Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 23, 2015

"كن مع النّاس كأن لا النفس كن مع الله كأن لا النّاس"

"كن مع النّاس كأن لا النفس كن مع الله كأن لا النّاس"
“Jika kau sedang berhadapan dengan manusia jadilah seolah-olah tak ada nafsu dan jika kau sedang berhadapan dengan Allah jadilah seolah-olah tak ada manusia”

Kita sering dibingungkan dengan tiga pertanyaan, siapakah orang yang paling penting? Kapan waktu paling penting? Dan apa hal yang paling penting?
Orang yang paling penting adalah orang yang ada dihadapan kita. Saat kita sedang berhadapan dengan seseorang singkirkanlah apa yang menjadi nafsu kita, prioritaskan dan anggaplah penting siapa yang sedang ada dihadapan kita. Begitu juga dalam mendidik, prioritaskan apa yang menjadi orientasi siswa didik kita, pahami apa yang mereka butuhkan, layani mereka dengan setulus hati dengan mengesampingkan kepentingan kita. Jadikanlah mereka objek terpenting yang menjadi pusat perhatian kita. Masuki dunia mereka, sehingga tidak ada lagi bidang studi yang sulit, semuanya menyenangkan dan tak terlupakan seumur hidup. Matematika sulit? Itu mitos! Bahasa Inggris sulit? Juga mitos, dan lain-lain. Bukankan bidang studi itu semuanya sama, yaitu butiran-butiran informasi yang disampaikan oleh guru kepada para siswanya. Posisikan siswa didik sebagai raja, ciptakan kondisi bahwa mereka membutuhkan sebuah informasi dan guru adalah pemberi informasi. Karena pada hakikatnya profesi menjadi guru bukanlah profesi untuk mencari uang tetapi mengajar, memberi kepada yang membutuhkan.
            Waktu sebenarnya terbagi menjadi tiga, kemarin, sekarang, dan esok. Seringkali kita terjebak antara dua waktu, kita sibuk menyesali hari kemarin dan sibuk berangan-angan akan hari esok hingga kita terlupa bahwa waktu paling penting adalah sekarang. Jika kamu ingin melakukan kebaikan lakukankah sekarang jangan menunggu esok atau terpaku dengan hari kemarin karena waktu yang telah lalu takkan kembali dan hari esok masih rahasia bagi kita.
Hal terpenting adalah ada pada waktu sekarang bersama orang yang ada dihadapanmu. Dalam mengajar fokus apa yang menjadi pembahasanmu saat itu juga. Jangan sibuk memikirkan diluar apa yang mnejadi kepentingan orang yang didepanmu. Berikanlah apa yang siswa butuhkan karena mereka cenderung lebih tertarik dengan hal yang ingin ia tahu dari pada apa yang kita sampaikan namun mereka tidak ingin tahu. Apa artinya, artinya kita itu dianjurkan untuk profesional, profesional dalam mengajar bahkan dalam hal apa pun. Totalitas dalam mendidik seseorang, berikan yang terbaik, berikan apa yang paling mereka butuhkan, berikan apa yang mereka ingin tahu. Dengan ini mereka lebih mudah menangkap ilmu yang kita sampaikan dan lebih membekas. Imu tersebut tidak hanya sampai ke telinga dan mata namun sampai ke hati sehingga mereka bisa langsung mengaplikasikannya.
Pengajar yang baik memiliki rasa cinta yang dalam dan kaya. Dia tidak hanya cinta pada siswa, pada anak-anak, pada mata pelajaran yang diajarnya, tapi secara mendasar dia cinta pada apa yang dia sedang dan senantiasa lakukan sebagai guru/pengajar. Dari cintanya pada peran yang dijalaninya dan keyakinan akan dampak dari kiprahnya terhadap segmen kehidupan siswa di masa sekolah, guru yang baik menjadi lebih konsisten dalam mencontohkan perilaku yang baik kepada siswanya.
Allah Swt dalam al-Quran menegaskan bahwa apa saja yang kita katakan harus kita amalkan. Demi mendidik fitrah manusia, Allah Swt memperkenalkan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan terbaik. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Allah Swt menyebut pribadi Rasulullah Saw sebagai teladan terbaik agar manusia terdorong untuk mengikuti perilaku beliau. Nabi Saw sendiri menyebut tujuan pengutusannya untuk mendidik akhlak manusia. Beliau bersabda, "Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Senin, Februari 24, 2014

