepas Al-Qur’an dalam genggamanku.
Hampir sebulan lebih aku terbaring tak berdaya. Entah itu di rumah atau di rumah sakit. Tak ada diagnosa jelas mengenai sakitku. Bahkan ada yang mengatakan aku diganggu makhluk halus.
Hampir saja kumelepas Al-Qur’an dalam genggamanku kala keluargaku merekomendasikan hal itu kepadaku. Sampai pada suatu hari Ustadzah menjengukku.
“Sing sabar mbak. Ujian wong ngapalke ncen akeh. Salah sijine sakit. Eling ngendhikane Abah Kyai tho? Mau, Mampu, Menyempatkan. Wis, iku kuncine mbak. Aku yo wis pernah ngalami abote proses ngapalke. Sampean istirahat sek. Tenangno pikiran. Nek wis sehat, ngaji meneh mbak. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. Sopo ngerti mbak, sakit iki dadi dalane sukses dunia akhirat. مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ” Sambung beliau.
“Aamiin” Ucapku lirih dengan derai air mata. Meraih tangan beliau dan menciumnya.
Panjang lebar beliau menasehatiku. Serupa gerimis dalam gurun sahara. Hatiku kembali teduh. Terkumpul kembali kemantapan hati yang kutekadkan tiga tahun silam.
###
Alhamdulillah.” Desahku lirih. Tetap dengan derai yang agak sedikit mereda.
Kembali kubuka lembar Al-Qur’an yang kugenggam. Satu per satu. Hingga sampai pada juz 22. Kala kuhadapkan pada dua pilihan. Hingga aku pun tak tahu harus menangis atau bahagia.
Suatu keajaiban. Aku sembuh total dari semua diagnosa dokter yang berbeda-beda. Entah ini gangguan jin atau bukan. Allah telah mencabut ujian sakitku. Alhamdulillah. Segera kukejar ketertinggalanku, baik itu kuliah maupun Al-Qur’anku. Hingga aku berhasil menyelesaikan S1-ku. Wisuda.
“Nduk. Kenal Furqon?” Tanya Ayahku dalam perjalanan pulang usai wisuda. Sedikit kaget. Kumenatap Ayahku yang tetap khusyuk menyetir mobil yang kami kendarai. Berharap kumenemukan raut yang berbeda dari guratan wajah beliau. Sepertinya aku tahu akan kemana arah pembicaraan Ayahku.
“Kenal Bah.” Jawabku singkat.
“Sesuk meh dolan ning omah nduk.”
“Badhe nopo nggih Bah?”
“Nglamar kowe tho nduk.” Deg. Kuarahkan kembali pandanganku pada beliau. Tak ada raut yang berubah. Sepertinya beliau serius. Benar, dugaanku.
“Al-Qur’ane kulo dereng khatam Bah.” Sanggahku.
“Kan yo iso ngenteni tho nduk.” Skakmat. Bagaimana ini? Entah kenapa aku tak begitu antusias menanggapinya. Seolah hatiku telah tertutup. Namun siapa yang telah menutupnya? Aku tak tahu.
“Duko Bah. Kulo khatamke Al-Qur’an kalih S2 riyin. Nembe kulo mikir jodoh nggih Bah.”
“Yo wes, karepmu nduk.” Jawab Ayahku datar. Sepertinya beliau tahu pilihanku tak bisa diganggu gugat.
Dua tahun pun berlalu. Aku wisuda S2 sekaligus wisuda khataman Al-Qur’anku. Tak kusangka aku bisa melaluinya. Hingga tiba-tiba saja ada seseorang yang datang kerumahku. Sendiri. Tak ada pemberitahuan sebelumnya. Ia melamarku.
###
Kali ini aku tersenyum, tidak, lebih tepatnya tertawa yang tertahan.
“Lho, kenapa dek? Kok berhenti muraja’ahnya?” Sahut sosok yang duduk di depanku. Sama sepertiku, di atas sajadah dengan Al-Qur’an digenggaman. Ia baru tersadar kalau sedari tadi aku menghentikan muraja’ahku. Mungkin karena ia terlalu khusyuk menikmati muraja’ahnya.
“Nggak papa mas.” Sahutku sambil mengusap air mataku dengan mukenah hijau yang kukenakan.
“Lho, kok malah nangis? Kenapa dek?” Ucapnya dengan nada sedikit khawatir.
“Nggak papa mas. Hanya terharu dengan skenario Allah. Alhamdulillah, Husna bisa bertemu lagi dengan piala Husna yang tertukar” Ucapku yang membuat kami tertawa bersama.
 “Ya Habībatiy hayya muroja’ah mā’an. Tadi sudah dapat berapa juz? Sini mas semakkan.”
“Baru satu juz. Aiwa, Abiy.” Jawabku dan aku memulai muraja’ahku.

Benar. Ia adalah Muhammad Ashdaq Fillah. Seseorang yang diam-diam telah menutup hatiku. Seseorang yang seringkali terlintas dalam ujung tengadah dan sujudku. Seseorang yang diam-diam menyelipkan namaku dalam do’anya hingga menguntai anak tangga. Belum ada perjumpaan kami sebelumnya. Hanya saja, mungkin do’a kami yang seingkali bertemu di Arys. Hingga Allah menyatukan kami di dalam mihrab cinta-Nya.

