Minggu, Februari 03, 2013

ANALISIS CERPEN “GUS JAKFAR” Karya A. Mustofa Bisri dengan Pendekatan Sosiologi Sastra


ANALISIS CERPEN
“GUS JAKFAR”
Karya A. Mustofa Bisri
dengan Pendekatan Sosiologi Sastra


Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sastra
Dosen Pengampu: Retno Purnama Irawati, S.S, M.A













Disusun oleh :
ROZAENAH
NIM : 2303412012


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العلمين، اشهدأن لا اله إلا الله و اشهد أن محمدا رسول الله والصلاة والسلام على أشرق الأنبياء والمرسلين محمدوعلى آله و أصحابه أجمعين، اما بعد.
            Puji syukur Alhamdulillah kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas segala curahan rahmat dan inayah-Nya akhirnya penuis berhasil menyelesaikan penulisan analis ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang revolusioner penakluk kebodohan dan kezaliman, beliau Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada umatnya cahaya kegemerlapan menuju kebenaran hakiki.
            Analisis dengan judul “Analisis Cerpen “Gus Jakfar” Karya A. Mustofa Bisri dengan Pendekatan Sosiologi Sastra” ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah Pengantar Ilmu Sastra. Namun lebih dari itu analisis ini merupakan sebuah titik kulminasi atas pembacaan penulis terhadap karya sastra, dalam hal ini dikhususkan pada cerpen “Gus Jakfar” karya A. Mustofa Bisri. Dalam proses analisis ini penulis tidak terlepas dari berbagai hambatan dan kendala, namun berkat pertolongan Allah SWT serta dukungan dan motivasi dari berbagai pihak, teman, sahabat, saudara dan orang-orang yang penuh cinta kasih akhirnya analisis ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada berbagai pihak yang terikat selama proses studi dan penulisan analisis ini.
            Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa penulisan analisis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat menerima kritik dan saran yang konstruktif, bagi kesempurnaanya analisis ini.


Semarang, 15 Desember 2012
Penyusun


ROZAENAH
NIM : 2303412012






















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................     1
DAFTAR ISI.......................................................................................................      2
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................     3
1. 1.  LATAR BELAKANG...............................................................................     3
1. 2.  LANDASAN TEORI.................................................................................     4
1. 3.  RUMUSAN MASALAH............................................................................    5
1. 4.  TUJUAN......................................................................................................    5
1. 5.  MANFAAT..................................................................................................    5
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................    6
2. 1.  Mengungkap Faktor-faktor Sosial yang  Terkandung dalam Cerpen
          “Gus Jakfar”..........................................................................................         6
2. 2  Realitas sosial Masyarakat Pesantren....................................................         7
2. 3. Hubungan antara Faktor-faktor Sosial yang Terkandung dalam
         Cerpen dan Realitas Sosial Masyarakat................................................        8
BAB III PENUTUP.............................................................................................     12
4. 1. KESIMPULAN............................................................................................    12
4. 1. SARAN.........................................................................................................     12
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................   13
LAMPIRAN..........................................................................................................    14