BEBAS


Perjumpaan dengan Guru Mulia
Oleh: Isma Az-Zaiinh

Sabtu sore, 23 November 2013 adalah detik-detik penantian perjalanan menuju Jakarta untuk bertemu guru mulia Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz pimpinan Ma’had Darul Musthafa dan Daru Zahro Tarim, Hadramaut, Yaman. Sungguh saat-saat yang mendebarkan. Mungkin seperti itulah rasanya menanti perjumpaan dengan seorang kekasih. Bergemuruh rasanya hati ini. Lantunan sholawat tak henti berkejaran dengan nafas yang kian memburu. Sholallahala Muhammad... Sholallahala Muhammad...
Semilir angin malam mengantarkan perjalanan kami ke Banyumanik, rumah Ustadzah Nina, tempat kami berkumpul. Kami menaiki taksi dalam keheningan. Hanya suara hati kami yang berucap. Mengungkapkan perasaan masing-masing dan masih tetap dalam hati yang bergemuruh. Aku, Eva Muzdalifah, Ana Kurniati, dan Ratih Triana Purbayanti melayangkan pikiran masing-masing. Entah mungkin angan kami telah sampai di Jakarta sana. Memandang penuh cinta pada guru mulia Al Habib Umar.
Alhamdulillah, sampai di rumah Ustadzah Nina. Ya Rabb, hati ini tetap bergemuruh, tapi perjalanan belum dimulai. Kami sholat Isya berjama’ah kemudian berkumpul dengan wajah-wajah perindu Dzurriyat Rasulullah. Wajah-wajah tanpa prasangka. Subhanallah, selalu kuperoleh ketenangan yang tak kudapat dalam majelis lain selain berkumpul dengan mereka. Wajah-wajah yang mengajarkanku untuk senantiasa husnudzon kepada Allah dan makhluk-makhluk Allah.
‘Ayush’, bidadari kecil yang berbahasa ‘amiyah. Cantik jelita berceloteh dengan bahasa yang sebagian besar tak mampu kupahami. Kumau berbetah-betah bercengkrama dengannya. Menyenangkan dan bisa sekalian praktek berbahasa Arab.
Waktu pun mengingatkan rombongan kami untuk segera bergegas menuju bis dan mulai meluncur menuju Jakarta. Bismillah. Setengah tak percaya kuberkata dalam hati, aku akan ke Jakarta, bertemu kekasih Allah, kekasih hati.
Perjalanan kami awali dengan pembacaan Ratibul Haddad bersama. Subhanallah. Syahdunya malam ini. Lantunan shalawat Habib Syeh mengiringi perjalanan kami bersama kerlap-kerlip lampu malam. Gemuruh hati pun tak mau pergi.
Pukul 04:00, Ahad, 24 November 2013, kami transit di sebuah pom bensin. Subhanallah. Sudah sampai Jakarta. Kami pun bergegas untuk sholat subuh berjama’ah. Pukul 05:00 tepat kami melajutkan perjalanan. Lantunan Wirdul Lathif menemani perjalanan kami dalam curahan cahaya fajar yang lembut. Damai sekali rasanya. Usai kami melantunkan Wirdul Lathif, untaian siraman rohani Aa Gym pun mengiringi perjalanan kami. Menyejukkan.
Alhamdulillah. Sampai di penginapan Al Habsyi. Kami disambut hangat oleh tuan rumah. Segera kami menuju kamar dan bersih-bersih diri. Aku dan teman-teman dapat kamar di lantai dua. Kusempatkan diri tuk menikmati suasana pagi. Menghirup sejuk udara pagi yang sedikit mendung. Bertafakur, subhanallah wal hamdulillah telah sampai di Jakarta, semakin dekat dengan Habibana. Sekali lagi kuberucap dalam hati tak percaya. Alhamdulillah.
Pukul 08:30 kami menuju Cidodol untuk menghadiri Haul Fakhrul Wujud Syaikh Abu Bakar bin Salim yang dihadiri oleh Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Panasnya mentari ibu kota tak menyurutkan kami untuk melangkahkan kaki bergabung dengan jama’ah lain yang telah lebih dulu sampai. Subhanallah, ketika Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz melantunkan kalam-kalam penuh hikmah seketika itu angin berhembus menghalau panas yang sedari tadi cukup menggelisahkan. Bahkan bukan hanya itu, rintik-rintik gerimis kecil pun mulai turun seolah bertasbih menyambut kalam lembut dari beliau. Ya Rabb, cucuran air mata tak henti mengalirkan derai-derai penuh mahabbah kepada Habibana. Sejuknya hati ini, terucap dalam hati bersama luruhnya air mata yang seakan tak ingin terhenti, uhibbu ilaik....uhibbu ilaik... ya Habibana... T.T