Kamis, April 14, 2016

The Secret Book

“The Secret Book”
Isma Az-Zaiinh
27-02-2016




“Juna bosan Mah. Juna bosan hidup dengan Mamah. Mamah tak pernah punya waktu untuk Juna. Pantas saja ayah pergi, lari dari kehidupan Mamah yang gila. Seharusnya Juna ikut bersama Ayah. Juna benci Mamah.” Teriak Juna sambil berlari menuju kamarnya. Menguncinya dan berlari ke ruang perpustakaan pribadi di kamarnya. Juna duduk di bawah rak buku memeluk lutut dan menangis.
“Juna. Maafkan Mamah. Semua yang Mamah lakukan juga untuk kamu Juna.”
Tak ada jawaban.
“Juna, buka pintunya Juna.”
Tetap tak ada jawaban.
“Miauww.” Kucing kesayangannya mengeong dan mengusap-usapkan kepalanya di kaki Juna. Seolah menghiburnya. Juna meraihnya dan menaruh kucing itu dipangkuannya. Kucing itu kembali mengeong dan melompat turun dari pangkuan Juna.
 “Ceri? Mau kemana?” Sahut Juna.
Kucing itu menengok ke arahnya dan mengeong lagi. Kemudian berjalan berbelok ke kiri. Juna mengikutinya. Kucing berhenti di ujung lorong barat perpustakaan pribadinya. Kucing itu duduk termangu seolah menunggu. Ada sebuah pintu di sana.
 “Ceri? Kau membawaku ke sini?” Tanya Juna dengan raut muka heran.
Usianya 20 tahun. Dan selama itu ia belum pernah melihat pintu itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya melangkah mendekati pintu itu. Memutar gagang pintunya. Pintu itu berderit. Gelap. Hanya ada cahaya yang menerobos dari jendela yang sedikit tersingkap tirainya. Lantainya kotor dan berdebu. Begitu juga ranjang dan semua perabot yang ada di sana. Kucing itu menerobos masuk yang diikuti oleh Juna.
“Miaauuww” Ceri mengeong di atas peti yang tergeletak di tepi ranjang.
“Kau menyuruhku membukanya?” Tanya Juna.
Juna pun membuka peti itu. Ada sebuah buku berwarna hitam. Juna meraihnya.
“The Secret Book” Juna membaca tulisan emas yang ada sampul hitam itu.
Juna membuka lembar pertama. Kosong. Hanya kertas usang yang kekuning-kuningan. Juna hendak membuka lembar berikutnya ketika tiba-tiba saja muncul tulisan di halaman yang tadinya kosong. Juna terperanjat kaget. Hampir saja ia melempar buku itu.
Ia buka perlahan matanya yang refleks terpejam. Jantungnya berdegup kencang. Ada tulisan-tulisan di lembar itu. Ia tak bisa membaca tulisan itu. Simbol-simbol aneh. Ia sampai di tengah-tengah buku itu. Kosong. Tidak, ada titik hitam. Titik itu semakin membesar. Membesar hingga memenuhi halaman buku itu.
“Aaaaaaaa...” Teriak Juna kala muncul cahaya menyilaukan dari lubang hitam yang menyedotnya masuk kedalam buku itu. Ia buka perlahan matanya. Ia tetap sama dengan posisi sebelumnya. Hanya saja, ruangan itu berubah. Bersih. Tirai jendela berwarna hijau. Seprei, bantal, cat tembok pun berwarna hijau lembut. Warna kesukaannya. Lantai marmer berkilau. Langit-langit kamar di lukis seperti langit sesungguhnya. Ada banyak bunga dalam vas di meja samping ranjangnya, di bawah jendela, dan di setiap ujung ruangan. Berwarna-warni. Indah.
Ceri melompat kepangkuan Juna. Bulunya yang hitam berubah menjadi putih bersih. Juna meraih kucingnya hendak memeluk. Kala itu ia tersadar, baju yang ia kenakan pun berubah. Menjadi gaun berwarna hijau lembut menjuntai kebawah dengan lapisan kain tipis berwarna hijau terang yang berkerlip-kerlip. Indah. Seperti gaun putri dalam dongeng. Ia berdiri. Berjalan. Memutar. Tak percaya ia mengenakan gaun seindah itu.
“Aaaaa....” Ia menjerit, lagi. Kala ia melihat pada cermin besar yang terpajang di atas meja rias di samping ranjangnya. Ia melihat gadis yang sangat cantik. Benarkah itu dia? Juna berjalan mendekati cermin. Menyentuh pipinya. Kemana perginya jerawat yang selalu memenuhi wajahnya itu? Pipinya lembut, merona, bersih dan cerah. Rambutnya? Bukan lagi kribo mengembang tetapi panjang hitam legam bergelombang. Ada mahkota kecil yang berkilau di kepalanya.