BAB I
PENDAHULUAN

1. 1.  LATAR BELAKANG
               Proses kreatif yang dilakukan pengarang melalui karya sastra sangat mungkin berasal dari kehidupan sosial yang dekat dengan  kehidupan si pengarang. Kehidupan sosial biasanya diatur oleh institusi sosial yang ada dalam masyarakat. Meminjam istilah Wellek dan Warren (1977:109), sastra adalah “institusi sosial yang memakai medium bahasa.” Wellek dan Warren juga menyatakan karya sastra sebagai suatu yang “menyajikan kehidupan” dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial walaupun karya sastra juga meniru “alam” dan dunia subjektif manusia. Kenyataan sosial yang disajikan dalam karya sastra biasanya mengambarkan kondisi sosial suatu masyarakat dengan jelas.
               Pengarang dalam mengungkapkan ide-idenya memilih sastra sebagai medianya. Karya sastra tersebut dapat berupa prosa, drama, atau puisi. Pengungkapan ide pengarang lewat puisi tentu akan berbeda dengan pengungkapan lewat drama. Demikian juga halnya pengungkapan dengan cerita pendek atau cerpen. Tarigan (1984:176-177), yang mengutip pendapat Ajip Rosidi, mendefinisikan cerpen sebagai “Kebetulan ide .... Dalam kesingkatan dan kepadatannya itu, sebuah cerpen adalah lengkap, bulat,dan singkat. Semua bagian dari sebuah cerpen meski terikat pada suatu kesatuan jiwa : padat, pendek, dan lengkap. Tak ada bgaian-bagian yang boleh dikatakan ‘lebih’ dan bisa dibuang.”
               Cerpen “Gus Jakfar” karya A. Mustofa Bisri merupakan cerpen yang bernafaskan Islam dengan latar budaya pesantren Jawa. Kehidupan masyarakat pesantren tersebut dapat dilihat melalui tokoh-tokoh dan latar yang mewakili dunia pesantren. Utomo (2006) juga mengemukaan adanya indikasi budaya pesantren dalam cerpen-cerpen Gus Mus.
               Melalui tokoh Gus Jakfar yang menjadi judul cerpen dalam Lukisan Kaligrafi dan tema religiusitas masyarakat pesantren Jawa yang diangkat Gus Mus dalam cerpennya, telah menghadirkan karakteristik atau warna yang berbeda dalam kesusastraan Indonesia modern. Hal ini yang mendasari penulis untuk mengambil cerpen “Gus Jakfar” sebagai bahan untuk analisis cerpen dengan pendekatan sosiologi. Selain itu masalah sosial umat Islam yang dihadirkan Gus Mus melalui cerpen “Gus Jakfar” ternyata menjadi kritik sosial terhadap masyarakat pesantren Jawa dan masyarakat Islam di Indonesia. Kritik sosial yang disampaikan Gus Mus dalam cerpen ini ditujukan kepada masyarakat pesantren Jawa dan masyarakat Islam Indonesia.

1. 2.  LANDASAN  TEORI
               Analisi ini berlandaskan pada teori sosial sastra yang menyatakan adanya hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Teori ini menyebutkan bahwa sastra merupakan cermin masyarakat. Hal ini dapat dikatakan demikian karena pengarang karya tersebut merupakan anggota atau bagian dari masyarakat. Selain itu, karya sastra yang dihasilkannya menampikan kondisi masyarakatnya.
               Wellek dan Warren (dalam Damono, 2002:3) telah membuat klasifikasi sosiologi sastra. Klasifikasi pertama adalah sosiologi pengarang yang memasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain yang menyangkut pengarang pangarang sebagai penghasil sastra. Klasifikasi kedua adalh sosiologi sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri; yang menjadipokok penelaahan adalah apa yang tersirat dalam karya sastradan apa yang menjadi tujuannya. Klasifikasi ini mengajukan pertanyaan mengenai tujuan penulisannya seperti yang tersurat di dalam karya-karya itu dalam kaitannya dengan lingkungan sosial budaya yang telah menghasilkannya (dalam Damono, 2002:3).
               Sementara itu, Ian Watt dalam sebuah artikelnya (dalam Damono, 2002:4) membicarakan hubungan timbal-balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Watt juga menyebutkan klasifikasi sosiologi sastra yang tidak banyak berbeda dengan Wellek dan Warren. Lebih lanjut, Watt menjelaskan klasifikasi “sastra sebagai sermin masyarakat.” Namun, pengertian sastra sebagai cermin masyarakat tidak selalu tepat untuk membedah sebuah karya sastra karena bisa jadi masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut tidak disuguhkan dengan teliti. Pandangan sosial pengarang tetunya masih harus diperhitungkan untuk menilai karya sastra. Akan tetapi, konsep sastra sebgai cermin atau refleksi masyarakat dapat digunakan untuk mengetahui masyarakat apa yang ditampilkan dalam sebuah karya sastra. Selain itu, mengutip pendapat Grebstein (dalam Damono, 2002:6), karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkan.

           
1. 3.  RUMUSAN MASALAH
     Beberapa masalah yang penulis kaji dalam analisis cerpen “Gus Jakfar” adalah sebagai berikut :
1)      Apa saja faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen “Gus Jakfar” ?
2)      Bagaimana realitas sosial yang ada dalam masyarakat pesantren ?
3)      Bagaimana hubungan antara faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen dan realitas sosial masyarakat pesantren ?

1. 4.  TUJUAN
        Adapun tujuan dari analisis cerpen ini adalah sebagai berikut :
1)      Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen “Gus Jakfar” .
2)      Untuk mengetahui bagaimana realitas sosial yang ada dalam masyarakat pesantren.
3)      Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen dan realitas sosial masyarakat pesantren.