Masih dalam selimut mendung dan rintik yang mulai tak kentara, kami beranjak menuju ke penginapan. Melaksanakan sholat dhuhur dan asar yang dijamak taksir karena sekitar jam dua nanti kami akan menuju Ma’had Al Fachriyah Guru Mulia Al Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Ahmad bin Jindan bin Syech Abi Bakar di Ciledug, Tangerang Selatan. Serombongan abaya hitam berpadu jilbab hitam dan sebagian ada yang bercadar melangkah gesit seusai turun dari bus. Melalui perumahan yang cukup ramai dan sampailah kami di Ma’had Al Fachriyah. Ya Rabb, penghuni-penghuni yang kucintai, kumencintai mereka keluarga Rasulullah SAW, kumencintai mereka yang mencintai Rasulullah SAW. Subhanallah, semua kulihat wajah-wajah teduh itu dibalut dengan jilbab dan cadar hitam. Ya Rabb, aku tak ingin pulang.
Kami masuk duduk bersama jama’ah lain, alhamdulillah rombongan kami mendapat tempat di dalam ruangan berkumpul bersama syarifah-syarifah, bersama ustadzah-ustadzah. Subhanallah, di sana pun an bertemu ustadzah-ustazadhku yang dari Tegal, ustadzah Fathimah bin Jindan istri Habib Abdullah Al-Haddad, ustadzah Karimah istri Habib Mahdi Al-Hiyed, ustadzah Zakiyah istri Habib Thoha, ustadzah Sakinah, dan ustadzah Khodijah, adik dari ustadzah Karimah yang akan melangsungkan akad nikah disaksikan oleh Guru Mulia Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz . Ya Rabb, kebahagiaan yang berlipat-lipat, mengobati rindu yang menyesakkan hati kepada beliau-beliau bidadari-bidadari bumi yang berwajah teduh. ‘uhibbu ilaik..., uhibbu ilaik,,,’ rintih hatiku dan masih dalam cucuran air mata yang tak terbendung. Ya Rabb, memandangnya saja mampu menyejukkan hati ini. Bagaimana tidak,  jiwa dan hati ini senantiasa merindukan perjumpaan dengan beliau-beliau, hati-hati yang lembut, hati-hati yang bersinar. Tausiyah dari beliau para habaib bagai percikan air di tengah sahara, menyejukkan, terlebih kalam beliau Habibana Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, tak kuasa air mata ini tak mengalir, memandang penuh cinta pada beliau, qith’ah (potongan) dari wajah Nabi Muhammad SAW. Subahanallah, jiwa dan hati kami sungguh diliputi cinta, mahabbah, kepada beliau-beliau kekasih Allah, kepada beliau yang memancarkan cahaya-cahaya Allah dan Rasulullah. Ya Rabb, kurasakan kenikmatan yang sangat berada dalam tempat ini, berkumpul, duduk bersama, memandang wajah-wajah teduh itu, wajah yang mengingatkanku kepada kekasih hati, Habinana Nabi Muhammad SAW.
Ceramah beliau diakhiri kemudian dilanjut shalat maghrib yang dijamak dengan sholat isya. Khusus bagi akhwat tak langsung bubar melainkan duduk bersimpuh melingkari menghadap wajah teduh, wajah mulia Hababah Nur istri Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Merugi sekali mereka yang pulang terlebih dahulu. Bersyukur kami yang mengikuti rombongan ustadzah Alina Al Munawwar. Selain kami mendapat tempat di ruangan bersama para syarifah, kami pun dapat duduk bersimpuh begitu dekatnya dengan beliau Guru Mulia Hababah Nur. Bahkan kami pun bisa mencium ta’dzim tangan mulia beliau dan tentunya dengan linangan air mata cinta yang tak terbendung. Bukan hanya itu, kami pun mendapat air do’a dari beliau yang kami bawa pulang dengan begitu hati-hatinya seolah harta berharga yang tak ingin kami kehilangannya. Lantunan-lantunan kalam lembut beliau limpahkan kepada kami. Deret demi deret kami tulis amalan-amalan yang beliau berikan kepada kami. Diantaranya cara memperkuat iman, yaitu dengan menjaga wudhu, sholat jama’ah, sholat dhuha, sholat taqwiyatul iman, meninggalkan hawa nafsu, dan tafakur. Selain itu beliau Guru Mulia juga mengamanatkan kami untuk menjaga empat waktu yang penuh barokah, yaitu sebelum maghrib, setelah maghrib, sebelum subuh, dan sesudah subuh. Akhirnya ceramah beliau pun diakhiri dengan pemberian ijazah kepada kami untuk meneruskan dakwah. Ya Rabb, bergemuruh rasanya hati ini kala kami bersama-sama mengucap ‘qobilna ijazah...’