“Hwaahhh... Mimpikah?” Ucapnya sambil menepuk pipinya.
“Miiauww.” Ceri mengeong seolah menjawab pertanyaan Juna.
“Aaaaaaaa.... Ini nyataaaaa....” Teriak Juna sekali lagi. Juna berjingkrak kegirangan.
“Juna sayang, ada apa? Kenapa menjerit begitu?” Terdengar suara lembut dari balik pintu yang terbuka sedikit.
“Ma, mah?” Ucap Juna.
“Kamu panggil apa sayang? Mamah? Bukankah kau biasanya memanggil bunda? Bunda Elena” Ucap perempuan cantik di hadapan Juna.
“Eh, nggak Ma, eh, bunda.” Ucap Juna tergagap. Ia bingung hendak memanggil sosok di depannya itu dengan sebutan apa. Ia miripsekali dengan Mamahnya di dunia nyata. Namun di sini ia terlihat lebih cantik. Tidak seperti biasanya. Berantakan. Hidupnya hanya di laboratorium. Gila dengan penemuan-penemuan bodohnya.
“Ayo turun. Bunda menunggumu dari tadi untuk saparan bersama. Hari ini bunda masak menu spesial. Kesukaan kamu.”
“I, iya, Bunda.” Jawab Juna masih tergagap. Tak percaya. Bagaimana bisa ibunya berubah menjadi ramah dan lembut seperti itu. Biasanya tak seramah itu. Selalu mengabaikan Juna dan sibuk dengan dunianya sendiri. Ia berubah menjadi sangat cantik. Dengan gaun perpaduan warna biru tua dan muda. Indah.
Juna meraih ceri. Berjalan mengikuti perempuan itu.
“Huwwaahhh.” Desah Juna tercengang. Di depan kamar juna ada sebuah tangga berkilau yang menghubungkan dengan lantai dua. Sebuah ruangan yang sangat besar. Seperti aula. Di lantainya terbentang permadani yang sangat indah dan lembut. Dindingnya pun dihiasi dengan lukisan-lukisan  dan ormamen yang indah. Sungguh. Rumahnya seperti istana di negeri dongeng.
“Ayo sayang” Ucap perempuan bergaun biru itu.
Juna mempercepat langkah menuruni tangga. Menuju ruang makan. Juna lahap memakan makanan kesukaannya itu.
Usai makan perempuan itu berdiri. Mengayunkan tongkat yang ada di genggamannya. Semua peralatan makan itu terbang sendiri menuju wastafel. Bergerak-gerak seolah ada yang sedang mencuci. Setelah bersih semua perabotan itu terbang dan tertata rapi di rak.
“Mana tongkatmu sayang? Kamu tinggal di kamar?”
“A, eh, i, iya bunda.” Jawab Juna asal. Padahal ia tak tahu. Tongkat? Tongkat apa? Tongkat sihir? Benarkah ia mempunyai tongkat sihir? Seperti yang dipegang oleh perempuan itu?
“Tak apa. Bunda ambilkan.” Ucapnya sambil mengayunkan kembali tongkatnya. Dan benar. Tongkat lain muncul dari kamarnya. Terbang menuruni tangga, melewati ruangan tengah, dan sampai di depan Juna. Juna meraihnya. Bingung.
“Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan Juna.”
Juna berjalan dan diiringi oleh Ceri. Menuju taman di belakang istana. Sungguh. Indahnya tak tertandingi. Ada sebuah gazebo yang terbuat dari kaca dan kristal. Berkilau di tengah danau yang jernih airnya. Di sekeliling danau itu tumbuh bunga-bunga yang tertata dengan rapi. Berwarna-warni seperti pelangi. Kupu-kupu berterbangan dengan sayap-sayap yang indah di dedaunan pohon perdu yanga asri. Hari demi hari ia lalui di istana yang megah  itu.
Suatu saat ia sedang berada di halaman atas istana megah itu, dimana ia biasa menanti hadirnya sunrise dan sunset yang mengagumkan. Istana itu memang benar-benar megah. Berada di puncak bukit yang di sisinya adalah lautan yang indah memesona. Gerbang istana itu tampak kecil jika dilihat dari tempat ia berdiri saat ini. setiap hari ia melihat perempuan yang berpakaian sederhana berjalan menuju istana dengan di kawal oleh penjaga istana. Namun ia tak pernah melihat perempuan-perempuan itu berjalan keluar ke istana. Entah. Mungkin mereka tenaga baru yang direkrut menjadi pelayan di istana ini.