1. 5.  MANFAAT
        Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain :
1)      Untuk memberikan informasi  apa saja faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen “Gus Jakfar”.
2)      Untuk memberikan informasi  bagaimana realitas sosial yang ada dalam masyarakat pesantren.
3)      Untuk memberikan informasi  bagaimana hubungan antara faktor-faktor sosial yang terkandung dalam cerpen dan realitas sosial masyarakat pesantren.









BAB II
PEMBAHASAN

2. 1.  Mengungkap Faktor-faktor Sosial yang  Terkandung dalam Cerpen “Gus
         Jakfar”
               Dalam cerpen “Gus Jakfar” dikisahkan bahwa tokoh Gus Jakfar adalah kyai yang pandai membaca tanda-tanda seseorang. Kepandaian yang dimaksud di sini bukanlah kepandaian yang diidentifikasikan sebagai peramal, dukun, atau cenayang. Ia kyai yang mempunyai kelebihan tertentu. Dikisahkan pula bahwa pada suatu hari ia pergi selama beberapa minggu, setelah ia kembali, orang-orang disekelilingnya merasa heran karena ia bersikap berubah seolah ia tidak punya keistimewaan lagi. Ia tidak lagi membaca tanda-tanda seseorang meski disuruh sekalipun. Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan akhirnya datanglah beberapa orang kerumahnya untuk menyanyakan apa penyebab dari perubahan sikapnya itu. Kyai itu pun kemudian bercerita : Bermula dari mimpi berjumpa dengan ayahnya. Sang ayah, Kyai Saleh, menyuruhnya untuk mencari Kyai Tawakkal. Ia lalu berkelana. Dan akhirnya bertemulah ia dengan Kyai Tawakkal atau Mbah Jogo. Hal ini masih bisa disebut sebagai realitas atau lebih tepatnya relitas lain yang terjadi daam kehidupan para kyai. Di sini penulis, Gus Mus, bermaksud mengungkap “potret” komunitas persekitaran, yakni kehidupan pesantren. Cerpen ini memang menampakkan karya sastra yang cenderung menganut pendekatan tradisi budaya yang berupa bentuk-bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar, seperti Hindu, Buddha, dan Islam. (Abdul Hadi WM : 1999).
Dalam cerpen ini diceritakan pula peristiwa tentang tanda pada kening kyai Tawakkal yang bertuliskan “ahli neraka”; sang kyai yang datang ke warung remang-remang; berjalan di atas permukaan air sungai; dan bisa menghilang secara tiba-tiba entah kemana. Sosok Kyai Tawakkal yang diceritakan dalam cerpen ini terkesan misterius dan menyimpan misteri. Peristiwa-peristiwa itu sepintas terlihat irasional dan sulit diterima dalam logika. Namun bagi kyai, santri atau kalangan pesantren, kisah sejenis itu kerap diyakini sebagai kebenaran yang hanya dapat dialami oleh orang-orang tertentu yang dianggap pantas mengalaminya. Kisah seperti itu berada dalam garis tipis peristiwa faktual bagi mereka yang mempercayainya, dan peristiwa irasional bagi mereka yang tidak mempercayainya. Tetapi ia tetap hidup dan diyakini sebagai fakta sosiologis dalam komunitas pesantren.
Terlepas dari kemistisan tema cerpen “Gus Jakfar” tersebut, penulis berusaha menyampaikan pesan secara langsung melalui pernyataan Kyai Tawakkal kepada Gus Jakfar. Berikut ini adalah salah saru bentuk kritik terhadap posisi kyai yang belum tentu masuk ke daalm surga.
               Sebagai kyai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke surga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang yang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karenakebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukan begitu?
               Kutipan di atas memberitahukan bahwa posisi kyai sebagai orang yang alim dan dekat dengan Allah belum menjamin untuk selamt masuk surga. Begitu pun sebaliknya, orang-orang yang berada di warung mesum tersebut belum tentu pasti masuk neraka.
              