Kami pun bertolak menuju penginapan Al-Habsyi dengan perasaan campur aduk, senang karena bisa berjumpa dengan beliau Guru Mulia, sedih karena harus berpisah dan melepas wajah teduh itu dari pandangan. Ya Rabb, an tak ingin pulang...
Sesampainya di penginapan kami langsung rebah, melepas lelah karena hampir tak ada waktu untuk kami bersantai-santai, namun lelah ini adalah lelah yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bismillah, kuatkanlah hamba yang lemah ini ya Rabb...
Esok hari, Senin, 25 November 2013, bersama terbitnya mentari yang bergegas kami pun tak kalah bersemangat, seolah berkejaran dengan detik jarum jam yang bergulir. Sungguh, gemuruh hati pun semakin dahsyat. Sebentar lagi kami akan berziarah ke maqbarah Guru Mulia Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Ya Rabb, benar-benar berkah sebuah wasilah, kuberada dalam rombongan orang-orang mulia, beliau Ustadzah Alina Al Munawwar dan Ustadzah Muna Al Munawwar, dzuriyat Rasulullah. Ziarah ini diakhiri dengan nasihat-nasihat dari Ustadzah Alina Al Munawwar ang membuat air mata ini enggan untuk kami bendung. Sebelum kami meninggalkan maqbarah beliau kami sempatkan satu per satu dari kami mencium ta’dzim kubah beliau yang diawali oleh ustadzah Alina Al Munawwar. Subhanallah, suasana haru menyelimuti hati-hati yang merindukan beliau, kekasih Allah, Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa.
Perjalanan kami lanjutkan menuju kediaman beliau Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Kumelangkahkan kaki masuk menuju rumah beliau, penuh keteduhan. Di tempat ini Allah pun mempertemukan kami kembali dengan guru kami, ustadzah Fatimah bin Jindan. Ya Rabb, kuberada dikediaman orang mulia, dikediaman orang yang kucinta, dikediaman kekasih Allah, sekali lagi, tak mungkin kubisa berada di sini jika bukan karena wasilah. Ya Rabb, dekatkanlah hamba dengan orang-orang yang Engkau cintai. Amiiiin....
Kami mengikuti majelis dzikir beliau Hababah Khodijah, sitri Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa yang dilanjut dengan nasehat-nasehat dan cerita mengenai Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa dari beliau Hababah Khodijah. Sungguh, air mata mengalir mengiringi kisah-kisah beliau. Mewakili bulir-bulir kerinduan yang kian deras kepada beliau kekasih hati, Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Diantara kalam-kalam mulia beliau, beliau mengatakan bahwa menzirahi rumah ‘auliya lebih afdhol daripada menziarahi maqbarohnya karena rumah ‘auliya adalah tempat naiknya amal ibadah. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada kami untuk menziarahi maqbaroh beliau dan kediaman beliau Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Sungguh, kebahagiaan yang tak mampu kami ungkapkan dengan kata-kata, hanya air mata cinta yang mampu menggambarkan betapa hati kami memendam buncah rindu yang teramat sangat kepada beliau, kekasih Allah, Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa. Lagi-lagi, perjumpaan kami dengan beliau Hababah Khodijah diakhiri dengan ijazah sholawat yang paling sering Al Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawa lantunkan, yakni shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad Saw kepada beliau lewat mimpi, yaitu: "ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM ". Shalawat ini beliau baca 5.000x setiap harinya. Dengan gemuruh hati yang tak mau lepas dan cucuran air mata yang tak mau berhenti, kami serempak mengucapkan ‘qobilna ijazah...’