Hingga suatu hari. Kala ia sedang menunggang unicorn putihnya di taman istana. Perempuan itu memanggilnya.
“Ayo ikuti bunda. Sudah waktunya kita melakukan ritual itu sayang.” Ucap Elena sambil berjalan meninggalkan ruang makan.
“Ritual apa bunda?” Tanya Juna sambil beranjak mengikuti langkah perempuan itu.
“Kau lupa? Hari ini genap usiamu 20 tahun. Kau harus melakukan ritual ini jika ingin kecantikan dan kekuatanmu tetap abadi dan tidak pudar. Dan ritual  ini akan berlanjut setiap sebulan sekali.”
Ritual? Kecantikan? Kekuatan? Keabadian? Pertanyaan itu berkelebat di pikirannya. Hingga mereka sampai di depan pintu yang menjulang tinggi.
Perempuan itu mengayunkan kembali tongkatnya. Pintu itu berdebam. Terbuka perlahan. Di dalamnya ada sebuah kolam dengan air berwarna merah. Air? tak tampak seperti air. Entah. Darahkah?
“Masuklah ke dalamnya.” Ucap Elena.
“Ta, tapi ini apa bunda? Aku tidak mau.” Jawab Juna.
“Masuk. Kau tidak bisa menolaknya.” Jawab Elena tegas. Sorot matanya menakutkan.
“Tidak. Aku tidak mau.” Jawab Juna hendak berlari keluar ruangan itu.
Perempuan itu mengayunkan tongkatnya. Pintu megah itu berdebam dan kembali tertutup. Juna mendorong pintu itu. Percuma. Tenaganya tak kuat untuk membuka pintu kokoh itu.
“Kau harus tetap hidup Juna. Untuk meneruskan kerajaan ini.”
“Ta, tapi apa yang ada di kolam itu?”
“Itu adalah harga yang harus dibayar untuk apa yang ingin kita inginkan Juna.”
“Tidak. Bukan ini yang aku inginkan.”
“Bukankah ini impianmu? Menjadi putri cantik yang hidup di kerajaan mewah? Bukan hidup di rumah tua dengan Mamahmu yang gila itu. Gila dengan penemuan-penemuan tak bergunanya?”
Saat itu Juna teringat pada ibunya. Ia merindukan ibunya. Ia menyesal kala itu membentak ibunya dan berkata bahwa ia membencinya. Sekarang ia tak butuh kemegahan, kecantikan, dan kekuatan ini. Ia hanya butuh ibunya.
“Mamah.” Ucapnya lirih dengan derai air mata yang mulai mengalir. Ia mengayunkan tongkatnya ke arah perempuan itu. Tongkat itu mengeluarkan petir yang membuatnya terpental. Namun itu tak seberapa. Kekuatan Juna tak mampu menandingi Elena.
Elena balas mengayunkan tongkatnya. Bukan untuk melukai Juna. Melainkan mengambil tongkat yang digenggam oleh Juna. Tongkatnya terlempar jauh darinya. Juna tak bisa melawan.
“Ayo cepat.” Perempuan itu menarik paksa tangan Juna dan menyeretnya menuju kolam berisi darah itu.
Juna meronta. Ah, sayang sekali tongkatnya tak bisa ia raih. Mereka sampai di tepi kolam itu.
“Setelah ini kau takkan pernah bisa kembali ke duniamu yang dulu. Hahahhhaa...” Ucap Elena dengan tawa yang mengerikan.
Hingga tiba-tiba saja Ceri, kucing Juna, berlari menerjang wajah Elena yang membuatnya terjatuh ke dalam kolam itu. Juna langsung berlari meraih tongkatnya dan mengayunkan ke arah pintu itu. Sepertinya Elena kehilangan tongkatnya dikubangan darah itu.
“Jangan buka pintu itu Juna. Jangan!!!”
Terlambat. Pintu itu terbuka. Juna meraih Ceri dan melangkah keluar pintu itu. Ia kembali ke ruang perpustakaannya. Segera ia menutup pintu itu. Tepat saat Elena hendak sampai ke pintu. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tersengal. Ia menghela napas dan memeluk Ceri.
“Juna, buka pintunya. Maafkan Mamah sayang.” Terdengar suara dari balik pintu kamarnya. Ibunya masih di sana? Jadi berbulan-bulan ia di dunia aneh itu tak merubah sedikit pun waktu di sini? Juna segera berlari. Membuka pintu kamarnya. Dan memeluk ibunya.
“Mamah, maafkan Juna. Maafkan Juna. Juna sayang Mamah.” Ucapnya dengan derai air mata.
“Mamah juga sayang kamu Juna. Maafkan Mamah.”

