Sabtu, Mei 28, 2016

Aku, Kau, dan Al-Qur'an

“Aku, Kau, dan Al-Qur’an”
Isma Az-Zaiinh
10-06-16


... وَلَآ تَسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُواْ يَعْمَلُوْنَ ۝  (البقرة: 141)    
Shodaqallāhul ‘adzīm"
Baru satu juz. Aku menghentikan muraja’ahku. Jarum jam menunjukkan angka dua. Masih ada waktu panjang untuk menantikan adzan subuh. Aku masih duduk di atas sajadah berbalut mukenah berwarna hijau dengan Al-Qur’an yang setia menemani. Al-Qur’an bersampul emas yang menjadi saksi bisu kisah perjuanganku yang kumulai enam tahun silam.
Kuusap pelan halaman Al-Qur’an yang baru selesai kubaca. Akhir juz satu. Ada bercak gelap di sana. Bekas tetes air mata yang telah lama mengering. Namun jejak memori yang tersimpan di dalamnya takkan pernah kering. Sesekali membasuh hati dan membuat basah oleh tetes air mata yang kembali mengalir. Seperti kali ini. Setetes bulir bening kembali terjatuh. Menyeret memoriku ke masa enam tahun lalu. Kala itu, keluargaku sowan ke ndalem Abah Kyai, memasrahkanku untuk mondok di Ponpes Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah.
“Ngapalke Al-Qur’an yo nduk, ngaji karo kuliahe sing sregep, lanjut S2 yo, ben koyo Mbak Muz.” Dawuh Abah Kyai. Sekejap tertegun. Seolah beliau tahu kegundahanku selama ini. Menelisik hingga ke relung hati. Ada keinginan terpendam di sana. Lama tak mampu kuungkapkan.
“Ng, Nggih Bah.” Ucapku tergagap dihadapan Abah Kyai dan kedua orang tuaku.
Itulah awal dari lika-liku perjalanku. Sebuah perjalanan yang tak mudah. Perjalanan untuk sebuah cita yang kubalut dalam keniatan dan iringan restu kedua orang tua. Berazam untuk menjaga kalam-kalam suci-Nya. Mematri dalam hati dan ingatan hingga menjadikannya nafas dalam setiap helaan kehidupan.
###
Kutersenyum mengingat kejadian itu. Al-Qur’an bersampul emasku masih dalam genggaman. Kubuka lembar-lembar berikutnya. Juz dua, juz tiga, hingga sampai pada juz enam. Ingatanku kembali terperosok ke masa silam. Seringkali kutergugu kala itu. Mencipta bercak yang tak lagi sedikit. Menoreh sejarah dalam tiap genangannya.
“Lho, niat awalmu opo nduk? Kuliah sambil mondok? Atau mondok sambil kuliah? Wis iku dipikir sek sing tenanan.” Dawuh beliau kala kusowan untuk meminta saran dari beliau. Entah, ini kali keberapa kumenangis dan menumpahkan semua keluh kesahku di hadapan beliau. Duh, Abah, maafkan diri tak tak tahu diri ini, yang seringkali menyita waktumu hanya untuk membagi air mata.
 “Yo prioritaske sing dadi kewajibanmu mbak. Ora usah melu organisasi nek ngabotke sampean. Madrasah Diniyah kan yo ora wajib kanggo santri tahfidz tho? Nek kewalahan yo ora usah melu Madin. Sing penting Al-Qur’ane mbak. Nderes neng ndi wae iso tho? Ora usah isin ngelakoni penggawean apik. Sing penting Allah ridho, ora usah nggolek ridhone menungso, ora bakal ono enteke.” Dawuh Ustadzahku.
Benar. Aku memang harus bisa memilih mana yang diutamakan. Akhirnya aku melepas semua organisasi kampus yang kuikuti. Seperti dawuh Abah, kita harus bisa mengukur kadar kemampuan diri. Jika merasa tidak mampu maka jangan mengambil tanggung jawab yang nantinya tidak bisa kita pertanggungjawabkan.
###
Kini ujung mataku mulai berembun. Ada tetes yang menggenang di sana. Tak menunggu hitungan waktu. Bulir bening pun mengalir melewati pipi. Kembali kubuka lembar-lembar Al-Qur’anku. Perlahan. Hingga pada juz 12 kuterhenti. Membuka kembali memori yang terselip rapi dalam tiap jengkal kalam indah-Nya. Kala hatiku menuai uji.
 ‘Assalamu’alaikum. ‘Afwan, apakah benar ini mbak Husna?’  Ada sebuah sms.