2. 2  Realitas sosial Masyarakat Pesantren
               Masyarakat Jawa ke dalam tiga lingkungan sosial, yaitu desa, pasar, dan birokrasi pemerintahan. Lingkungan tersebut akan memunculkan varian struktur sosial, yaitu santri, abangan, dan priyayi (Geertz, 1983:6-7). Santri yang berada di lingkungan pasar merupakan kalangan muslim ortodoks; priyayi yang berada di lingkungan birokrasi pemerintah adalah kalangan bangsawan yang dipengaruhi terutama oleh tradisi Hindu-Jawa; dan abangan, masyarakat desa pemeluk animisme. Kaum santri inilah yang merupakan tipe masyarakat yang dekat dengan tradisi Islam tradisional dan lingkungan pesantren.
               Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Ia seringkali bahkan merupakan pendirinya. Menurut asal-usulnya, perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar (Dhofier, 1982:55). Gelar pertama sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; gelar kedua merupakan gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya; dan gelar terakhir adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya (Dhofier, 1982:55). Dalam masyarakat tradisional, kyai memiliki kesan sebagai orang yang luar biasa yang memiliki kelebihan-kelebihan spiritual seperti karamah (orang yang memiliki keutamaan budi dan kharisma) dari Allah untuk para pengikutnya.
               Dalam istilah kekerabatan kyai di daerah Jawa Timur, istri-istri kyai diberi gelar ‘nyai,’ sedangkan putra-putra kyai diberi gelar ‘gus,’  yang berasal dari kata “si bagus”. Seorang kyai selalu mengharapkan ‘gus-gus’ tersebut menggantikan peran ayahnya sebagai pimpinan pesantren di masa mendatang.
               Mitisme islam atau sufisme merupakan hal yang berhubungan dengan pesantren. Tradisi pesantren adalah tradisi yanga bernafaskan sufistik dan ubudiyah (Bruinessen, 1995:20). Banyak kyai yang berafiliasi dengan tarekat dan mengajarkan kepada pengikutnya ibadah dan amalan sufistik yang khas.