Ikhlaslah untuk Mengikhlaskan

“Ikhlaslah untuk Mengikhlaskan”
Isma Az-Zaiinh
25-02-2016


...وَلَا يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا۝   (الكهف: 110)
 Shodaqallahul ‘adzim
Kututup Al Qur’an bersampul emasku. Segera kulepas mukenah dan beranjak dari atas sajadah untuk mengambil wudhu. Sebentar lagi adzan maghrib. Di pondok mewajibkan semua santri untuk ikut sholat ber jama’ah . Darul Qur’an, itu nama tempat dimana aku dan puluhan temanku yang lain berteduh. Sekadar untuk menimba ilmu dan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an.
PING!!!
 “Ara, hp kamu bunyi terus tuh dari tadi.” Sahut Ima, sahabat sekamarku. Al Hafidz, itulah nama kamarku  di lantai tiga.
‘pasti dari dia.’ Ujarku dalam hati.
“Iya, biarkan aja Ma.”
“wuiihh, tumben Ra? Habis makan apa kamu? Biasanya langsung kalang kabut lari mengejar hp kalo hp kamu bunyi.” Timpal Ima.
“Makan hati” Jawab sekenaku sambil terus berjalan menuju tempat wudhu yang terletak di lantai satu.
Kulangkahkan kaki menuruni tangga. Perlahan.
“Allah...” Desahku dalam hati dan tiba-tiba saja air mataku mengalir. Langkahku terhenti. Dan kuterduduk di salah satu anak tangga lantai dua. Menyandarkan bahu pada dinding tangga. tak terasa bulir hangat mengalir dari mata, melewati pipi dan terjatuh. Disusul dengan tetes-tetes bening yang kian menderas.
Terdengar adzan berkumandang. Segera kuseka air mata dan bergegas untuk mengambil wudhu. Tidak ingin terlambat lagi untuk jama’ah. Meski dalam hati tangisku belum reda.
Usai sholat berjama’ah kumelangkah gontai menuju aula lantai dua. Tempatku dan teman-teman menyetorkan hafalanku. Rupanya air mata ini tak rela kuseka paksa. Menggenang dipelupuk mata dan siap membuncah meski kutahan sedari tadi. Setidaknya, tahanlah. Sampai ku selesai menyetorkan hafalanku.
Benar. Air mata ini pun jatuh seiring deret kalam yang kulantunkan di hadapan ustadzahku. Aku tergugu.
“Shodaqallahul ‘adzim.” Akhirnya aku pun akhiri setoranku yang hanya dua halaman tak penuh.
“Ada apa mbak? Ada masalah?” Tanya ustadzahku.
“Nggeh ustadzah.” Jawabku singkat.
Ikhwan yang kemarin kamu ceritakan mbak?”
Nggeh ustadzah.” Jawabku dengan derai air mata yang kian deras.
“Kemarinkan sudah saya katakan. Itu hanya cobaan untuk kamu. Cobaan orang yang sedang menghafal Al Qur’an memang banyak mbak. Salah satunya ya ikhwan. Cobaan untuk mengukur seberapa kuat kamu menggenggam Al Qur’an. Memang awalnya berat mbak. Perih. Tapi jangan sampai kecintaan kita kepada Al Qur’an pudar. Apalagi hanya karena ikhwan. Sabar. Tabah. Kalau sudah waktunya ia akan didatangkan tanpa terduga oleh Allah. Pilihan terbaik-Nya untuk kamu. Lepaskanlah. Ia hanya cobaan untuk mengukur seberapa besar cintamu  pada Al Qur’an.”
Panjang lebar ustadzah menasehati diri yang sering lalai ini. Sedikit lega. Serupa oase yang menyejukan gersangnya hati. Meski derai air mata ini tetap saja tak mau berhenti.
“Nggeh, matur nuwun ustadzah.” Aku mencium tangan ustadzahku dan beringsut mundur. Kembali ke kamar.
Kuraih hp ku yang sedari pagi kuabaikan. Benar. Tak ada pesan lain selain darinya. Banyak. Seperti biasa.
Semua ini berawal dari tujuh bulan yang lalu. Aku mengenalnya saat KKN (Kuliah Kerja Nyata), salah satu program di universitasku, UIN Sunan Kalijaga. Tak pernah terucap satu kata pun dari kami kata yang melambangkan perasaan. Tapi entah kenapa perasaan ini tumbuh subur di antara kami. Dia sama sepertiku. Mempunyai prinsip untuk menjaga diri hingga halal. Tidak ingin terjebak dalam kubangan dosa, yang lebih biasa kita kenal dengan pacaran.
Mungkin karena hal ini. Kami mulai mendiskusikan banyak hal. Mulai dari ritual paganisme, tragedi Palestina dan Suriah, aliran-aliran di Indonesia, dan banyak hal lain hingga urusan hati. Ah, hal ini memang paling krusial untuk kami bahas. Tapi setidaknya kami saling menguatkan. Untuk tetap teguh menjaga prinsip. Kami pun mempunyai banyak istilah untuk mengganti istilah jomblo. Terlalu frontal katanya. Mufrad mabni, jomblo fisabilillah, jomblo lillahi ta’ala, JOSS (Jomblo Sampai Sah), jomblo barokah, tuna asmara, mbolovers, dll. Dari semua istilah itu kami lebih suka mufrad mabni, tidak banyak yang mengetahui istilah itu.