            Dalam lalu lintas yang padat bus yang membawa kami pun terus merangkak berkejaran dengan waktu yang mulai mengisyaratkan mentari akan segera lingsir. Kami berniat untuk menjamak ta’khir sholat dhuhur. Perjalanan kami lanjutkan menuju majelis yang akan dihadiri oleh Guru Mulia Hababah Nur. Alhamdulillah, sampai. Kami disambut dengan ramahnya oleh wajah-wajah teduh berbalut abaya dan cadar hitam. Kami duduk, mendengarkan kalam demi kalam penuh nasihat dan sarat ilmu, meski sebentar, namun menyejukkan dan berbekas di hati, ‘Jika kau tak mampu mencium tangan para ‘auliya, cukuplah kau pandangi dengan pandangan cinta, bi nadzor, dan jika kau tak mampu memandang para ‘auliya padanglah wajah orang yang memandang para ‘auliya’.
            Kami kembali bertolak menuju penginapan Al Habsyi, persiapan untuk ke Monas, acara Majelis Rasulullah Saw. Ya Rabb, detik-detik inilah yang paling mendebarkan, sungguh, tubuh ini bergetar menanti detik-detik berkumpul bersama para hati perindu Rasulullah Saw. Menghadiri pembacaan maulid terbesar di dunia. Segalanya kami persiapan untuk acara puncak ini, ingin bertemu dengan kekasih hati, ingin datang dengan keadaan yang sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya. Tak ingin segala sesuatunya terlewatkan. Semuanya dari kami mengenakan abaya hitam dan cadar hitam, sebagian besar bercadar sebelum berangkat, tak terkecuali aku. Ya Rabb, syukur wal hamdulillah Engkau memperkenankan kami untuk hadir dalam majelis mulia ini, Majelis Rasulullah Saw. Lagi-lagi kubersyukur dengan barokah wasilah. Rombongan kami datang terlambat, sekitar pukul 20.00 kami baru berangkat dari penginapan menuju Monas. Namun setiba di sana rombongan kami dipersilahkan duduk di depan. Ya Rabb, lagi-lagi barokah wasilah, beliau guruku, kekasihku, Ustadzah Alina Al Munawwar dan Ustadzah Muna Al Munawwar. Jika tanpa wasilah hamba tak ada apa-apanya, meski berangkat dari pagi hamba tetap akan berada di kerumunan belakang, tak dapat memandang wajah Guru Mulia. Mungkin kiranya inilah gambaran padang mahsyar, kata guruku, Ustadzah Muna Al Munawwar suatu kala di majelis Al Batul yang aku dan teman-teman hadiri setiap hari ahad kedua dan ahad keempat di Madrasah Al Munawwar Kauman, Johar, Semarang. Jika tanpa wasilah, kita tak ada apa-apanya diantara seluruh umat manusia. Namun dengan wasilah kita akan mudah mencari beliau Rasulullah Saw untuk memohon syafa’at, meski kita dibangkitkan dari kubur paling akhir. Ya Rabb, jadikanlah hamba insan yang mencintai keluarga Rasulullah Saw, sehingga dengan cintanya akan membawa kami kepada cintaMu Ya Rabb....
            Subhanallah, sungguh skenario Allah begitu indah, di tengah-tengah lautan manusia itu Allah mempertemukan kami kembali dengan guru kami, Ustadzah Fatimah bin Jindan dan Ustadzah Karimah. Ya Rabb, kucium ta’dzim tangan mulia guru yang amat kucintai itu. Sungguh, air mata ini tak mau berhenti sejak pertama kami duduk bersimpuh menikmati alunan sholawat dan maulid. Subhanallah, sungguh terjadi lagi, kala Guru Mulia Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memulai kalam mulianya, angin datang berhembus membawa kesejukan menelisik hingga ke relung hati yang memendam rindu ini. Langit pun menjadi benderang seolah datang sebuah cahaya yang turut memuliakan majelis mulia ini, Majelis Rasulullah Saw. Ya Rabb, sungguh syahdu malam ini, penuh kenikmatan cinta kepada beliau kekasih Rasulullah, kekasih Allah...
            Tak terasa acara ini berakhir, ‘kenapa begitu cepat? Benarkah telah berakhir?’ ucapku membatin. ‘aku belum ingin pulang, aku tak ingin pulang, masih ingin di sini, di tempat penuh cinta, masih ingin memandang wajah beliau Guru Mulia...’ Hati ini terasa sakit kala bus itu membawa Guru Mulia menjauh, perih terasa seiring pandangan yang tak mau aku lepaskan dari memandang wajah teduh itu, wajah kelembutan itu, wajah penuh cinta itu, wajah qith’ah Rasulullah SAW... hati ini merintih ‘uhibbu ilaik, uhibbu ilaik, uhibbu ilaik ya Habibiy...’ :’(