2. 3.  Hubungan antara Faktor-faktor Sosial yang Terkandung dalam Cerpen dan
         Realitas Sosial Masyarakat
               Kehadiran Gus Mus lewat cerpen-cerpennya itu sesungguhnya makin menegaskan, bahwa realitas spiritual masyarakat kita memang bergerak di antara rasionalitas dan irasionalitas; antara logika formal dan logika spiritual; antara dunia yang kasat mata dan dunia gaib. Dalam cerpen-cerpen Gus Mus itu, yang terungkapkan adalah “potret” komunitas persekitaran. Jadi, begitulah, hakikatnya, cerpen-cerpen Gus Mus merepresentasikan realitas masyarakat (Islam—pesantren) yang hidup dengan segala sistem kepercayaannya. Di luar perkara itu, suasana kehidupan kiai dengan berbagai persoalannya, setelah sekian lama tak terdengar kini seolah-olah sengaja dihadirkan kembali dengan pertanyaan besar: di manakah peranan para kiai hendak ditempatkan ketika zaman telah berubah dan kehidupan politik ikut mempengaruhi perilaku masyarakat. Dengan begitu, dilihat dari perjalanan cerpen Indonesia, kehadiran cerpen-cerpen Gus Mus, tentu saja tidak sekadar memperkaya tema cerpen kita, tetapi juga seperti menawarkan pandangan baru tentang terjadinya pergeseran peran kiai.
Gus Mus boleh jadi  sekadar berpretensi menggambarkan terjadinya pergeseran peran kiai. Atau, sangat mungkin ia sekadar menulis cerpen sambil menyentil ke sana ke mari. Tetapi di situlah fungsi sastra. Ia mengungkapkan problem individual yang maknanya sering kali bersifat universal. Faktor kebetulan yang dalam pemikiran strukturalisme kerap dimasalahkan  ketika hubungan kausalitas terkesan dipaksakan, dalam cerpen-cerpen Gus Mus justru menjadi bagian penting jika dikaitkan dengan perkara keyakinan. Maka, faktor kebetulan yang dalam  pemikiran strukturalisme ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian peristiwa, dalam cerpen-cerpen Gus Mus malah menjadi bagian dari tema cerita. Di sinilah pentingnya teks tidak dilepaskan dari konteksnya, dari kultur yang mendekam di belakang yang tersurat dalam teks. Dengan pemahaman itu, faktor kebetulan  punya dasar kultural, bahkan ideologis. Bukankah faktor kebetulan itu diyakini masih berada dalam  lingkaran campur tangan Tuhan?
               Dalam kehidupan masyarakat biasa atau masyarakat yang belum paham dengan masyarakat pesantren tentu kisah “Gus Jakfar” terkesan mustahil atau irasional, namun dalam kehidupan para aulia, perkara itu bukanlah sesuatu yang mustahil, bukan pula kisah supernatural, tetapi sesuatu yang niscaya ketika dikaitkan dengan kehendak Tuhan. Inilah yang disebut dengan ajaran-ajaran mistisme Islam (sufisme). Selain itu, jama’ah yang dipimpin Kyai Tawakkal dalam cerpen “Gus Jakfar” juga mencerminkan sebuah kelompok tarekat. Mitisme Islam (sufisme) merupakan hal yang menjadi ciri khas dari cerpen-cerpen A. Mustofa Bisri, salah satunya yaitu cerpen “Gus Jakfar”. Perilaku mitisme Islam (tasawuf) dalam cerpen A. Mustofa Bisri memang menghadirkan kisah-kisah yang irasional atau hal yang gaib. Hal ini sesuai dengan kutipan sebagai berikut.
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, “Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi ‘Ahli neraka’. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila.”
“Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampaidi sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar.
Salah satu bentuk kritik terhadap perilaku mistisme Islam (sufisme) dapat ditemukan dalam cerepen “Gus Jakfar”. Kyai Tawakkal memberikan petunjuknya kepada Gus Jakfar entang hakikat ilmu kasyaf. Hakikat tentang ilmu kasyaf yang diberikan Kyai Tawakkal telah membuat Gus Jakfar mencapai atau menemukan kebenaran.
‘Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda ‘Ahli neraka’ di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’
               Petunjuk yang diberian Kyai Tawakkal merupakan bentuk kritik ilmu kasyaf yang merupakan bagian dari perilaku mitisme Islam (sufisme). Kritikan tersebut menyampaikan bahwa kebenaran tentang surga dan nerakan merupakan milik Tuhan, bukan milik manusia.
               Gus Jakafar yang memiliki ilmu kasyaf telah membuat jamaah pengajiannya resah. Para jamaah yang mengaji takut kalau tanda pada tubuh mereka akan dibacaoleg Gus Jakfar pada saat pengajian. Kritikan lain terhadap ilmu kasyaf yang dimiliki Gus Jakfar dapat dilihat melalui percakapan Ustadz Kamil dan Pak Carik setelah Gus Jakfar kembali dari pengembaraannya.
“Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya,” ujar Ustadz Kamil, “paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.”
Kutipan di atas merupakan reaksi atas ilmu kasyaf  yang dimiliki Gus Jakfar. Para jamaahnya bisa dengan tenang mengikuti pegajian etelah Gus Jakfar tidak memakai ilmu kasyafnya lagi. Kritik terhadap ilmu kasyaf ini dapat dikatakan sebagai bentuk kesalehan spiritual yang tidak boleh dipamerkan kepada orang lain. Apabila dipamerkan, maka akan ada rasa takabur dan sombong di hati orang yang memiliki ilmu tersebut –seperti pesan Kyai Tawakkal kepada Gus Jakfar-. Setidaknya, itulah yang ingin disampaikan Gus Mus dalam cerpen “Gus Jakfar” ini.

























BAB III
PENUTUP

4. 1.  KESIMPUAN
               Cerpen “Gus Jakfar” ini bisa jadi merupakan sebuah sarana untuk berdakwah karena posisi A. Ustofa Bisri yang juga merupakan seorang kyai. Hal ini dapat diketahui melalui kritik yang paling dominan ditemukan dalam cerpen ini, yaitu kritik terhadap perilaku umat Islam. Dalam cerpen ini A. Mustofa Bisri seakan menyampaikan dan mengingatkan umat Islam di pesantren agar berperilaku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
               Kritik sosial yang disampaikan A. Mustofa Bisri dalam cerpen-cerpennya mungkin hanyalah seperti “lebah tanpa sengat” seperti yang diungkapkan Sapardi Djoko Damono. Atau seperti “balsem”, masyarakat yang membaca cerpen ini akan “panas”, kemudian “panas” tersebut hilang perlahan-lahan. Walau demikian, kritik-kritik tersebut tetap merupakan usaha sastrawan untuk sastrawan untuk menegur dan “menyentil” ketidakberesan yang sedang terjadi di masyarakat.