Hari demi hari hingga sampai pada hitungan bulan. Komunikasi kami semakin intensif, bahkan selepas kami undur diri dari desa tempat KKN. Saat itulah mungkin kami mulai menyadari ada hal lain yang terjadi. Perlahan. Tumbuh dengan suburnya seiring meningkatnya intensitas komunikasi. Tak dapat kujelaskan. Ini pertama kalinya aku kontak dengan makhluk asing, jenis lain dariku, ikhwan.
Hingga lambat laun hal itu mengganggu aktifitas hafalanku. Menyadarkanku bahwa langkahku keliru. Apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini aku do’akan agar diberi hidayah oleh Allah. Memperbaiki diri. Menjaga ikhtilat dengan lawan jenis. Menjaga muru’ah. Aku malu pada diriku sendiri. Salahkah? Bukan duniaku-kah? Derai air mata ini semakin menjadi. Deras tak terkendali.
“Kenapa Ra?” tanya Ima yang kujawab hanya dengan gelengan kepala sambil tetap terisak dan tergugu. Ima lebih memilih diam. Dia tahu. Dia sangat tahu keadaanku. Tiga setengah tahun kita bersama. Dalam keadaan seperti ini aku hanya ingin didiamkan. Membiarkanku sendiri. Hingga reda dengan sendirinya.
Kubuka pesan darinya. Banyak. Seperti biasa. Dia menawarkan topik pembahasan yang berat. Pertanyaan yang membuat dahiku berkerut. Tapi aku tak berselera untuk menjawabnya. Apalagi membahas topik itu, yang biasanya membuat diskusi kami semakin panjang dan susah untuk dihentikan. Seperti biasa.
‘Aku rindu diriku yang dulu.’ Balasku di bbm.
‘Diri yang bagaimana?’
‘Diriku yang tak mengenal ikhwan.’
Lama tak ada balasan. Mungkin dia pun menyadari kekeliruan kami selama ini. berpikir keras.
‘Boleh minta tolong?’ Akhirnya aku membalas.
‘Minta tolong apa?’ Balasnya.
‘Unfollow instagramku atau antum tak blokir. Silahkan pilih.’
:’(   Hanya emot itu yang ia balas.
‘Ya sudah. Demi izzah-mu aku rela. Tak unfollow. :’( ‘
‘syukron.’ Balasku.
‘afwan. :’( ‘ Balasnya.
Tak ada bahasan lain. Tak ada balasan lagi. Dan air mataku masih saja setia mengalir. Kuletakkan hp ku. Aku kembali tergugu. Banyak sekali yang kupikirkan. Apakah di sana pun merasakan hal yang sama? Mengalirkan air mata dengan alasan yang sama?
Malam kian matang. Namun mata masih enggan untuk terpejam. Tangisku tak lagi tergugu. Hanya isak yang sesekali menyesakkan kala kelebat memori tentangnya muncul.
Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk mengambil keputusan itu. Dalam iringan derai air mata dan lantunanan nada itu, ku berjuang. Berusaha menata hati kembali. Mengikhlaskan. Dan benarkah aku bisa melepasnya dengan sebenar-benarnya ikhlas? Allah Maha Tahu apa yang ada di hati ini. Bismillah. Kontak bbm-nya aku DC. Itu artinya tak ada lagi alasan untuk kami berkomunikasi. Tak ada akses untuk kami kembali berkomunikasi. Mungkin ini yang terbaik. Aku hanya ingin menjaga hati. Aku hanya ingin hati kita lebih terjaga.
Malam kian pekat. Aku masih tergugu dengan sejuta perasaan berkelebat hingga kuterjatuh ke alam mimpi. Pukul tiga dini hari aku terbangun oleh isak tangisku sendiri. Ada apa denganmu wahai diri? Tak cukupkah air mata semalam membasuh lukamu? Hingga kau pun melanjutkan desah tangis itu dalam tidurmu. Dan kini, kau terbangun dengan air mata yang kau bawa dari mimpi.
Yakinlah. Itu adalah keputusan yang terbaik. Hanya ingin mengharap ridho Allah. Untuk menjaga hati. Untuk lebih menata diri. Biarlah, cukuplah Allah yang menyertaimu dalam kisah ini. Sudahi air mata ini. belum tentu yang di sana pun mengalirkan air mata yang sama denganmu.
Aku menghela napas.
“Allah, Allah, Allah.. .” Desahku lirih.
Kuseka air mataku. Melangkah gontai ke lantai satu. Berwudhu. Kutumpahkan semua tangisku dalam sujudku. Hingga tak bersisa. Ingin kuhabiskan air mata ini. berdamai dengan diri. Benar. Aku pun mulai merasa tenang. Menghela napas panjang. Kubuka Al Qur’an bersampul emasku yang kuabaikan semalam. Dengan hati yang mulai berdamai. Kurapal kembali deret kalam-Nya. Mengeja dalam pejaman mata. Hingga adzan subuh berkumandang. Kubergegas untuk sholat berjama’ah. Menyetorkan hafalanku. Dengan hati yang lebih tenang. Sekali lagi, dengan hati yang lebih tenang.
Seminggu berlalu. Sisa-sisa memori tentangnya memang masih berkelebat. Sesekali membuat bulir bening dari pelupuk mataku  mengalir. Tak apa. Hijrah  itu tidak instan bukan. Bertahap dan perlahan. Berproses untuk berdamai dengan  hati. Menjaga hati hanya untuk yang terjaga. Karena yang menjaga pasti akan dijaga. Ikhlaslah untuk mengikhlaskan.