FEATURE


Ziarah, Menapaki Jejak Para Panutan Umat
Oleh: Isma Az-Zaiinh

Matahari belum sepenuhnya nampak kala para santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah (PPDAW) berbondong-bondong menuju Masjid Ulul Albab, Sabtu (08/02). Pasalnya mereka akan melaksanakan ziarah yang memang diadakan untuk seluruh santri PPDAW dengan tujuan ke maqbaroh Syekh Maulana Jumadil Qubro Kaligawe, Syekh Mbah Cholil Bangkalan, Sunan Ampel Surabaya, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jombang, Jawa Timur.
Langit terlihat mendung, satu dua lampu jalan masih menyala, Masjid Ulul Albab (MUA) yang menjadi tempat berkumpul sebelum pemberangkatan ziarah nampak ramai oleh kerumunan berjaz biru dongker. Beberapa ada yang telihat sedang berfoto-foto ria dan sebagian yang lain bergerombol dengan mimik serius, rupanya mereka sedang rapat antar panitia dan koordinator. Usai rapat, panitia pun mengkondisikan peserta ziarah di halaman MUA untuk berdoa bersama yang sebelumnya diawali dengan adzan oleh Rian.
Sekitar pukul 06.40 ketiga bus pun berjalan beruntun membawa 130 santri menuju tujuan pertama, yakni maqbaroh Syekh Maulana Jumadil Kubro Kaligawe. Turun dari bus para santri pun disambut dengan rintik-rintik hujan dan hembusan hawa dingin yang membuat niat untuk berwudhu sedikit goyah. Bagaimana pun prosesi ziarah tetap berjalan lancar meski beberapa santri terlihat berusaha keras menahan kantuk. Entahlah, mungkin mereka terlalu asik pakcing semalam hingga waktu istirahat berkurang.
Usai pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh Abah Kyai Masrokhan, ketiga bus pun kembali merangkak ditengah guyuran gerimis yang semakin membesar. Rombongan peziarah ini hendak menuju ke tujuan kedua, yakni maqbaroh Syekh Mbah Cholil Bangkalan, Madura. Menginjak waktu duhur rombongan singgah di masjid Lasem untuk sholat duhur yang dijamak takdim dengan sholat asar. Seperti sebelum-sebelumnya, kembali mereka menyempatkan untuk berpose ria di depan blits kamera.
Masih dalam balutan rintik-rintik gerimis perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini suasana bus cukup ramai dengan celotehan, “Yo, deluk neh tekan Sura-Madu, sopo sing durung ruh Sura-Madu...?”. suasana pun semakin bergemuruh kala ada salah seorang santri yang berucap, “Iki lho wes tekan Sura-Madu” kala bus melewati jembatan besi biasa. Akhirnya dalam balutan pekat malam Sura-Madu pun menyuguhkan pemandangan yang cukup eksotik, meski tak seeksotik pesona senja.
Jarum jam menunjukan pukul 19.25 kala ketiga bus itu memuntahkan penumpangnya yang mulai berhamburan menuju masjid Madura, maqbaroh Syekh Mbah Cholil Bangkalan. Di sinilah mulai terjadi kesalahan komunikasi. Panitia memberikan komando kepada peserta ziarah untuk makan malam dan bersih-bersih hingga pukul 21.00 kemudian dilanjut sholat berjama’ah dan ziarah. Namun Abah Kyai menghendaki para santri melaksanakan sholat berjama’ah dan berziarah dulu. Kendati terdapat kesalahpahaman tersebut perjalanan ziarah ini tidak lepas dari rencana, bahkan lebih awal dari jadwal waktu yang diperkirakan. Usai sholat maghrib yang dijamak takhir dengan sholat isya rombongan ini melakukan khotmil qur’an yang dilanjut dengan tahlil dan do’a.
Bertolak dari maqbaroh Syekh Mbah Cholil Bangkalan rombongan pun menuju maqbaroh Sunan Ampel Surabaya. Sesampainya di tempat tujuan satu persatu santri turun dari bus dengan langkah gontai. Maklum, baru saja terlelap mereka langsung dibangunkan oleh para panitia. Namun mata kembali terbelalak kala disuguhkan warna-warni barang dagangan yang melambai-lambai. Terlebih kala seteguk air barokah yang disediakan di sana melewati kerongkongan, “Nyesssss...”, nyawa serasa hidup kembali.
Malam semakin pekat, namun tak menutupi wajah sumringah para peziarah yang berjalan berduyun-duyun menuju bus dengan barang belanjaan di kedua sisi tangan. Bus pun terasa semakin sesak. Kendati demikian tak menyurutkan semangat mereka untuk berjalan-jalan ke alam mimpi. Lengang. Berselimutkan gelap malam bus merangkak berguncang-guncang membawa para peziarah menuju ke maqbaroh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jombang, Jawa Timur.
Matahari masih enggan menampakan diri kala bus sampai di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Usai melaksanakan sholat subuh berjama’ah para peziarah diberi waktu untuk sarapan dan bersih-bersih hingga pukul 08.00. setelah itu rombongan pun berziarah ke maqbaroh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Usai berziarah para santri mulai berhamburan menyerbu segala macam yang berbau oleh-oleh. Rupanya panas yang menyengat tak menyurutkan mereka untuk berburu buah tangan. Beberapa terlihat masih asik berpose dengan berbagai macam gaya di depan kamera yang sedari tadi tak lepas dari tangan.
Setelah puas ketiga bus pun kembali merangkak membawa muatan yang terasa semakin berat menuju Semarang. Berbeda dengan sebelumnya, perjalanan pulang ini terasa lebih singkat. Bertepatan dengan kumandang adzan maghrib para peziarah turun dari bus dan berjalan beriringan menuju Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah.