4. 2.  SARAN
               Dalam penulisan analisis ini, penulis beranggapan bahwa untuk menganalisis sebuah karya, dalam hal ini penulis khususkan cerpen perlu dilakukan pengkajian karya tersebut dengan lebih dalam agar analisis selanjutnya dapat lebih baik.
               Menurut penulis, perlu ditelusuri lebih lanjut mengenai mitisme islam (sufisme), dan kritik sosial dalam cerpen ini. Selain itu cerpen ini perlu juga dikaji melalui metode dan pendekatan yang lain.
               Dengan saran  ini, penulis harapkan semoga  penulisan analisis selanjutnya dapat lebih baik ataupun melengkapi kekurangan penulisan analisis sebelumnya.





DAFTAR PUSTAKA

Abdalla, Ulil Abshar. 2002. “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam,” Kompas, 18
               November.
Akhyadi, Moh. 2001. “Pesantren, Kyai, dan Tarekat: Studi tentang Peranan Kyai di
               Pesantren dan Tarekat” dalam Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan
               Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Abuddin Naata, ed. Jakarta:
               Grasindo.
Bisri, A. Mustofa. 2003. Lukisan Kaligrafi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Bruinessen, Martin van. 1995. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Bandung: Mizan.
Damono, Sapardi Djoko. 1983. “Kritik Sosial dalam Sastra Indonesia: Lebah Tanpa
               Sengat” dalam Kesusastraan Indonesia Modern, Beberapa Catatan. Jakarta: PT
               Gramedia.
                                       .  2002. Pedoman Penelitian Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.
Dhofier, Zamakhsyari. 1982. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai.
               Jakarta: LP3ES.
Geertz, Clifford. 1983. Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa. terj.
               Aswab Mahasin. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Wafi, Nasrul. Biografi KH Achmad Mustofa Bisri” http://lococopyright.blogspot.com/tokoh.