CINTA MEREKA BERLABUH KARENA ALLAH

“CINTA MEREKA BERLABUH KARENA ALLAH”
Isma Az-Zaiinh
25-02-2016

             Fajar belum sempurna matang. Ia duduk di teras depan kosnya. Berselimutkan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun itu tak seberapa dibandingkan dingin di hatinya yang membeku. Bersama memori yang bersusah payah ia kubur dalam-dalam.
Di tangannya  tergenggam buku sketsa miliknya yang telah menemaninya selama enam tahun terakhir. Di sana menyimpan jutaan memori dalam setiap goresan sketsanya. Memori enam tahun silam. Ia berusaha menggali kembali serpihan-serpihan memori yang tak sepenuhnya bisa ia kubur itu. Mencoba mencairkan kebekuan hatinya. Berdamai dengan pilihan terberat yang harus ia pilih.
Ia membuka lembar pertama. Ingatannya langsung terseret ke dalam memori enam tahun silam. Torehan sketsa berlatarkan pagar kayu. Sesosok gadis berbalut jilbab hitam lebar dengan pandangan mata sendu. Ada sejuta guratan kesedihan di sana. Tangan kirinya menenteng tas punggung yang terlihat berat dan tangan kanannya menggenggam erat tangan ayah Azam. Ia baru saja kehilangan kedua penopang hidupnya. Anak dari sahabat kecil  ayah Azam. Itulah kali pertama ia berjumpa dengannya. Hingga sejak itu, ia resmi menjadi adik angkat bagi Azam. Zahra namanya.
###
Dingin udara fajar masih terasa. Di ufuk timur mulai terlihat saputan mega yang tak kentara. Fajar mulai menyapa. Ia membuka lembar berikutnya. Matanya beradu pandang dengan sketsa sepasang tatapan mata yang lembut, berbinar, dan tulus. Hatinya berdegup. Ingatannya kembali terperosok pada memori itu.
            “Abang, tunggu Ara.” Sahutya berlari-lari di halaman mengejarku. Terhitung enam bulan setelah perjumpaan pertama Azam dengannya. Butuh waktu selama itu untuk mengubah mata sendunya menjadi binar lembut yang tulus. Seperti pagi ini. Dan hari-hari berikutnya.
            “Ayo Ra, kita sudah terlambat.” Sejak saat itu, setiap hari mereka berangkat ke sekolah bersama. Dia di kelas 1 SMA, sedangkan Azam setingkat di atasnya. Setahun, dua tahun, dan tiga tahun berlalu. Tiga tahun itu merangkum sejarah baru bagi mereka. Tak ada kebersamaan di antara mereka sebelumnya. Hingga takdir mempertemukan. Mengukir kisah baru dalam sudut memori, dalam bilik ruang hati yang tersembunyi. Di sana tumbuh benih yang kian mengembang. Subur. Meski belum atau mungkin takkan pernah terjelaskan di antara mereka.
Selamat malam. Mimpi indah, Ara.’ Ia menutup percakapan via sms nya.
Hening
Tak ada balasan.
‘Mungkin sudah tidur.’ Ucapnya dalam hati. Ia meletakkan hp-nya. Meraih kuas dan menggoreskan cat dalam kanvas yang sedari tadi di hadapannya. Sedari kecil ia memang sangat suka melukis. Hingga ia pun kuliah mengambil jurusan seni rupa. Jurusan yang disarankan oleh Zahra. Sosok yang diam-diam menjadi begitu penting baginya.
Ini tahun pertama ia menimba ilmu di perantauan. Namun sudah banyak karya yang dihasilkan. Entah, ini yang keberapa. Yang jelas objek lukisannya berubah. Sejak tiga tahun yang lalu, ia lebih suka melukis sepasang mata dengan berbagai ekspresi. Sendu, berbinar, tulus, berkaca-kaca, dan banyak ekspresi lain yang menggambarkan perasaan dari pemilik sepasang mata itu. Pemilik sepasang mata yang diam-diam menjelma menjadi muse, inspirasi baginya. Ia sering mengikut sertakan karyanya di pameran. Karyanya dengan objek tak lazim itu lebih banyak menarik minat pengunjung. Tak sedikit lukisannya yang terjual dengan harga yang cukup mahal.
###
Ia mendesah pelan. Lembar demi lembar ia buka kembali. Perih memang. Seperti membuka luka lama. Namun ia bertekad, berusaha berdamai. Ia sampai pada lembar kesepuluh. Goresan sketsanya. Sepasang tangan lentik yang menggenggam sebuah kado. Ingatannya kembali tenggelam pada memori silam.
Kala itu senja mulai menyapa. Ara sedang duduk di taman rumah. Membaca buku yang sejak satu jam  lalu berada dalam genggamannya. Sesekali ia menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menatap gemercik air yang mengalir di kolam ikan.
“A, Ara.” Sahut Azam tergagap dengan kedua telapak tangan yang tersembunyi di balik punggungnya.
“Eh, Bang Azam. Ada apa bang?” Jawabnya seraya menoleh. Mengalihkan pandangannya dari buku yang sedari tadi mengalihkan dunianya. Demi menjawab sapaan itu. Sapaan dari orang yang lambat laun menjadi begitu penting baginya.
Azam bergeming. Bimbang. Mana yang akan ia berikan. Kedua-duanya kah?
“Abang? Ada apa?” Sergah Ara yang bingung dengan sikap kakaknya.
“Eh, Selamat ulang tahun Ara.” Ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam kado bersampul hijau, warna kesukaan Zahra. Sementara yang ada di genggaman tangan kirinya ia selipkan kembali ke dalam sakunya. Tertahan, lagi. Entah, ini kali keberapa ia gagal memberikan apa yang ada digenggamannya itu. Selalu saja. Ia tak mampu.
“Abang..., berapa kali Ara bilang? Ara tidak suka merayakan hari ulang. Nggak penting. Bukan dunia Ara.” Ceracau Zahra.
“Aih, siapa juga yang ngerayain? Abang kan  cuma mau ngasih kado ke kamu. Kalo nggak mau ya udah.” Sambung Azam dengan berpura-pura memasang wajah jutek sambil menarik kembali uluran tangannya yang segera disambar oleh Ara.
“Eh, kan udah dikasihkan ke Ara. Mana boleh diambil lagi?” Sanggahnya sambil tertawa memamerkan gigi singsul dan lesung pipitnya.