FEATURE


Malam Keberkahan Simtu Duror
Oleh: Isma Az-Zaiinh

            Simtu Duror merupakan risalah karangan Al Habib Al Iman Al Allaamah Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi yang mempunyai arti ‘Untaian Mutiara’. Sebagaimana judulnya karangan tersebut berisi untaian-untaian pujian kepada beliau Nabi Muhammad Saw. Karangan agung yang mengisahkan kelahiran manusia agung, Rasulullah Saw yang di dalamnya juga mengisahkan akhlak, sifat, dan riwayat beliau.
            Jum’at malam (06/2) suasana di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah terasa sakral kala para santri berkumpul di halaman pondok dengan pakaian serba putih. Mereka nampak khusyu membaca ratibul haddad bersama-sama dalam acara ‘Malam Keberkahan Simtu Duror’ yang merupakan agenda rutin pondok.
            Usai pembacaan rotibul haddad acara tersebut dilanjutkan dengan pembacaan simtu dorror yang diselingi dengan kosidah-kosidah. Para santri nampak sangat menikmati, sesekali turut menyambung pembacaan simtu durror maupun kosidah. Beberapa ada yang menggoyang-goyangkan punggung menikmati kosidah yang dilantunkan dengan penuh penghayatan. Ada juga yang menghentak-hentakan kaki atau tangan sekadar mengikuti alunan hadroh yang terdengar enak ritmenya.
            “Sholallahu ‘alaih..., sholallahu ‘alaih....” terdengar sahut menyahut mengiringi pembacaan simtu duror membuat suasana semakin sakral. Terlebih kala mahalul qiyam, para santri terlihat begitu khusyu di tengah tebaran pandan dan melati. Beberapa diantaranya ada yang memejamkan mata, menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi, bahkan ada pula yang terlihat menyeka air mata.
            Kosidah-kosidah masih terus dilantunkan hingga jarum jam menunjukan pukul 22: 00 yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Idam Kholid, salah satu ustad di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah.
            “Alhamdulillah kita sudah melangkahkan kaki satu langkah untuk lebih mendekatkan diri kepada Rasulullah Saw yang semoga akan membawa kita lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.” Ucap Zayadi, salah satu santri asal Brebes, usai pembacaan do’a. Acara pun dilanjut dengan pengumuman-pengumuman yang diawali dari pak lurah Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah. Ia menyampaikan bahwa besok usai ngaji bandongan akan diadakan ro’an atau bersih-bersih dan setelah itu akan ada pengobatan herbal gratis bagi para santri. Selain memuji para santri putri yang rajin tadarusan fajar, pak lurah pun memberi pesan kepada santri putra untuk lebih rajin tadarusan seperti santri putri.
            Kehebohan terjadi kala Rian, ketua panitia ziarah akbar, menyampaikan pengumuman mengenai teknis ziarah. Terdengar celetukan-celetukan yang mengundang gelak tawa para santri. Rian menyampaikan bahwa ziarah akan dilaksanakan sabtu, 8 Februari 2014 dengan tujuan ke maqbaroh Syeh Maulana Jumadil Qubro Kaligawe, Syekh Mbah Cholil Bangkalan, Sunan Ampel, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jombang, Jawa Timur. Ia juga menghimbau kepada para santri agar membawa jaz almamater dan datang tepat waktu saat pemberangkatan. Adapun mengenai denah tempat duduk akan diumumkan esok hari.
            Malam semakin mendekati kata larut hingga acara ‘Malam Keberkahan Simtu Duror’ pun diakhiri. Para santri mulai beranjak dan berbondong-bondong menuju aula ndalem untuk menyerbu bubur kacang hijau yang memang telah disediakan untuk para santri. Tak butuh waktu lima menit nampan-nampan berisi bubur kacang hijau pun sudah tersapu bersih.

OPINI


Satu Burung di Tangan Lebih Berharga daripada Seribu Burung di Angkasa
Oleh: Isma Az-Zaiinh

Rabu, 19 Februari 2014 aku dan kakakku pergi ke salah satu super market di kota Tegal. Setelah memarkirkan motor kami pun berjalan beriringan masuk ke super market. Bingung mau mulai dari mana. Akhirnya kami pun naik lift dan langsung ke lantai atas. Aku pun berinisiatif mengajak kakakku ke toko buku yang ada di super market itu. Kesalahan pertama, yaitu kami pergi tanpa tujuan, akhirnya kami pun bingung apa yang akan kami beli. Setelah muter-muter sekitar satu jam, lihat sana, lihat sini kemudian pandanganku pun tertumbuk pada sebuah jam tangan mungil berwarna putih dengan tali kecil. Cantik. Ada daun kecil di samping jarum jam itu yang membuatnya terlihat lebih cantik. Setelah meminta persetujuan kakak akhirnya aku pun membeli jam tangan itu. Kami pun berjalan ke kasir dan terjadilah trouble. Jam tangan itu tak terdeteksi harganya, kami pun menunggu lama. Jenuh juga kemudian kakakku bilang, “Cancel aja deh, nyari di tempat lain juga banyak.” Kesalahan kedua, entah kenapa dengan patuhnya aku pun mengikuti sarannya. Kami bertolak ke super market lain. Setelah satu jam mencari, nihil. aku tidak menemukan yang lebih bagus atau setidaknya sama bagus. Aku pun mengajak kakakku kembali ke saper market yang tadi tapi kakakku tidak mau. Kami pun pulang. Akhirnya sepanjang jalan aku menyesali kenapa tadi tidak beli saja jam tangan itu.
Kejadian ini mengingatkanku tetang sebuah kisah. Suatu hari ada seorang kyai yang menyuruh kepada santrinya untuk mengambil bunga yang paling indah di sebuah taman, tapi syaratnya santri tersebut tidak boleh berbalik arah. Kemudian santri itu melaksanakan perintah sang kyai dan kembali ke kyai tersebut dengan tangan kosong. Sang kyai pun bertanya kenapa ia tak membawa bunga. Santri itu menjawab, “Saya sudah menemukan bunga yang paling indah, namun saya tidak langsung mengambilnya, saya terus berjalan barangkali di depan sana saya menemukan yang lebih indah. Tetapi saya tak menemukan bunga yang seindah bunga itu.”
Dari kisah ini kita bisa melihat bagaimana sifat manusia itu tidak mudah puas. Selalu ingin mengharap lebih. Lupa dengan apa yang ada di hadapan dan silau dengan angan-angan. Bukankah lebih arif jika kita mensyukuri apa yang berada di genggaman. menyikapinya sebagai bentuk pemberian Allah yang terbaik untuk kita. Belum tentu yang di luar sana lebih baik karena apa yang menurut kita baik belum tentu itu baik di mata Allah. Begitulah manusia, seringkali kita terlalu sibuk menyesali apa yang belum kita miliki dan lupa mensyukuri apa yang telah kita miliki.