‘Wa’alaikumussalam. Iya benar. ‘Afwan, ini siapa ya?’ Balasku.
‘Saya Ashdaq delegasi MTQ dari UIN Sunan Kalijaga Jogja. ‘Afwan mbak, sepertinya piala kita tertukar. Kok saya menerima piala juara dua cabang lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an  atas nama Zakiyatul Husna ya?’ Balasnya panjang lebar.
Aku segera mengecek pialaku. Benar. Piala di hadapanku bukan milikku. Melainkan atas nama Muhammad Ashdaq Fillah juara dua cabang lomba Musabaqah Tafsiril Qur’an.
‘Iya mas. Piala kita tertukar. Terus bagaimana ini? Saya sudah diperjalanan menuju Semarang.’ Balasku yang kala itu memang sedang di bus perjalanan pulang bersama rombonganku.
‘Ya sudah mbak, nggak papa. Semoga saja nanti kita ditakdirkan bertemu, jadi bisa sekalian nuker piala. He.’ Balasnya yang seketika membuatku tertawa tertahan.
Hari berganti hari, minggu, hingga sampai pada bilangan bulan. Komunikasi semakin intensif. Tidak hanya melalui sms. Kami pun sudah bertukar semua sosmed, mulai dari facebook, twitter, wa, wattpad, tumblr, bbm, instagram, line, hingga blog.
Entah bagaimana aku membahasakannya. Perbincangan kami mulai merambah pada topik yang tak lagi ringan. Seringkali ia menanyakan kepadaku hal yang langsung membuat dahiku berkerut. Sekali itu langsung menjadi diskusi panjang diantara kami. Tak hanya sekali. Bahkan seolah telah menjadi rutinitas.
Hingga lambat laun hal itu mengganggu aktifitas hafalanku. Menyadarkanku bahwa langkahku keliru. Apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini aku do’akan agar diberi hidayah oleh Allah. Memperbaiki diri. Menjaga ikhtilat dengan lawan jenis. Menjaga muru’ah. Aku malu pada diriku sendiri. Salahkah? Bukan duniaku-kah? Derai air mata ini semakin menjadi. Deras tak terkendali.
‘PING!!!’
‘Keif?’ Balasnya.
‘Ada yang hilang.’
‘Apanya yang hilang?’
‘Diriku yang dulu, yang tak mengenal ikhwan.’
Lama tak ada balasan. Mungkin ia pun mulai menyadari kekeliruan kami selama ini.
Boleh minta tolong?’ Akhirnya kumembalas.
‘Insya Allah, minta tolong apa?’
‘Unfollow semua sosmedku’
Lama lagi tak ada balasan.
‘Aiwa, bismillah, demi menjaga izzah dan iffahmu, aku rela.’ Balasnya kemudian.
‘Tapi Anti beneran nggak mau pacaran kan?’ Balasnya lagi.
‘Insya Allah, do’akan ya.’
‘Du’a bidu’a. Jomblo sampai halal. Hamasah.’
‘Aamiin.’  Hanya itu balasku. Semenjak itu tak ada lagi komunikasi antara kami. Entah di sana, air mataku telah menganak sungai. Kekuatan apa yang mendorongku untuk mengambil keputusan ini? Hanya azimat dari Ustadzahku yang membuatku tenang kala kumenceritakan kepada beliau akan ujian hatiku ini. Ikhlaskanlah untuk mengikhlaskan, karena yang menjaga pasti akan dijaga. Bismillah, demi Al-Qur’an, aku mengikhlaskanmu.
###
Kumenghela napas. Sekadar mengurangi derai yang tak mereda. Mukenah hijauku benar-benar telah basah oleh air mata. Kubuka lembar berikutnya. Sesekali kutercekat kala ingatanku terseret ke memori silam. Hingga sampai pada juz 18. Kala kuhampir saja melepas Al-Qur’an dalam genggamanku.
Hampir sebulan lebih aku terbaring tak berdaya. Entah itu di rumah atau di rumah sakit. Tak ada diagnosa jelas mengenai sakitku. Bahkan ada yang mengatakan aku diganggu makhluk halus.
Hampir saja kumelepas Al-Qur’an dalam genggamanku kala keluargaku merekomendasikan hal itu kepadaku. Sampai pada suatu hari Ustadzah menjengukku.