LAMPIRAN

Biografi A. Mustofa Bisri

Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), kini pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang. Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo di samping di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa, Raudlatuth Thalibin Rembang.
Menikah dengan St. Fatma, dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan : Ienas Tsuroiya, Kutsar Uzmut, Raudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada dan Almas serta seorang anak laki-laki: Muhammad Bisri Mustofa. Kini beliau telah memiliki 5 (lima) orang menantu: Ulil Abshar Abdalla, Reza Shafi Habibi, Ahmad Sampton, Wahyu Salvana, dan Fadel Irawan serta 7 (tujuh) orang cucu: Ektada Bennabi Muhammad; Ektada Bilhadi Muhammad; Muhammad Ravi Hamadah, Muhammad Raqie Haidarah Habibi; Muhammad Najie Ukasyah, Ahmad Naqie Usamah; dan Samih Wahyu Maulana.
Selain sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga dikenal sebagai budayawan dan penulis produktif.
v  Menulis kolom, esai, cerpen, puisi di berbagai media massa, seperti:
Intisari; Ummat; Amanah;Ulumul Qur’an; Panji Masyarakat; Horison; Jawa Pos; Republika; Media Indonesia; Tempo; Forum; Kompas; Suara Merdeka; Kedaulatan Rakyat; Detak; Wawasan; Bali Pos; Dumas.
v  Sejumlah karya yang telah diterbitkan:
ü  Ensiklopedi Ijmak (Terjemahan bersama KHM Ahmad Sahal Mahfudz, Pustaka Firdaus, Jakarta);
ü   Proses Kebahagiaan (Sarana Sukses, Surabaya);
ü  Awas Manusia dan Nyamuk Yang Perkasa (Gubahan Cerita anak-anak, Gaya Favorit Press, Jakarta);
ü  Maha Kiai Hasyim Asy’ari (Terjemahan, Kurnia Kalam Semesta, Jogjakarta);
ü  Syair Asmaul Husna (Bahasa Jawa, Cet. I Al-Huda, Temanggung; Cet. II 2007, MataAir Publishing);
ü  Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-esai Moral (Mizan, Bandung);
ü  Pesan Islam Sehari-hari, Ritus Dzikir dan Gempita Ummat (Cet. II 1999, Risalah Gusti, Surabaya);
ü  Al-Muna, Terjemahan Syair Asma’ul Husna (Al-Miftah, / MataAir Publishing Surabaya);
ü   Mutiara-mutiara Benjol (Cet. II 2004 MataAir Publishing, Surabaya);
ü  Fikih Keseharian Gus Mus (Cet. I Juni 1997 Yayasan Al-Ibriz bejerhasana dengan Penerbit Al-Miftah Surabaya; Cet. II April 2005, Cet. III Januari 2006, Khalista, Surabaya bekerjasama dengan Komunitas Mata Air);
ü  Canda nabi & Tawa Sufi (Cet. I Juli 2002, cet. II November 2002, Penerbit Hikmah, Bandung);
ü   Melihat Diri Sendiri (Gama Media, Jogjakarta);
ü  Kompensasi (Cet. I 2007, MataAir Publishing, Surabaya).
v  Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian seperti Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia dan buku kumpulan cerpennya, Lukisan Kaligrafi (Penerbit Buku Kompas, Jakarta) mendapat anugerah dari Majlis Sastra Asia Tenggara tahun 2005.
v   Disamping puisi-puisi yang diterbitkan dalam berbagai Antologi bersama rekan-rekan Penyair (seperti dalam “Horison Sastra Indonesia, Buku Puisi”; “Horison Edisi Khusus Puisi Internasional 2002”; “Takbir Para Penyair”; “Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air”; Ketika Kata Ketika Warna”; “Antologi Puisi Jawa Tengah”; dll), kumpulan-kumpulan puisi yang sudah terbit :
ü  Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Cet. I Stensilan 1988; Cet. II P3M Jakarta 1990; Cet. III 1991, Pustaka Firdaus, Jakarta);
ü  Tadarus (Cet. Pertama 1993 Prima Pustaka, Jogjakarta);
ü   Pahlawan dan Tikus (Cet. I 1995, Pustaka Firdaus, Jakarta);
ü  Rubaiyat Angin & Rumput (Diterbitkan atas kerja sama Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, Jakart, Tanpa Tahun);
ü   Wekwekwek (Cet. I 1996 Risalah Gusti, Surabaya);
ü   Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta, Tanpa tahun);
ü   Negeri Daging (Cet. I. September 2002, Bentang, Jogjakarta);
ü   Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Cet.I Yayasan Al-Ibriz 2000, cet. II, 2007 MataAir Publishing, Surabaya);
ü   Aku Manusia (MataAir Publishing, 2007, Surabaya);
ü   Syi'iran Asmaul Husnaa (Cet. II MataAir Publishing, 2007,Surabaya);
ü   Membuka Pintu Langit (Penerbit Buku Kompas, Jakarta November 2007) .
v  Kegiatan Pameran:
ü  Pameran tunggal 99 Lukisan Amplop Desember 1997 di Gedung Pameran Senirupa Depdikbud Jakarta.
ü   Pameran bersama Amang Rahman (Alm) dan D. Zawawi Imron Juli 2000 di Surabaya.
ü  Pameran Lukisan dan Pembacaan Puisi bersama Danarto, Amang Rahman (Alm), D. Zawawi Imron, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor.. November 2000 di Jakarta.
ü   Pameran Kaos Kaligrafi, Mei 2001 di Surabaya.
ü  Pameran Kaos Kaligrafi, Agustus 2001 di Jakarta.
ü  Pameran Lukisan bersama kawan-kawan pelukis antara lain Joko Pekik, Danarto, Acep Zamzam Noor, D. Zawawi Imron, dll, Maret 2003.
ü  Pameran bersama dalam rangka Jambore Seni, Juli 2006.
ü  Pameran Kaligrafi Bersama, Jogya Galery, 2007.

4 komentar:

  1. heeee...tugas PIS anti pake yang ini apa yang Granada? anti keren bgd si... ana salut sama anti.

    BalasHapus
  2. permisi ya boleh saya jadikan contoh ya makalahnya...

    BalasHapus
  3. Ma waxaad tahay qof u baahan in si amaah ah oo degdeg ah si ay u bixiso biilasha, ballaarinta ganacsiga, meydadka shirkadaha ama amaah shakhsi? Nala soo xidhiidh maanta si aad u hufan oo amaah kalsoon soomi maanta via email: elenanino07@gmail.com

    Salaan
    Mrs. Elena

    BalasHapus
  4. ijin copas nggeh. maturswun

    BalasHapus

 

Blogger news

Blogroll

About