Kamis, Februari 06, 2014

FEATURE

Segudang Unek-unek pun Tersampaikan
Oleh: Isma Az-Zaiinh

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Di bawah lampu temaran aula putra dan putri, kata bijak itu dilontarkan Bu Lurah Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah dalam acara ‘Sharing-sharing with Pengurus’ pada Rabu malam (05/2).
Menurutnya setiap tempat mempunyai aturan masing-masing. Tak terkecuali Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah yang menyuguhkan sederet peraturan untuk para santri guna ditaati, bukan dilanggar. Entah itu peraturan tertulis maupun peraturan yang tidak tertulis. Demikianlah kiranya makna dari peribahasa yang ia sampaikan di awal acara tersebut.
Melalui acara ini pengurus bermaksud menciptakan sebuah wadah untuk menampung unek-unek seluruh santri. Dengan begitu pengurus akan lebih tahu apa keinginan santri dan bisa memikirkan pemecahannya serta merealisasikannya. Selain itu dengan adanya acara ini juga diharapkan antarsantri dan pengurus dapat lebih saling mengenal dan memahami sehingga tidak tercipta kesenjangan melainkan kekeluargaan yang kental.
“Acara ini bagus. Bisa saling berbagi unek-unek, lebih memahami antar pengurus dan santri.” ucap Umi, mahasiswi PKK Tataboga, kala ia ditanya pendapatnya mengenai acara tersebut. Rupanya ia mempunyai pemikiran yang sejalan dengan tujuan awal diadakannya acara ‘Sharing-sharing with Pengurus’.
Berbeda dengan Umi, Miss X (nama samaran), menyebutkan bahwa acara ini terlalu menyita waktu karena kurang dikonsep dengan baik sejak awal. Ia juga mengatakan harusnya para santri diberi pemberitahuan dulu jadi sudah menyiapkan apa yang akan disampaikan. Selain itu hendaknya pertanyaan ditampung kemudian dikelompokan yang sama baru dijawab secara langsung agar tidak terjadi pengulangan pembahasan unek-unek yang sama. Ia juga menambahkan hendaknya waktu dibatasi setiap pembahasan unek-unek perkamar.
Terlepas dari pendapat Miss X, acara ‘Sharing-sharing with Pengurus’ tersebut berjalan cukup lancar. Tepat pukul 20: 15 acara pun dimulai dengan diawali penyampain unek-unek dari kamar Ar-rahman dan dilanjut tanggapan dari para pengurus. Begitu seterusnya hingga setiap kamar mendapat kesempatan untuk menyampaikan unek-uneknya. Pembahasan demi pembahasan terus mengalir seiring jarum jam yang tak berhenti berdetik. Seumpama air yang memancar setelah sekian lama tersumbat.
Setiap departemen pengurus pun mendapat masukan-masukan yang terlontar dari para santri. Di antaranya mengenai sistem penggembokan yang kurang efektif, piring yang menumpuk di gedung barat, peralatan KLH yang kian menghilang, jam malam yang tak diindahkan, presensi malam yang sering terabaikan, takziran untuk denda kepulangan, sikap pengurus yang kurang menyenangkan, salat jamaah yang sering ditinggalkan, presensi Bandongan yang menimbulkan ketidakjelasan, lorong dan rak sepatu yang berantakan, hingga werog yang tak absen untuk berkeliaran.
Semakin malam pembahasan semakin dalam dan memanas. Terlebih kala ada santri yang turut menyanggah tanggapan dari pengurus.
“Seharusnya dibuat tim khusus buat werog” ucap Intan, mahasiswi semester 4 Program Pascasarjana UNNES yang membuat seisi aula gempar dengan gelak tawa para santri. Setidaknya hal ini mampu meredam suasana yang kian memanas.
Sebagaimana harapan para santri yang lain, Suci, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab ini berharap dengan diadakannya acara ini akan menghasilkan solusi atau kebijakan baru yang enak bagi pengurus maupun santri.
Berbeda dengan Suci, Intan berharap pengurus bisa lebih memperbaiki diri, yakni menjadi tauladan bagi santri lain. Selain itu ia juga berharap seluruh santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah bisa lebih memiliki kesadaran untuk menjaga kebaikan pondok dan tidak mengedepankan keegoisan tetapi menjalin kekeluargaan.

Jarum jam menunjukan waktu pukul 23: 46 kala acara ini ditutup dengan pembacaan doa bersama. Terlihat satu persatu santri bangkit dengan raut muka yang sedikit menahan kantuk.
 

Blogger news

Blogroll

About