“Sing sabar mbak. Ujian wong ngapalke ncen akeh. Salah sijine sakit. Eling ngendhikane Abah Kyai tho? Mau, Mampu, Menyempatkan. Wis, iku kuncine mbak. Aku yo wis pernah ngalami abote proses ngapalke. Sampean istirahat sek. Tenangno pikiran. Nek wis sehat, ngaji meneh mbak. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. Sopo ngerti mbak, sakit iki dadi dalane sukses dunia akhirat. مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ” Sambung beliau.
“Aamiin” Ucapku lirih dengan derai air mata. Meraih tangan beliau dan menciumnya.
Panjang lebar beliau menasehatiku. Serupa gerimis dalam gurun sahara. Hatiku kembali teduh. Terkumpul kembali kemantapan hati yang kutekadkan tiga tahun silam.
###
Alhamdulillah.” Desahku lirih. Tetap dengan derai yang agak sedikit mereda.
Kembali kubuka lembar Al-Qur’an yang kugenggam. Satu per satu. Hingga sampai pada juz 22. Kala kuhadapkan pada dua pilihan. Hingga aku pun tak tahu harus menangis atau bahagia.
Suatu keajaiban. Aku sembuh total dari semua diagnosa dokter yang berbeda-beda. Entah ini gangguan jin atau bukan. Allah telah mencabut ujian sakitku. Alhamdulillah. Segera kukejar ketertinggalanku, baik itu kuliah maupun Al-Qur’anku. Hingga aku berhasil menyelesaikan S1-ku. Wisuda.
“Nduk. Kenal Furqon?” Tanya Ayahku dalam perjalanan pulang usai wisuda. Sedikit kaget. Kumenatap Ayahku yang tetap khusyuk menyetir mobil yang kami kendarai. Berharap kumenemukan raut yang berbeda dari guratan wajah beliau. Sepertinya aku tahu akan kemana arah pembicaraan Ayahku.
“Kenal Bah.” Jawabku singkat.
“Sesuk meh dolan ning omah nduk.”
“Badhe nopo nggih Bah?”
“Nglamar kowe tho nduk.” Deg. Kuarahkan kembali pandanganku pada beliau. Tak ada raut yang berubah. Sepertinya beliau serius. Benar, dugaanku.
“Al-Qur’ane kulo dereng khatam Bah.” Sanggahku.
“Kan yo iso ngenteni tho nduk.” Skakmat. Bagaimana ini? Entah kenapa aku tak begitu antusias menanggapinya. Seolah hatiku telah tertutup. Namun siapa yang telah menutupnya? Aku tak tahu.
“Duko Bah. Kulo khatamke Al-Qur’an kalih S2 riyin. Nembe kulo mikir jodoh nggih Bah.”
“Yo wes, karepmu nduk.” Jawab Ayahku datar. Sepertinya beliau tahu pilihanku tak bisa diganggu gugat.
Dua tahun pun berlalu. Aku wisuda S2 sekaligus wisuda khataman Al-Qur’anku. Tak kusangka aku bisa melaluinya. Hingga tiba-tiba saja ada seseorang yang datang kerumahku. Sendiri. Tak ada pemberitahuan sebelumnya. Ia melamarku.
###
Kali ini aku tersenyum, tidak, lebih tepatnya tertawa yang tertahan.
“Lho, kenapa dek? Kok berhenti muraja’ahnya?” Sahut sosok yang duduk di depanku. Sama sepertiku, di atas sajadah dengan Al-Qur’an digenggaman. Ia baru tersadar kalau sedari tadi aku menghentikan muraja’ahku. Mungkin karena ia terlalu khusyuk menikmati muraja’ahnya.
“Nggak papa mas.” Sahutku sambil mengusap air mataku dengan mukenah hijau yang kukenakan.
“Lho, kok malah nangis? Kenapa dek?” Ucapnya dengan nada sedikit khawatir.
“Nggak papa mas. Hanya terharu dengan skenario Allah. Alhamdulillah, Husna bisa bertemu lagi dengan piala Husna yang tertukar” Ucapku yang membuat kami tertawa bersama.
 “Ya Habībatiy hayya muroja’ah mā’an. Tadi sudah dapat berapa juz? Sini mas semakkan.”
“Baru satu juz. Aiwa, Abiy.” Jawabku dan aku memulai muraja’ahku.

Benar. Ia adalah Muhammad Ashdaq Fillah. Seseorang yang diam-diam telah menutup hatiku. Seseorang yang seringkali terlintas dalam ujung tengadah dan sujudku. Seseorang yang diam-diam menyelipkan namaku dalam do’anya hingga menguntai anak tangga. Belum ada perjumpaan kami sebelumnya. Hanya saja, mungkin do’a kami yang seingkali bertemu di Arys. Hingga Allah menyatukan kami di dalam mihrab cinta-Nya.
 

Blogger news

Blogroll

About