Ah, demi melihat senyumnya itu. Siapa yang tak luruh?
###
Perih. Semakin ia membuka lembar demi lembar itu. Semakin ia merasakan perihnya. Tapi ia tak mau berhenti. Ia harus bisa berdamai. Sekali lagi. Ia buka lembar berikutnya. Siluet wajah yang mengenakan toga dengan senyuman indah itu. Senyuman yang mengisi bilik ruang separuh hatinya. Tepat, bersamaan dengan kabar yang meluluh lantakkan impiannya dan  hampir menenggelamkan kehidupannya. Memori terberat yang sangat ingin ia lupakan. Namun kali ini, ia memaksa diri untuk kembali menyelami memori itu. Mencoba berdamai.
Seminggu setelah acara wisuda Zahra di Malang. Ia telah menyelesaikan pendidikan D3nya. Matahari telah lama tergelincir. Namun ia tetap tak beranjak. Setia menggores kuasnya di atas kanvas. Ia sedang menyelesaikan lukisannya yang akan dia hadiahkan kepada Zahra. Jika selama ini ia hanya melukis bagian tak utuh, entah mata, tangan, atau sebuah senyuman. Kali ini ia melukis wajah penuh. Wajah dengan mata yang berbinar tulus dan senyum lesung pipit miliknya. Ia berencana untuk memberitahu Zahra bahwa ia adalah muse yang selama ini ia ceritakan kepadanya. Inspirator bagi karya-karyanya yang selama ini ia rahasiakan. Ia pun berencana memberikan amplop bersampul hijau itu yang berulang kali ia gagal memberikan kepadanya. Amplop berisi surat yang mengungkap semua isi hatinya, yang ia pendam enam tahun lamanya.  Hingga hp yang sedari tadi tergeletak di sampingnya berdering.
‘Abang. Apa Ayah sudah cerita ke Abang?’
‘Cerita apa Ra?’ Balasnya sambil mengernyitkan dahi.
‘Ayah menjodohkan Ara dengan anak sahabat Ayah. Bulan depan. Ara harus bagaimana?’
Bagai tersambar petir. Palet cat lukis yang ada digenggamannya terjatuh. Jika itu keputusan Ayahnya ia tak bisa apa-apa. Terlebih ia adalah kakak bagi Ara. Setidaknya itulah yang orang-orang tahu. Bagaimana bisa ia menentang keputusan ayahnya dan menjelaskan yang antara Azam dan Zahra pun tak mampu saling menjelaskan. Ia tak tahu harus membalas apa.
‘Abang?’
Hening.
‘Ara harus bagaimana bang?’ Balasnya lagi.
Azam tak tahu atau mungkin takkan pernah tahu. Bahwa di sana pun ada gelisah yang mendebarkan. Menanti penjelasan atas perasaan yang ia pendam sejak enam tahun silam. Sama sepertinya. Ia pun tak mampu menjelaskannya. Hanya diam. Membiarkannya bersemayam dan tumbuh subur di sudut hati. Tersembunyi. Tak pernah terungkapkan.
Azam tak pernah tahu. Saat ini. di sana pun ada kegundahan. Berkecamuk di hati yang meronta menuntut penjelasan. Namun sekali lagi. Hanya hati yang berbicara. Seolah kata-kata itu kabur. Hanya air mata yang berbicara. Mengalir deras seiring gejolak hati yang tak terungkap.
“Halo, Yah.” Ucap Azam tercekat di ujung telepon.
“Zam, kamu kenal Hanan kan? Teman SMA-mu dulu. Dia melamar Zahra. Bagaimana menurutmu? Kau kan kenal dekat dengan Hanan?”
Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan Ayahnya. Sekarang ia benar-benar kehilangan daya. Ia terjatuh tersungkur dengan air mata tertahan.
“Di, Dia baik Yah. Ayah lebih tahu tentang dia. Dia baik untuk Zahra.” Entah kenapa. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu? Tapi itu memang benar. Hanan adalah sosok yang baik untuk Zahra. Berpendidikan dan beragama. Selain itu ia juga hafidz. Dia jauh lebih pantas untuk Zahra. Kini, air matanya benar-benar mengalir. Tak sanggup lagi ia membendungnya.
“Baiklah kalau begitu. Pulanglah bulan depan. Hanan dan keluarganya akan datang ke rumah untuk melamar.”
Azam tak menjawab. Ia menutup teleponnya. Takut ayahnya mendengar isak tangis tertahannya. Semenjak itu ia mematikan ponselnya hingga sebulan ke depan. Sempurna. Ia menyerahkan Zahra kepada sahabatnya. Ia tergugu. Baru kali ini ia menangis untuk seorang perempuan. Baru kali ini ia merasakan sakit yang begitu dalam.
###
Saputan merah di ufuk semakin nampak. Fajar menyingsing. Azam telah sampai pada lembar terakhir buku sketsa miliknya. Tak sadar, air matanya mengalir. Luka itu benar-benar ternganga, kembali. Ia tak mampu berdamai. Ia belum bisa menerima kenyataan itu. Hingga tiba-tiba saja sahutan itu terdengar. Sahutan yang sangat ia kenal.
“Abang.”
Azam menoleh. Tak percaya. Zahra sedang berdiri di depannya. Menatap sayu kepadanya. Bagaimana bisa? Seharusnya ia ada di rumah menanti kedatangan keluarga Hanan untuk melamarnya.
“Abang kenapa tidak pulang?” Ucap Zahra yang kali ini diiringi dengan derai air mata. Bulir bening itu jatuh mengalir melewati lesung pipitnya.
“Ka, kamu kenapa ada di sini?” Balas Azam tergagap.
Sebelum Zahra menjawabnya kedua orang tua Azam muncul dari balik pagar kosnya.
“Pulanglah nak. Ayah sudah tahu semuanya.” Ayah Azam berkata sambil memberikan buku sketsa milik Azam yang tertinggal di rumah.
“Pulanglah, bukan untuk perjodohan antara Zahra dan Hanan. Tapi kamu dan Zahra.”

Azam benar-benar tak menduga. Ia memeluk Ayahnya dan tergugu. Zahra pun semakin tergugu. Menangis dalam pelukan Ibu Azam yang juga turut menangis. Bukan tangis derita yang selama ini Zahra dan Azam pendam. Tapi tangis bahagia. Akhirnya cinta dalam diam itu pun dipersatukan dalam kisah yang tak terduga. Cinta mereka berlabuh karena Allah. 
 

Blogger news

Blogroll

About